DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 40


__ADS_3

Hari pun sudah mulai gelap, tiga koki andalan Arsen pun mulai memasak makanan untuk makan malam. Bahkan Alya yang selaku tuan rumah ikut membantu koki itu menyiapkan makan malam untuk para karyawan suaminya.


“Nona, sebaiknya nona istirahat saja, ini semua adalah tugas kami.” Ucap kepala koki.


“Tidak apa-apa chef, aku bosan sekali karena tidak punya kerjaan, lagi pula aku biasa kok memasak, suamiku sangat menyukai rasa masakanku loh chef.” Ucap Alya menyombongkan dirinya dengan senang hati.


Ketiga koki itu tersenyum mendengar ucapan Alya yang sepertinya sangat senang karena suaminya menyukai masakannya.


“Nona senang sekali tuan Arsen menyukai masakan nona ya.” Ucap kepala koki.


“Tentu saja, tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi seorang istri selain pujian dari suaminya, apa lagi kalau kita sudah bekerja keras.” Balas Alya.


“Nona benar, sama seperti kami yang sangat senang saat para pelanggan menyukai masakan kami.” Ucap koki tersebut.


“Iya kan? Rasanya benar-benar mendebarkan bukan?” ucap Alya yang di balas anggukan oleh para koki.


Alya kembali membantu para koki untuk memasak, dia memotong sedikit demi sedikit sayuran, namun karena sangking semangatnya Alya tidak sengaja menggores jadi telunjuknya hingga berdarah.


“Ak!” teriak Alya dengan suara yang sangat kecil agar tidak terdengar orang lain.


Namun usahanya sia-sia, suara kecilnya itu berhasil membuat para koki menoleh ke arahnya dan terkejut saat melihat darah sudah mengalir dari jari Alya.


“Nona! Darah!” teriak kepala koki yang langsung membuat Arsenio yang sedang membicarakan pekerjaan bersama Ferdi dan Daisy di meja yang ada di dekat tempat memasak langsung menoleh ke asal suara.


Matanya melotot saat melihat jari Alya yang sudah mengeluarkan darah dan segera berlari mendekati Alya dan langsung memegang tangan Alya.


“Kenapa bisa seperti ini?! Apa kalian bertiga tidak memperhatikan istriku!?” ucap Arsenio dengan nada yang tinggi.


Ketiga koki itu langsung menundukkan kepala dengan rasa bersalah, mereka hanya bisa meminta maaf kepada Arsenio dan Alya terus menerus.


“Yaampun jangan berlebihan Arsen, aku tidak apa-apa kok lukanya juga ga besar.” Ucap Alya sambil menarik tangannya dari genggaman Arsen.

__ADS_1


“Ayo kita ke rumah sakit!” ajak Arsenio.


“Tidak perlu Arsen, kenapa harus ke rumah sakit hanya karena luka seperti ini? Aku sudah biasa mengalami luka seperti ini dan tidak ada masalah karena barang yang di pakai juga sangat bersih.” Jelas Alya.


Alya segera menyalakan keran air di wastafel lalu membasuh lukanya dengan hati-hati sampai benar-benar bersih, bahkan Alya juga sengaja menekan pinggiran lukanya agar darahnya keluar.


Arsenio dan yang lain terkejut melihat apa yang di lakukan Alya, Alya sama sekali tidak merasa perih saat lukanya terkena air, dia bahkan menekan lukanya dan mengelapnya dengan tisu sampai benar-benar kering lalu membalutnya dengan plester yang dia bawa di tas kecilnya.


“Lihat kan? Sudah teratasi, jadi jangan marah sama para koki yang tidak tahu apa-apa, mereka kan sedang fokus mengerjakan tugas mereka, aku saja yang kurang hati-hati tadi.” Ucap Alya sambil menunjukkan jari telunjuknya yang sudah terbalut plester.


“Apa kamu sudah mengira kalau kamu akan terluka? Kenapa ada plester di tasmu?” tanya Arsenio.


“Aku selalu membawa ini karena aku tau aku memang sedikit ceroboh dan aku bisa terluka di manapun, jadi aku membawa plester dan obat merah untuk berjaga-jaga.” Jelas Alya.


“Apa kamu selalu seperti ini? Apa tidak bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik?” ketus Arsenio.


“Walaupun aku bisa menjaga diriku sendiri, aku juga tetap harus membawa dua benda itu, sedia payung sebelum hujan tidak ada salahnya kan?” ucap Alya.


