DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 19


__ADS_3

Hari ini adalah hari-H acara pernikahan Alya dan Arsenio yang di adakan di rumah keluarga Alya, di sebuah ruangan Alya sedang duduk di depan cermin dengan wajah yang tidak bersemangat.


Bagaimana tidak bersemangat, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan kebebasannya yang sebentar lagi akan tersita karena menikah dengan laki-laki seperti Arsenio.


“Kak, kakak ga semangat banget sih?” ucap Azzura yang bisa melihat rautan tidak semangat dari wajah sang kakak.


“Semangat kok aku, cuma capek aja semaleman ga bisa tidur.” Ucap Alya.


“Salah sendiri ga tidur semalam, pasti gara-gara gugup sebentar lagi mau jadi istri orang ya kak?” goda Azzura yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada dia dan Arsenio.


“Apaan sih kamu, udah keluar sana ke mami.” Ucap Alya.


Azzura hanya mengangguk dan keluar sesuai dengan perintah sang kakak, dia juga ingin mencari camilan karena perutnya sudah lapar sekali sejak tadi berdandan.


“Azzu, kamu mau ke mana?” tanya Belinda yang berpapasan dengan Azzura yang baru keluar darikamar Alya.


“Eh mami, aku mau nyari makanan di bawah, perutku udah teriak dari tadi minta makan nih.” Jawab Azzura.


“Kamu ini makan terus Azzu, untung badan kamu gitu-gitu aja walaupun makan banyak.” Ucap Belinda.


“Ih mami kebiasaan deh, papi bilang nikmatin semuanya selagi bisa.” ucap Azzura.


“Terserah deh! Kakak kamu mana?” tanya Belinda.


“Di kamarnya mi, aku di usir suruh ke mami tadi.” Ucap Azzura.


Belinda mengangguk lalu berjalan ke kamar Alya dan membuka pintu kamarnya, sedangkan Azzura melancarkan niatnya untuk memburu makanan di bawah.


“Hai sayang...” sapa Belinda saat membuka pintu kamar Alya.


“Hai mi, tadi Azzu aku suruh ke mami.” Ucap Alya.


“Iya tadi ketemu di depan, dia mau cari makanan katanya.” Balas Belinda yang di balas senyuman dan gelengan kepala oleh Alya.

__ADS_1


Pasalnya bukan rahasia umum di dalam keluarga besar mereka kalau Azzura adalah pencinta kuliner yang akan selalu lapar jika melihat makanan.


“Kamu udah siap?” tanya Belinda yang membuat senyuman di bibir Alya menghilang seketika.


“Siap ga siap harus siap kan mi? aku udah berusaha buat siap kok.” Ucap Alya.


“Apa Alya sudah selesai? Kalau sudah selesai kalian bisa keluar dulu dan menikmati makanan yang ada sebelum tamu undangannya semakin ramai.” Ucap Belinda kepada penata rias Alya.


Semuanya mengangguk lalu segera keluar dari ruangan itu karena memang kebetulan Alya sudah selesai di rias dengan sangat cantik.


“Alya, mami mau bicara serius sama kamu boleh?” ucap Belinda yang membuat Alya sedikit gugup.


“B-boleh lah mi kenapa nanya sih bikin orang takut aja deh.” Ucap Alya sambil tertawa yang di paksakan.


“Mami tau kalo kamu dan Arsenio tidak menikah atas dasar saling menyukai seperti kamu dan Tommy, entah kenapa kalian memutuskan untuk menikah, apapun awalnya kamu harus ikhlas menerima pernikahan ini.”


“Pernikahan ini suci apapun alasannya, dan sudah menjadi kewajiban kamu nantinya kalau tiba-tiba Arsen meminta haknya sebagai suami, kamu pasti tau hal itu kan?” ucap Belinda.


“Mami tau ini berat, tapi percayalah jika kamu menjalaninya dengan tulus dan ikhlas maka semuanya akan indah pada waktunya.” Jelas Belinda.


