DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 77


__ADS_3

Di sepanjang jalan, Alya sebenarnya memikirkan Arsen juga, dia tahu Arsen tidak mungkin bisa bertahan jika di suruh naik angkutan umum, dan Alya pun tahu kalau Arsen tidak sebodoh itu, dia pasti akan menghubungi seseorang untuk menjemputnya.


Drrtt,, drrttt.. tiba-tiba saja Alya mendengar suara getaran ponsel yang entah berasal dari mana, ponselnya ada di dalam tas dan sama sekali tidak bergetar membuat Alya menepikan mobilnya di pinggir jalan.


Alya pun mulai mencari dari mana ponsel itu bergetar, awalnya dia mengira kalau itu adalah ponsel anak-anaknya, tapi Alya juga baru ingat kalau sekolah anak-anaknya tidak di ijinkan membawa ponsel.


“Terus ponsel siapa ya yang dari tadi geter?” gumam Alya yang saat ini sudah tidak bergetar lagi.


Sampai akhirnya ponsel itu kembali bergetar dan akhirnya Alya bisa menemukan di mana ponsel itu berada, dan ternya itu adalah ponsel milik Arsen yang jatuh di sela-sela kursi mobil.


“Ini kan hp Arsen? Kenapa bisa ada di sini?” gumam Alya.


Lalu seketika Alya kembali terkejut saat menyadari kalau ponsel Arsen tertinggal.


“Loh terus Arsen gimana pulangnya? Emang dia tau harus naik angkot nomer berapa? Aduh orang itu ada-ada aja sih!” gumam Alya yang segera memutar balikkan mobilnya kembali ke jalan menuju sekolah anak-anaknya.

__ADS_1


Di sepanjang jalan, Alya hanya bisa mengutuki kebodohan suaminya, bisa-bisanya dia meninggalkan ponselnya yang sangat penting, dan sepertinya tadi juga ada telfon dari salah satu kliennya.


Namun Alya tidak berani mengangkatnya karena itu adalah privasi untuk Arsen, tapi Alya yakin kalau itu adalah telfon yang penting.


Setibanya di sekolah, Alya meneliti sekeliling namun tidak terlihat Arsen sama sekali di sana.


“Ke mana dia? Jangan-jangan dia sudah pulang?” gumam Alya.


“Tapi tidak mungkin, Arsen tidak bisa naik angkot, jadi dia tidak mungkin pulang sendiri begitu saja.” Lanjutnya.


Sampai akhirnya kedua mata Alya tertuju kepada laki-laki yang sangat dia kenal, laki-laki yang saat ini sedang tertawa bersama orang-orang yang ada di warung kopi, Alya bisa melihat bagaimana Arsen tertawa lepas dan merasa nyaman di tengah-tengah mereka.


“Apa aku biarkan saja dia di sini?” gumam Alya.


Alya terus berpikir keras, terutama saat menyadari kalau Arsen bisa dengan mudahnya nyaman berada di tempat itu tentu saja membuat Alya lebih tenang dan memutuskan untuk meninggalkan Arsen dan dia akan meneruskan perjalanannya menuju butik tanpa harus mengkhawatirkan Arsen.

__ADS_1


***


Bel sekolah pun berbunyi dengan lantang menandakan kalau jam sekolah sudah berakhir dan sekarang sudah waktunya anak-anak sekolah pulang.


Satu per satu anak-anak sekolah sudah mulai keluar dari gerbang sekolah, namun sangking asiknya berbicara dengan kenalan barunya, Arsen sama sekali tidak mendengar bel berbunyi.


May dan Jay sudah keluar dari gerbang sekolah, keduanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mamanya, namun bukan mamanya yang dia temukan, melainkan papanya yang sedang tertawa ngakak bersama para bapak-bapak yang lain.


"Jay, itu beneran papa kita yang kita kenal?" tanya May.


"Hem, tapi sepertinya dia salah minum obat sampe ketawa sebesar itu." balas Jay yang di balas tawa oleh May.


"Tapi Jay, kalo papa di sini terus kemana mobil mama? Kenapa mama ga ada di sini? Biasanya mama on time."


"Iya juga ya, ga mungkin kan dia nungguin kita dari tadi pagi?" tanya Jay.

__ADS_1


"Masa iya? Dari tadi ngapain aja papa? Emang ga bosen?" balas May.


"Ya mana aku tau! Kamu nanya ke aku terus aku tanya siapa?" ketus Jay yang kesal karena kembarannya itu terus mengoceh.


__ADS_2