
Arsen masih menatap tajam ke arah Alya, sedangkan Alya hanya bisa mematung dengan menahan rasa sakit yang dia rasakan di pipinya yang di cengkram Arsen, air matanya mulai menetes tanpa meminta persetujuan dari Alya.
Melihat wanita di depannya sudah meneteskan air mata, Arsen segera melepaskan cengramannya dan kembali ke tempat duduknya.
“Jangan menangis! Aku tidak suka melihat orang yang cengeng!” ketus Arsen.
Laki-laki itu bukannya meminta maaf, malah bersikap acuh tak acuh dan segera melajukan mobilnya kembali.
Sedangkan Alya yang masih menangis hanya berusaha untuk menahan suaranya agar tidak keluar, dia takut kalau Arsen akan semakin murka jika dia menangis sampai mengeluarkan suara.
Di sepanjang jalan, Arsen dan Alya hanya diam tidak berkata-kata, suasana menegangkan pun terasa di dalam mobil hingga membuat Alya semakin merasa takut. Sekarang dia tau kenapa dia tidak boleh membantah ucapan Arsen, Arsen tidak akan segan untuk melukai siapapun,dan mungkin keluarganya juga akan jadi korban jika Alya tidak menuruti ucapannya.
Alya berpikir jika Arsen akan membawanya ke apartment Arsen kembali, dia ingin protes hanya saja dia tidak bisa, tapi Alya terkejut karena ternyata Arsen mengantarnya ke rumah orang tuanya yang saat ini sudah terlihat ramai.
“Syukurlah dia mengantarku ke rumah, tapi bagaimana bisa dia tau rumahku di mana? Bukankah kita baru bertemu tadi?” batin Alya di dalam hatinya. Ada rasa syukur namun ada rasa penasaran juga bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui di mana rumahnya.
“Hapus air matamu, jangan sampai mereka tau kalau kamu menangis! Turunlah!” tegas Arsenio.
Dengan segera Alya menghapus air matanya perlahan agar tidak merusak make upnya, lalu dia beralih meraih handle pintu mobil, namun sebelum membuka pintu mobil itu Alya lebih dulu menoleh ke arah Arsen yang masih menatap ke arahnya.
“Apa?!” ketus Arsenio.
“Maaf karena sudah membuatmu marah, dan terimakasih karena sudah mau mengantarku pulang.” Ucap Alya.
Dengan berat hati dia meminta maaf kepada Arsen, dia ingin membuat Arsen mempercayainya lebih dulu, dan Alya sudah bertekad untuk kabur dari kehidupan Arsen saat laki-laki itu sudah mempercayainya, Alya tidak mau selamanya berurusan dengan laki-laki berbahaya seperti Arsenio.
“Selamat menjadi tunangan seorang pengkhianat, tenanglah ini hanya beberapa hari saja sebelum aku menjemputmu kembali.” Ucap Arsenio.
__ADS_1
Alya hanya mengangguk kaku, sebenarnya dia juga tidak mengerti apa yang sedang di lakukan laki-laki itu, hanya saja dia tidak ingin banyak bertanya, yang Alya inginkan saat ini adalah segera masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan keluarganya, walaupun ada rasa malas karena dia harus bertemu dengan Tommy yang saat ini sepertinya sudah berada di dalam rumahnya.
Alya segera melangkahkan kakinya menuju gerbang dan dengan cepat satpam yang melihat kehadrian Alya segera membukakan pintu gerbang.
“Non Alya yaampun, kok sendirian? Non jalan?” tanya pak Burhan yang tidak lain adalah satpam di rumah orang tuanya.
“Aku tadi di antar temanku pak, aku habis berdandan untuk acara hari ini, apa semuanya sudah ada di dalam?” tanya Alya dengan senyum ramah seperti biasanya.
“Sudah banyak orang di dalam nona, bahkan keluarga calon tunangan nona juga sudah berada di dalam rumah.” Ucap pak Burhan.
“Baiklah terimakasih pak, selamat bekerja kembali.” Ucap Alya sambil berjalan melewati Burhan.
