DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 27


__ADS_3

Di lain tempat, sepasang kekasih sedang mondar mandir kesana kemari dengan wajah yang tegang.


 “Kamu ini gimana sih? Kenapa sampe punya tagihan ratusan juta gini?” ucap Tommy frustasi.


“Kok kamu nyalahin aku sih? Kamu sendiri kan yang bilang kalo aku bisa belanja apapun.” Balas Teresa yang tidak mau kalah.


“Arrgghhh, itu dulu saat aku tidak tahu kalau akan kejadian hal seperti ini.” Ucap Tommy.


“Ini gara-gara kamu, bukannya aku udah bilang jangan datang ke apartmentku sampai aku benar-benar menikah dengan Alya? Tapi kamu ga sabar bahkan hampir setiap hari ke apartmentku!” ucap Tommy menyalahkan Teresa.


“Jadi sekarang kamu menyalahkanku?” ucap Teresa yang sudah kesal dengan semua tuduhan Tommy.


“Sudahlah, sekarang yang aku bingung, bagaimana cara membayar semua tagihanmu yang serentak begini?” ucap Tommy.


“Bukannya kamu mengurus perusahaan makanan orang tuamu? Kamu tidak mungkin kan ga mampu membayar tagihan-tagihanku, karena selama ini kamu tidak pernah mengeluh masalah uang.” Ucap Teresa.


“Sekarang keuangan perusahaan lagi tidak baik, aku harus berusaha untuk menutupinya, tapi kalau aku membayar semua tagihanmu, bisa-bisa perusahaan bangkrut dah aku? Aku akan di gantung hidup-hidup oleh orang tuaku.” Ucap Tommy.


“Terus apa yang harus kita lakukan?” tanya Teresa.


“Kenapa kamu malah tanya ke aku?! Kamu harusnya cari cara, kamu juga bekerja kan? Ke mana uangmu selama ini? Selama ini kamu shopping selalu memakai uang dariku kan? Kamu pasti punya tabungan kan?” ucap Tommy membuat Teresa mematung.


Dia memang menyimpan gajinya selama ini, hanya saja dia sudah merencanakan uang itu untuk apa nantinya, dia tidak ingin mengeluarkan uang yang selama ini sudah ia tabung susah payah.


“K-kenapa uangku yang di korbankan? Aku tidak mau.” Ucap Teresa.


“Kenapa kamu ga mau? Bukankah selama ini aku selalu menuruti semua yang kamu inginkan? Masa kamu ga mau nurutin yang aku inginkah sekali ini aja? Aku janji setelah masalah keuangan selesai aku akan mengganti semua uangmu.” Ucap Tommy.


Tommy memohon seperti dia yang memiliki hutang padahal itu semua adalah hutang Teresa, dia sampai seperti itu karena kartu kredit yang di gunakan Teresa adalah kartu kredit miliknya, tentu saja dia yang akan di kejar-kejar nantinya.


Teresa menelan salvilanya, lalu dia mengangguk setelah terdiam beberapa saat.


“Baiklah, aku akan memakai uang pribadiku, tapi sepertinya tidak sebanyak itu.” Ucap Teresa.


“Tidak masalah, aku akan menambah sisanya, terimakasih sayang akan aku pastikan setelah ini aku akan mengganti uangmu bahkan akan aku tambah.” Ucap Tommy yang mulai tersenyum karena berhasil mendapatkan solusi dari masalahnya.

__ADS_1


Teresa hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya, dia juga sebenarnya ragu untuk memakai uangnya karena dia takut kalau Tommy tidak mengembalikannya melihat keadaan Tommy saat ini sepertinya dia benar-benar sangat kekurangan uang.


“Kalau begitu aku pulang dulu, aku juga tidak bisa langsung mencairkan uangku karena hari sudah sore bank pasti tutup jam segini.” Ucap Teresa.


“Tidak masalah, toh tenggat waktu pembayaran masih seminggu lagi.” Balas Tommy.


Teresa segera berpamitan kepada Tommy lalu dia segera meninggalkan apartment Tommy dengan perasaan yang tidak karuan.


Di dalam mobilnya Teresa terus memukul-mukuli setir mobil sambil berteriak, untung saja tidak ada siapapun di parkiran itu jadi Teresa bisa meluapkan semuanya di dalam mobil.


“Alya! Si*l! wanita kurang ajar! Ini semua karena dia, kalau bukan karena dia aku tidak akan mengalami hal seperti ini!” teriak Teresa menyalahkan Alya atas apa yang terjadi kepadanya.


