
Keesokan harinya...
Arsen sudah berada di bandara, menunggu pesawat pribadi miliknya siap untuk berangkat, tapi entah kenapa pesawat itu sangat lama membuat Arsen kesal.
"Kenapa lama sekali Fer!" ucap Arsen yang semakin kesal.
"Sebentar saya lihat dulu tuan." balas Ferdinand dalam mode bawahan.
"Suruh mereka cepat karena aku sudah bosan menunggu!" ketus Arsen yang di balas anggukan oleh Ferdinand.
Ferdinand segera menghampiri kru pesawat untuk menanyakan ada masalah apa sampai keberangkatan mereka tertunda.
Ternyata mereka bilang kalau saat ini ada beberapa pesawat yang ingin lepas landas, hanya saja ada beberapa yang delay membuat pesawat Arsen tidak bisa langsung terbang.
"Tolonglah kalo bisa segera diberangkatkan karena tuan Arsen sudah mulai bosan."
"Baiklah tuan, kami akan segera menyiapkan keberangkatan Tuhan arsen secepatnya." balas kru pesawat tersebut.
Setelah mengatakan keluhan Arsen, Ferdinand segera kembali menghampiri atasannya.
"Bagaimana?" tanya arsen saat Ferdinand berjalan menghampirinya.
"Ada delay dari pesawat yang harusnya berangkat sebelum kita, tapi mereka akan segera mengurusnya." Balas Ferdinand.
Arsen hanya mengangguk sambil menghela nafas kasar, dia benar-benar lelah karena semalam dia lembur dan belum tidur sama sekali.
Arsen kembali bersandar di kursi tunggu dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya, lalu tatapannya tiba-tiba saja tertuju pada seorang wanita berambut panjang bergelombang, bertubuh seksi dan berkulit putih mulus.
"Alya!" ucap Arsen yang langsung berdiri membuat Ferdinand terkejut.
"Alya? Di mana tuan?" tanya Ferdinand yang ikut menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Alya yang di maksud Arsen.
"Itu Alya!" ucap Arsen sambil menunjuk lurus di depannya.
Ferdinand menajamkan penglihatannya ke arah yang di tunjuk oleh Arsen, namun sayangnya wanita itu tidak terlihat wajahnya dan hanya terlihat dari belakang saja.
"Tuan, memang fisiknya seperti Alya, tapi sepertinya bukan, karena Alya tidak pernah memakai pakaian ketat nan seksi seperti itu." jelas Ferdinand.
Pasalnya saat pesta saja Alya memakai pakaian tanpa lengan dengan terpaksa dan terlihat tidak nyaman, jadi tidak mungkin Alya yang dulu polos begitu langsung berubah.
"Ini sudah satu tahun lamanya Fer, kamu pikir dia masih sama seperti sebelumnya?" ucap Arsen yang membuat Ferdinand berpikir kembali.
__ADS_1
"Iya juga ya, bisa jadi dia sudah berubah saat ini menjadi wanita yang lebih berani." balas Ferdinand.
"Cepat kita hampiri dia!" ketus Arsen yang langsung berjalan mau mendekati wanita itu.
"Bella!!" teriak seorang laki-laki dari samping yang langsung memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
Deg! Melihat hal itu membuat Arsen dan Ferdinand mematung, terutama saat mendengar laki-laki itu memanggil wanita itu dengan nama Bella bukan Alya, tentu saja itu semakin membuat Ferdinand yakin kalau wanita itu bukanlah Alya.
Ferdinand menoleh ke arah Arsen untuk melihat ekspresi wajahnya yang terkejut.
"Tuan..." ucap Ferdinand.
"Kita kembali!" ketus Arsen yang langsung berbalik arah kembali ke tempat duduknya.
Arsen merasa kesal dan juga malu, karena bisa-bisanya dia melihat wanita lain sebagai Alya.
Sedangkan di sisi lain, Bella terkejut dengan apa yang di lakukan Liam padanya.
"Liam! Apa-apaan ini? Kenapa kamu memelukku!?" ketus Bella.
"Diamlah, ada suamimu." balas Liam yang membuat Bella terpaku.
"Apa dia belum pergi?" tanya Bella dengan berbisik.
