
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun pun berganti sampai akhirnya lima belas tahun sudah berlalu, namun Arsen masih belum juga menemukan Alya.
Bahkan sampai saat ini Ferdinand masih belum menemukan Bella yang di cari oleh Arsen.
"Come on Arsen, bisa ga lo berhenti aja cari cewek yang namanya Bella? Udah ratusan Bella yang kita cari, tapi ga ada yang cocok sama lo." ucap Ferdinand.
Ya, memang Arsen sudah melihat biodata dan ciri-ciri fisik para wanita yang bernama Bella, namun tidak ada satu pun yang sesuai dengan Bella yang di cari Arsen.
"Aku masih belum menemukan dia, aku harus cari Fer, namanya Bella dan salah satunya pasti Alya." balas Arsen dengan yakin.
"Tapi kita tahu wajahnya cewek waktu itu aja engga Sen, gimana lo tau kali cewek itu Alya?" tanya Ferdinand.
"Pokoknya gue yakin banget kalo cewek itu pasti Alya! Lo gimana sih, ga perlu liat biodatanya, kalo lo nemuin cewek yang namanya Bella tanpa ada fotonya, berarti dia Alya gue!" Tegas Arsen.
Ferdinand yang mendengar ucapan Arsen hanya bisa menghela napas panjang lalu dia kembali melihat amplop yang baru datang, namun bukan amplop berisi uang atau dokumen kantor, melainkan amplop yang berisi biodata wanita-wanita yang bernama Bella.
"Ini adalah data dari indonesia dan ini yang terakhir dan yang paling banyak karena di Indonesia ada banyak sekali orang yang bernama Bella." ucap Ferdinand sambil menunjukkan amplop yang ada di tangannya.
Ferdinand mulai membuka dokumen itu dan membaca semua biodata bersama dengan Arsen yang tidak sabar dan akhirnya dia pun ikut memeriksa dokumen itu.
"Aku sudah menemukannya!" ucap Arsen seketika membuat Ferdinand terpaku lalu menghela napas lega.
"Finally!" ucap Ferdinand yang langsung menaruh kertas yang saat ini dia pegang.
Ferdinand pun langsung berpindah duduk di sebelah Arsen karena dia juga ingin melihat apa yang di temukan oleh atasannya itu.
"Apa yang lo temuin?" tanya Ferdinand sambil kepalanya mendekat ke arah kertas yang di pegang Arsen.
"Alya." balas Arsen yang langsung berdiri dan melempar selembar kertas itu ke pada Ferdinand lalu dia segera berjalan menuju pintu ruangannya.
"Sen, lo mau ke mana?" tanya Ferdinand dengan suara yang sedikit berteriak karena Arsen sudah berjalan menjauh.
"Ke mana lagi, ya ke Indonesia! Cepat siapkan pesawat!" tegas Arsen.
__ADS_1
"Tapi Sen..."
"Tapi apa lagi sih Fer?" tanya Arsen yang kesal dan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menata tajam ke arah Ferdinand.
"Pesawat pribadi lo di pake sama aunty Chyntia." ucap Ferdinand.
"Ya kan masih ada pesawat keluarga Fer, kita pakai itu lah!" balas Arsen.
"Pesawat keluarga di pakai Lucas entah kemana, mungkin membawa wanitanya jalan-jalan." sahut Ferdinand yang membuat Arsen berdecak kesal.
"Laki-laki itu! Dia mengaku kalau dia adalah orang kaya, padahal yang dia pakai adalah pesawat keluarga." gerutu Arsen.
"Biarlah, dia kan memang begitu, dari pada membeli pesawat lebih baik uangnya di gunakan untuk membayar jasa para wanita malam." balas Ferdinand.
"Sudah lima belas tahun, lo ga mau nikah Fer?" tanya Arsen tiba-tiba yang membuat Ferdinand terkejut.
"Kenapa lo tanya kayak gitu tiba-tiba?" tanya Ferdinand.
"Ya lo kenapa ga nikah-nikah, umur lo udah tua tapi masih belum nikah aja lo, pacar aja ga punya."