“Ga bisa, aku ga bisa dan ga akan ngeluarin uang sepeser pun! Jika Tommy sudah tidak mampu memenuhi kebutuhanku lagi aku harus menggantinya dengan yang baru bukan? Cinta? Aku tidak perduli lagi dengan cinta!” ucap Teresa pada dirinya sendiri.


Teresa segera menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya keluar dari area apartment Tommy.


***


Hari sudah malam, Teresa yang memiliki banyak pikiran itu memutuskan untuk pergi ke bar bersama teman-temannya untuk bersenang-senang melupakan sejenak kekesalannya yang tadi dia rasakan.


“Lo kenapa ngelamun aja sih dari tadi Re? lagi ada masalah lo?” tanya salah satu temannya.


“Menurut lo, kalo laki-laki udah ga bisa memenuhi kebutuhan kita sebaiknya di apain?” tanya Teresa.


“Di buang lah! Entah kebutuhan ranjang atau kebutuhan fisik, tentu saja kita harus membuangnya.” Ucap temannya yang lain.


“Benar kan? Harus aku buang kan? Walaupun aku mencintainya?” tanya Teresa.


“What? Cinta? Hahaha, lo ga akan kenyang makan cinta Re! udah lah buang aja dan ganti yang baru, lo udah lama ga kesini semenjak jadian sama cowok lo, di sini sekarang makin banyak laki-laki tampan dan tajir.”


Teresa berpikir sejenak untuk mencerna semua kata-kata teman-temannya, barulah dia meneguk minuman yang sejak tadi dia pegang.


“Yah, kalian memang benar, aku harus meggantinya dengan yang baru.” Ucap Teresa sambil tersenyum sinis.


Teresa yang sudah menghabisan minuman yang ada di gelasnya segera berdiri membuat semua teman-temannya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


“Lo mau ke mana Re? udah mau balik?” tanya teman Teresa.


“Ah ga seru lo Re, masa jam segini udah mau balik.” Sahut yang lainnya.


“Siapa yang bilang gue mau balik? Gue mau ke dance floor dong, bosen gue duduk terus.” Jawab Teresa yang membuat teman-temannya tersenyum bahagia.


“Good girl baby! Lets go party!” seru salah satu temannya yang di susul sorakan dari yang lainnya.


Teresa mulai turun ke lantai dansa dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan sangat lihai dan seksi membuat banyak pasang mata melihatnya dan tergoda dengan body seksinya.


Salah satu dari laki-laki yang tertarik dengan Teresa mulai mendekatinya dan menyentuh bagian-bagian pribadi Teresa membuat wanita itu tidak nyaman sehingga tangannya terus mendorong laki-laki itu agar menjauh darinya.


“Jangan kurang ajar jadi orang!” ketus Teresa.


“Kurang ajar? Aku tidak kurang ajar, tapi kau yang menggoda duluan dengan gerakan tarianmu yang terkesan sensual itu.” Ucap laki-laki itu sambil menyeringai membuat Teresa merinding.


PLAK!!! Teresa menampar pipi laki-laki itu dengan sangat kencang hingga menimbulkan bekas.


“Dasar laki-laki br3ngs3k!” teriak Teresa yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


Tentu saja, tadi dia sudah kesal dengan masalahnya dengan Tommy, dan sekarang saat dia mau melupakan emosinya sejenak malah ada laki-laki hidung belang yang berani menggodanya.


“Dasar j4lang!” balas laki-laki itu yang juga mulai meninggikan suaranya.


Semua orang yang awalnya sedang asik menari tiba-tiba saja berhenti dan menoleh ke arah Teresa dan laki-laki itu.


“Kalau tidak mau di sentuh laki-laki sembarangan maka jangan memakai pakaian terbuka dan meliuk-liukan tubuhmu seolah sedang kehausan belaian!” ucap laki-laki itu.


Mendenar ucapannya membuat Teresa semakin naik darah karena saat ini semua orang malah melihat ke arahnya.


“Hei kau! Apa di tempat seperti ini gue harus pake gamis hah! lo aja mata keranjang, kurang belaian makanya liat orang nari dikit aja udah napsu!” balas Teresa.


“Apa!? Kurang ajar!” teriak laki-laki itu yang segera menggerakkan tangannya ke atas berniat untuk menampar Teresa.


Teresa yang sudah pasrah jika dirinya di tampar tiba-tiba terkejut saat ada tangan seseorang yang menahan tangan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2