Mendengar ucapan Alya membuat Arsenio kesal namun dia tidak bisa marah kepada istrinya itu karena wajah polosnya dan senyum manisnya membuat Arsenio gemas dan ingin menggigit pipi dan bibirnya.


“Tapi..”


“Ga ada tapi-tapian Al! Ayo duduk.” Tegas Arsenio yang tidak bisa di tolak oleh Alya.


Dia juga tidak ingin kehadirannya malah mengganggu kerja para koki, apa lagi tadi mereka sudah di marahi karena kesalahannya.


“Baiklah, kamu ke sana duluan aja aku nanti akan menyusul.” Ucap Alya yang di balas anggukan oleh Arsenio lalu laki-laki itu berjalan kembali ke tempat duduknya tadi.


Alya lebih dulu meminta maaf kepada para koki yang ada di sana karena dirinya mereka jadi di marahi oleh Arsenio.


“Tidak perlu meminta maaf nona, kami lah yang seharusnya meminta maaf karena tidak menjaga anda dengan baik.”

__ADS_1


“Tidak usah merasa bersalah, aku bukan bayi yang harus di jaga, kalian juga ada di sini bukan untuk menjagaku, kalian di sini bertugas untuk memasak.” Ucap Alya.


“Aku akan duduk di sana agar tidak mengganggu kerja kalian, semangat ya.” Lanjut Alya lalu dia berjalan ke arah Arsenio dan yang lain.


Melihat Alya sudah pergi, salah satu koki yang paling muda langsung berbisik.


“Non Alya sangat baik ya, cantik, pintar masak juga, udah paket lengkap itu.” Ucapnya.


“Iya kamu benar, beruntung sekali tuan Arsen.” Balas koki satunya.


“Hust! Jangan membicarakan istri orang lain, apa lagi non Alya adalah istri tuan Arsen, kamu bisa di gantung kalau sampai ketahuan membicarakannya.” Tegur kepala koki.


Akhirnya mereka diam tidak mengatakan apa-apa lagi dan mulai melanjutkan kegiatan masak mereka.


Tepat saat semua masakan sudah matang, para karyawan datang bergerombol ke meja makan yang bertema outdoor itu, dan kebetulan juga pembicaraan Arsen, Ferdi dan Daisy sudah selesai.


Para koki menyusun makanan di atas meja dengan sangat rapih dan tertata, Alya yang awalnya mau membantu langsung mematung seketika dan kembali duduk saat melihat Arsen sudah melotot ke arahnya sambil berdehem.


Jadilah Alya saat itu hanya menjadi patung sambil melihat ke kanan dan ke kiri mengikuti para koki yang menata meja makan.


Karena mereka sedang ada di Indonesia, jadi Alya menyuruh para koki untuk memasak makanan khas Indonesia agar para bule itu bisa mengenal rasa masakan Indonesia.


Tentu saja, sama seperti ekspresi yang di berikan Arsen dan keluarganya saat pertama kali melihat masakan Indonesia, para karyawan juga berekspresi aneh dan bertanya-tanya saat melihat makanan yang tersaji di atas meja makan.


Walaupun begitu, mereka semua tidak ada yang berani bertanya sama sekali, mungkin mereka takut karena ada Arsen di sana.


Tapi Alya yang sangat peka itu langsung menyuruh kepala koki untuk menjelaskan satu per satu menu makanan yang mereka masak agar semua karyawan tidak bertanya-tanya lagi.


Mulailah kepala koki menjelaskan menu dan bahan pokok yang ada di satu per satu menu makanan itu agar semua orang mengerti sampai ke dalam-dalam. Semua orang yang ada di sana pun dengan serius mendengarkan penjelasan kepala koki tersebut membuat Alya tersenyum senang karena hal itu.


Setelah menjelaskan dan semua orang mengerti, barulah acara makan malam pun di mulai. Mereka mulai menyicipi satu per satu masakan yang ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Alya sudah bisa menebak dari ekspresi mereka, walaupun awalnya merasa aneh tapi semua orang terlihat sangat menyukai masakan itu dan mulai menyantapnya dengan lahap.


Tidak lupa Alya juga memeriksa suaminya apakah suaminya makan dengan baik, dan ternyata tidak perlu di cemaskan lagi karena Arsen sudah makan lebih dulu sebelum kepala koki selesai menjelaskan menu masakannya.


__ADS_2