“Iya mami, Al akan berusaha sebisa Al.” ucap Alya sambil tersenyum lebar untuk meyakinkan maminya kalau dia baik-baik saja.


Tok,, tok,, tok.. pintu kamar Alya di ketuk dan beberapa saat kemudian langsung terbuka dan terlihat Kenan masuk ke dalam kamar putrinya, matanya terbuka lebar melihat putrinya yang terlihat sangat cantik.


“Wah, cantik sekali putri papi.” Ucap Kenan.


“Papi selalu begitu deh, aku kan jadi malu.” Balas Alya sambil tersenyum malu.


Sedangkan Belinda hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat kebucinan bapak dan anak ini.


“Dia bukan anak kecil lagi, kalau kamu mengejeknya terus seperti itu dia akan malu.” Ucap Belinda kepada sang suami.


“Tapi dia memang masih anak kecil bagiku.” Balas Kenan.

__ADS_1


“Aku sudah mau menikah papi, kalau suamiku cemburu melihat papi selalu memujiku cantik bagaimana?” sahut Alya yang ikut memojokkan papinya.


“Jadi kamu sudah memihak calon suamimu sekarang?” tanya Kenan.


Alya dan Belinda tertawa melihat Kenan yang kesal, dan mereka mulai berbincang mengingat masa lalu saat Alya masih kecil.


***


Di rumah yang sama namun di lantai yang berbeda, Azzura sedang menikmati makanan yang di sajikan di sana, tanpa sengaja Aciel melihat adiknya makan seperti orang kelaparan itu langsung menghampirinya.


“Hei kamu ini perempuan! Jangan makan seperti orang yang ga pernah di kasih makan begitu.” Ucap Aciel.


“Ih apaan sih bang, ganggu makan aku aja deh.” Ketus Azzura yang kesal karena acara makan-makannya terganggu.


“Kamu ga lihat ada banyak teman kak Arsen? Lihat mereka tampan, gagah dan berduit, kamu harusnya bersikap manis agar ada salah satu yang menyukaimu, kalau kamu seperti ini mereka tidak akan mau sama perempuan rakus kayak kamu!” ketus Aciel.


“Heh abang! Di mana-mana ga ada abang yang malah mau adik perempuannya cepet-cepet laku, biarin aja lah mereka ilfeel, aku hanya akan menerima laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya.” Balas Azzura.


“Cih! Mereka yang terima kamu apa adanya akan bangkrut, karena uang mereka akan habis untuk membeli makanan enak dan mahal setiap hari!” ketus Aciel.


“Makanya hanya orang tajir melintir yang akan mau menerimaku! Udah sana pergi, bikin mood aku ilang aja deh!” usir Azzura.


Yah begitulah Aciel dan Azzura, mereka seringkali bertengkar dan Alya lah yang akan menengahi mereka, mungkin karena jarak usia mereka yang hanya berbeda satu tahu setengah saja membuat keduanya sering iri satu sama lain jika papi dan mami mereka lebih memperhatikan salah satunya.


Aciel yang tidak mau berdebat lagi akhirnya memutuskan untuk berbalik badan, hanya saja saat dia mau melangkahkan kakinya, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang paling tidak ingin dia lihat.


“Arrgghh, kau masih belum pergi juga bang? Masih belum puas menggangguku?” ucap Azzura sambil menoleh ke arah Aciel yang mematung di tempatnya.


Azzura yang melihat aneh tatapan abangnya itu langsung mengikuti arah tatapan Aciel dan terkejut saat melihat seseorang yang sedang tersenyum menyapa semua orang. Bukan hanya satu namun dua orang yang paling keluarganya benci setelah apa yang terjadi di antara mereka dan kakak kesayangan mereka.


“Sedang apa laki-laki brengsek itu kemari!” ketus Aciel.


“Kak, jangan biarkan mereka berdua menikmati acara kak Alya sedikitpun! Aku akan beritahu papi dan mami.” Ucap Azzura yang langsung berlari menaiki tangga untuk memanggil kedua orang tuanya yang sedang berada di dalam kamar Alya.

__ADS_1


__ADS_2