"Oh jadi lo nyalahin gue? Ga usah sok nyalahin gue deh, lo kan suka sama Daisy, kenapa ga gercep aja sih, dia tuh perempuan, ntar lagi di ambil orang kalo lo ngulur waktu terus." ucap Arsen.
"Apaan sih lo! Daisy mah bukan tipe gue." balas Ferdinand.
Tanpa sadar, ternyata di luar ruangan Arsen, sudah ada Daisy yang berdiri dan tanpa sengaja mendengarkan semua yang di katakan oleh Ferdinand.
Padahal selama ini Daisy sudah menaruh hati kepada Ferdinand dan dia memang sengaja munggu Ferdinand untuk mengungkapkan perasaannya karena Daisy yakin selama ini Ferdinand juga tertarik kepadanya.
Namun saat ini Daisy bisa mendengar dengan telinganya sendiri kalau ternyata dia bukanlah wanita yang di inginkan Ferdinand.
"Awas aja lo nyesel setelah kehilangan dia, sama kayak gue saat ini yang nyesel setelah kehilangan Alya." ucap Arsen.
Ferdinand hanya diam saja, dia tidak membalas ucapan Arsen sama sekali.
__ADS_1
Ferdinand hanya memberi kode kepada Arsen agar dia terus berjalan keluar dari ruangan tanpa membicarakan dirinya lagi.
***
"May, Jay, apa yang dari tadi kalian lakukan di atas sana?" teriak Bella dari dapur.
Saat ini Bella sudah merenovasi rumah yang di berikan oleh Liam menjadi lantai dua untuk kamar anak-anaknya.
Liam pun tidak mempermasalahkan hal itu, karena sebenarnya Liam memang memberikan rumah itu kepada Bella karena sudah mau berteman dengannya selama lima belas tahun ini.
Liam sudah memiliki tunangan saat ini dan akan segera menikah beberapa bulan lagi, sebenarnya Liam memiliki perasaan kepada Bella, hanya saja dia sadar kalau hati Bella sudah tertutup rapat untuk siapa pun.
Liam tahu kalau sebenarnya Bella masih mencintai Arsen, hanya saja wanita itu selalu berpura-pura tidak menyukai mantan suaminya itu.
Ya, mantan suami karena setelah satu tahun Bella sudah menandatangani surat perceraian dan mengirimnya kepada Arsen tentu saja tanpa menyantumkan alamat tempat tinggalnya.
Alya sengaja menyuruh pengacara Liam untuk mengirim surat itu dari negara lain, itulah kenapa Arsen mencari wanita yang bernama Bella di negara di mana dokumen perceraian itu di kirim.
Semenjak itulah sebenarnya Arsen menjadi murka dan marah kepada Alya, hanya saja dia tidak menandatangani berkas itu sampai saat ini karena tidak ada wanita lain yang bisa mengisi hatinya selain Alya.
Sedangkan di atas di kamar Jay, May dan Jay sedang sibuk dengan komputer Jayden, May dan Jay sudah sangat menguasai komputer sejak usia mereka sepuluh tahun, dan semenjak itu pula mereka berdua mulai mencari keberadaan papa mereka.
"Jay, mama udah manggil ayo kita turun aja." bisik Mayden.
"Sebentar lagi May, aku sudah menunggu waktu yang sangat lama untuk hal ini, sebentar lagi datanya terdownload dan kita akan mengetahui kehidupan mama dan siapa papa kita." balas Jayden.
"Tidak bisa kah kita percaya saja kalau papa kita adalah papa Liam? Papa Liam juga sangat baik pada kita dan mama kok." balas Mayden.
"May! Papa Liam memang baik, tapi tidak bisa membuat mama bahagia dan lagi pula papa Liam akan menikah sebentar lagi, dan dia tidak akan bisa selamanya menjaga kita bertiga lagi." Balas Jayden.
"Tapi mama nanti marah kalau sampe tahu kita mencari tahu tentang papa." Ucap Mayden.
"Ga akan, kalo sampe papa bisa yakinin mama biar mama ga marah lagi." balas Jayden.
__ADS_1
"Terserah kamu deh Jay, aku turun duluan aja biar mama ga curiga." ucap Mayden yang langsung keluar dari kamar Jayden.