"Emmm,,, sebenarnya dia sudah pergi sejak tadi, hanya saja aku masih nyaman memelukmu seperti ini." balas Liam dengan santainya membuat mata Bella terbuka lebar dan langsung mendorong tubuh Liam.
"Liam!" teriak Bella dengan tatapan tajamnya.
"Hehehe sorry." balas Liam sambil memamerkan gigi putihnya.
"Bisa-bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan!" ketus Bella.
"Hehehe, sekali-kali ga apa-apa lah Bell." balas Liam yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kali ini aku maafkan karena aku juga berterima kasih karena kamu sudah melindungiku." ucap Bella.
"Tapi kenapa kamu tahu kalau itu Arsen?" tanya Bella.
"Kami sudah pernah bertemu dulu sekali saat SMA, mungkin dia lupa denganku karena sekarang aku sudah semakin tampan." balas Liam dengan percaya diri.
"Kamu ini tetap saja percaya diri! Sudahlah ayo cepat kembali, aku sudah merindukan anak-anakku." ucap Bella.
__ADS_1
"Sabarlah, pesawat kita delay, mungkin sebentar lagi." balas Liam yang di balas anggukan dan helaan nafas oleh Bella.
Hari ini Bella kembali ke Belanda untuk pertama kalinya karena ada sesuatu yang harus dia urus di butik milik keluarganya.
Namun dia tidak berlama-lama karena dia meninggalkan anak-anaknya di Indonesia dan juga dia tidak ingin bertemu dengan Arsen yang ternyata apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.
***
Di Indonesia, Arsen sejak awal datang hanya berdiam diri saja tanpa mengatakan apapun, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya dan tidak melakukan apa-apa lagi setelah itu.
Ferdinand pusing dengan sikap atasannya itu, dia tidak habis pikir wanita yang di temui mereka di bandara tadi bisa menghantui pikiran Arsen.
"Arsen, ayo kita makan malam, kenapa sih dari tadi lo diem aja?" tanya Ferdinand.
"Gue yakin tadi itu Alya Fer, tapi kenapa? Kenapa namanya Bella?" tanya Arsen.
"Lah kalo namanya Bella berarti bukan Alya Sen." balas Ferdinand.
"Tapi gue yakin Fer, hati gue bilang dia Alya! Apa dia sengaja ganti identitas itulah kenapa kita ga bisa nemuin dia!?" ucap Arsen tiba-tiba.
Ferdinand tidak bisa berkata-kata lagi, dia tahu kalau ucapan Arsen di bantah maka dia akan di gantung hidup-hidup.
"Udah lah ga usah di pikirin lagi Sen, mending kita keliling yuk, udah lama kan lo ga ke Indonesia." ajak Ferdinand mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Engga, gue males! Mending kalo lo ga punya kerjaan, lo cari deh cewek yang namanya Bella di seluruh dunia sampai ke pelosok harus lo cari dan juga data dirinya!" tegas Arsen.
"What!?" teriak Ferdinand dengan kedua mata yang terbuka lebar.
"Ga usah teriak deh, kuping gue sakit!" ketus Arsen.
"Lo gila? Di satu negara aja nama Bella bisa ada ratusan bahkan ribuan Sen! Lo mau gue mati gara-gara nama Bella?" ketus Ferdinand.
"Ya ga masalah, ini juga Alya ilang gara-gara lo ga becus ngurus Anjali!" ketus Arsen.
"Kok jadi gue yang di salahin sih? Lo aja gengsi ga pernah ngungkapin cinta makanya bisa salah paham begini!" ucap Ferdinand tidak terima.
"Lo mau gue gantung?" ucap Arsen dengan mata yang melotot.
"Gantung aja Sen, gantung gue! Dari pada nyari ribuan Bella mending di gantung gue!" ketus Ferdinand sambil menundukkan kepalanya dan berjalan ke arah Arsen seperti mau menyeruduk.
Melihat hal itu membuat Arsen terkejut, pasalnya jika Arsen sudah mengancam, biasanya Ferdinand akan pasrah dan memilih untuk melakukan perintahnya, dia tidak tahu kalau tugas mencari Bella benar-benar sangat membebaninya.
__ADS_1