Sudah sejak menjadi TKI di Belanda pak Burhan bekerja dengan keluarga Kenan, Kenan memang sengaja mengambil pekerja di rumahnya melalui agen TKI atau TKW untuk membantu sesama warga negara Indonesia yang membutuhkan pekerjaan.
Alya menghela nafas berkali-kali untuk menetralkan perasaannya, pikirannya terus memutar bagaimana mesranya Tommy dan Teresa.
“Aku tidak bisa bersikap seperti biasa kepada laki-laki itu.” Gumam Alya di dalam hatinya.
Semua orang tercengang saat melihat penampilan Alya yang sangat berbeda dari biasanya, mereka tidak pernah menyangka kalau Alya akan berdandan seperti itu.
“A-alya..” ucap Tommy yang saat ini sedang tercengang.
Pasalnya selama ini Alya yang Tommy kenal adalah seorang wanita yang tidak perduli dengan penampilannya, walaupun sebenarnya cantikan Alya di banding Teresa, tapi Teresa bisa berpenampilan dengan baik jadi Tommy merasa jika Teresa lebih menarik dari pada Alya.
Namun hari ini, Tommy benar-benar menyesal karena lebih memilih Teresa di bandingkan Alya, ternyata jika di dandani Alya terlihat jauh lebih cantik bahkan sempurna di bandingkan Teresa.
“Papi, mami, maaf Alya datang terlambat.” Ucap Alya tidak memperdulikan Tommy dan segera menghampiri kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Kakak!!!” seru Azzura yang langsung memeluk tubuh kakaknya.
“Azzu..” ucap Alya sambil membalas pelukan sang adik.
“Kan aku sudah bilang kalau kakak akan sangat cantik jika berdandan.” Ucap Azzura.
“Tapi aku tidak nyaman memakai riasan seperti ini, rasanya juga gerah kalau rambutku harus di urai begini.” Bisik Alya.
Azzura menggelengkan kepala saat Alya mau memegang rambutnya, Azzura segera menggenggam tangan sang kakak dan tersenyum ke arahnya.
“Kak, jangan merusak rambut yang sudah di tata dengan rapih, ayo semua orang sudah menunggu.” Ucap Azzura yang di balas anggukan oleh Alya.
Alya segera menyalami semua keluarga Tommy yang datang, ada beberapa sepupu laki-laki Tommy yang diam-diam mencuri-curi pandang kepadanya dan membuat Alya bergidik ngeri.
“Ternyata emang penyakit keturunan ya?” gumam Alya sambil menggelengkan kepala saat melihat semua keluarganya ternyata sama-sama mata keranjang.
Namun langkahnya terhenti saat dia melihat ada Teresa di sana, dia tidak tau kalau ternyata Teresa datang bersama keluarga Tommy, Alya tidak tau ternyata Teresa sudah mengenal keluarga Tommy.
“Hai Al, selamat atas pertunanganmu ya.” Ucap Teresa sambil tersenyum manis.
Sedangkan Alya hanya tersenyum miring, dia tau kalau senyum Teresa saat ini adalah palsu, dia tidak akan pernah percaya pada siapapun lagi saat ini.
“Tere, kamu ke sini sama siapa? Aku ga lihat mobilmu di depan.” Ucap Alya yang padahal sudah tau dengan siapa Teresa ke rumahnya.
“Tadi mamanya Tom ngajak aku bareng, jadi aku bareng mereka dan mobilku di taruh di rumah Tom.” Jawab Teresa yang entah sengaja atau hanya keceplosan saja bicara seperti itu.
“Wah, aku baru tau ternyata kamu sedekat itu sama keluarga Tom, aku bahkan hanya beberapa kali bertemu dengan orang tuanya.” Balas Alya sambil tersenyum lebar seperti tidak ada apa-apa.
__ADS_1
Alya yakin kalau saat ini Teresa sedang menertawakannya di dalam hati sambil berkata kalau dia adalah wanita bodoh yang bisa di tipu dengan mudahnya.
“Kita lihat saja sampai di mana kalian berdua akan merasa berada di atasku karena sudah berhasil membodohiku.” Batin Alya di balik senyumannya.