
Setelah kecanggungan di rasakan selama di dalam mobil, akhirnya Alya, Arsen dan kedua anak mereka tiba di halaman rumah Alya, begitu mobil terparkir di tempatnya, mereka berempat segera turun dari mobil.
“Anak-anak, kalian masuk!” perintah Alya yang langsung di turuti oleh kedua anak mereka.
Begitu juga dengan Arsen yang dengan santainya berjalan di belakang kedua anak mereka membuat Alya memicingkan matanya.
“Hei! Apa yang kamu lakukan?” tanya Alya hingga membuat Arsen menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alya.
“Apa memangnya yang aku lakukan? Aku hanya berjalan masuk.” Balas Arsen.
“Ya aku tahu, tapi kenapa kamu berjalan masuk ke dalam rumahku? Kamu kan memiliki rumahmu sendiri.” Ketus Alya.
“Aku kan pulang di tempat istri dan anak-anakku berada.” Balas Arsen.
“Maksudnya? Siapa yang istrinya siapa?” tanya Alya dengan kening yang berkerut.
“Kamu kan istri aku Al.” ucap Arsen.
“Istri? Kita sudah lama sekali tidak bersama dan kalau kamu ingat, aku sudah menandatangani surat perceraian kita tuan Arsen Finn Craig.” Ucap Alya dengan penuh ketegasan.
“Tapi aku kan tidak menandatangani surat itu!” balas Arsen tidak mau kalah.
“Tetap saja, menurut agama kita bukan lagi sepasang suami istri.”
“Tapi...”
__ADS_1
“Tidak ada tapi tapian tuan Craig, silahkan anda pulang ke rumah anda sendiri!” tegas Alya yang membuat Arsen tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Sedangkan di dalam rumah, May dan Jay tidak langsung naik ke atas, mereka berdua menguping pembicaraan kedua orang tua mereka lebih dulu.
Sampai akhirnya Alya dan Arsen selesai berbicara karena Arsen memutuskan untuk mengalah dan berjalan ke rumahnya sendiri, lalu saat Alya sudah melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, May dan Jay segera berlari sekencang mungkin menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Setelah masuk ke dalam rumah, Alya langsung menutup pintu rumahnya, lalu dia mengintip ke arah Arsen melalui jendela rumahnya. Jujur saja, ada rasa sakit dan rindu saat melihat Arsen kembali, namun dia masih tidak bisa melupakan apa yang pernah dia dengar dari mulut Arsen.
Selama ini kata-kata Arsen selalu terngiang di telinganya membuat Alya tidak bisa melupakan semuanya, dadanya masih sesak jika mengingat semuanya, dia merasa bodoh dan di permainkan oleh Arsen.
Sedangkan di atas, May yang sudah mengganti pakaiannya langsung berjalan menuju kamar kembarannya, May sudah mengetuk kamar saudara kembaranya beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam membuat May akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar saudara kembarnya itu tanpa menunggu jawaban dari dalam.
Saat berada di dalam, May melihat Jay sedang bermain game di komputernya dengan headphone yang bertengger di kedua telinganya membuat May menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya.
May tahu kalau percuma saja dia memanggil kembarannya sampai mulutnya berbusa, karena suaranya tidak akan di dengar oleh Jay.
“Ah **! gimana sih lo bisa main apa nggak sih!” ucap Jay yang kesal dengan teman setimnya dalam game.
“Berani-beraninya kamu pulang sekolah langsung main game!” ucap May yang membuat Jay langsung menoleh ke arah samping.
“Aaaaahhh!!!!!” teriak Jay yang langsung melempar headphone nya dan melompat dari tempat duduknya karena terkejut.
“Yaampun Jay, telinga aku bisa budeg kalo kamu teriak kenceng banget gitu!” ketus May.
“Yaampun May, lagian kamu kenapa bikin orang kaget aja sih! Udah kayak setan lo!” ketus Jay.
__ADS_1
“Sialan lo ngatain gue setan! Ini juga kan salah kamu sendiri pake headphone! Udah tau mama paling ga suka kamu main game pulang sekolah!” ketus May kesal.
“Kamu masuk ke sini lewat mana?” tanya Jay sambil mengerutkan keningnya.
“Ya lewat pintu lah! Mau lewat mana lagi coba.” Balas May.
“Jadi pintu ga aku kunci? Ah pantesan apes banget! Lupa ngunci pintu ternyata.” Ucap Jay sambil menepuk keningnya.
“What!? Apes kamu bilang?”
“Udah deh ga usah di bahas, kamu ngapain ke sini ganggu orang?” tanya Jay yang ingin segera melanjutkan permainan gamenya.
“Ayo bujuk mama biar dia mau baikan sama papa.” Ucap May.
“Engga! Ngapain? Aku ga mau punya papa nyebelin kayak dia.” Balas Jay.
“Jangan begitu Jay, tadi papa sudah menunggu kita sampai pulang sekolah, papa juga membela kita sampai bertengkar dengan bapaknya Asep.” Jelas May mengingatkan.
Jay terdiam sejenak memikirkan penjelasan saudara kembarnya itu, dia memang sedikit terenyuh saat melihat sang papa membelanya dan juga membela May dengan beraninya padahal papanya hanya orang baru di sana.
Bahkan papanya sama sekali tidak takut berhadapan dengan bapaknya Septian yang memiliki tubuh yang tinggi besar, bahkan semua teman-temannya takut dengan Septian karena memiliki ayah yang menyeramkan.
Hanya May dan Jay saja yang berani melawan Septian tanpa takut sama sekali karena mamanya pernah mengatakan kalau mereka tidak boleh takut kepada orang yang tidak menghargai orang lain, karena kita sama-sama makan nasi dan ciptaan tuhan.
“Pokoknya aku mau bantu papa biar deket lagi sama mama dan kita ber empat bisa tinggal bersama dan mengabulkan keinginanku yang ingin memiliki papa!” ketus May dengan penuh keyakinan dan langsung berjalan keluar dari kamar Jay meninggalkan kembarannya yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
Braakkk!!! Seketika May membanting pintu kamar Jay membuat Jay yang sedang melamun itu kembali terlonjak kaget karena suara keras yang berasal dari pintu kamarnya.
“Et dah cewek dasar! Emosian banget!” ketus Jay sambil mengelus dadanya mencoba untuk menenangkan jantungnya yang hampir copot.