
Pagi pun tiba, Lili terbangun dari tidurnya karena mencium bau yang sangat sedap dari dapurnya. Dia bisa mencium bau masakan dari dapur karena dia memang tidur di ruang tamu karena khawatir Alya akan membutuhkan sesuatu.
Lili bangkit dari tidurnya dan segera berjalan ke dapur untuk melihat siapa yang sedang memasak di dapurnya saat ini.
“Kak Al? kakak masak apa?” tanya Lili saat melihat Alya yang sudah rapih sedang memasak.
“Aku masak sayuran yang ada di kulkasmu dan hampir busuk.” Balas Alya.
Mendengar jawaban dari Alya membuat Lili memamerkan gigi putihnya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Lili memang jarang sekali masak karena dia sudah terlalu lelah untuk memasak, toh dia juga lebih sering tidur di mansion oma Nani dari pada di apartmentnya sendiri.
“Kak Al sebaiknya istirahat saja, aku bisa memesankan makanan lewat aplikasi.” Ucap Lili.
“Aku malah ga suka loh kalo ga masak atau ga ngelakuin apa-apa.” Balas Alya.
Lili hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang lalu dia menarik kursi makan dan bersiap untuk duduk.
“Eh tunggu!” seru Alya yang membuat Lili menghentikan b0k0ngnya yang hampir saja menempel di kursi.
“Kenapa kak? Ada apa?” tanya Lili yang panik sambil melihat ke bawah.
“Kamu kok malah duduk? Ayo mandi, habis sarapan aku minta kamu mengantarku ke rumah orang tuaku.” Ucap Alya.
“Sekarang? Ga nanti sore aja kak?” tanya Lili.
“Lebih baik sekarang sebelum Arsen pulang dari kantor.” Ucap Alya.
“Apa kakak yakin kalau kak Arsen akan ke kantor di saat seperti ini? Kak Arsen pasti sedang mencari kak Al saat ini, semalam juga dia menghubungiku dan bertanya apa aku mengetahui keberadaan kak Al atau tidak.” Ucap Lili.
“Lalu? Kamu tidak mengatakan kalau aku ada di sini kan?” tanya Alya dengan tatapan penuh curiga.
“Ya ampun santai saja kak, aku ga akan ngomong apa-apa kok sama kak Arsen. Kalau memang kak Arsen mengatakan hal yang kemarin aku dengar, maka aku yang akan menghukumnya.” Ucap Lili dengan wajah yang serius.
Mendengar hal itu membuat Alya tersenyum lalu bernapas lega karena Lili bis menjaga rahasia.
“Terimakasih Lili, kamu memang yang terbaik.” Seru Alya yang langsung memeluk tubuh Lili dengan erat.
“Sudah sana mandi, kamu bau!” seru Alya yang membuat Lili cemberut.
__ADS_1
Lili segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, sedangkan Alya kembali melanjutkan masak-masaknya untuk sarapan dia dan Lili.
Beberapa saat kemudian, seketika saja Alya kembali mendengar percakapan antara Asen san Anjali di kepalanya membuat Alya langsung menjatuhkan spatula yang dia pegang dan kedua tangannya menutupi telinganya dengan erat sambil meneteskan air mata.
“Arrgghh,, tidak!!!!” teriak Alya yang saat ini sedang duduk di sudut ruangan sambil terus memegangi telinganya.
Entah sejak malam itu, percakapan antara Arsen dan Anjali sangat mengganggunya dan membuatnya merasa trauma. Ingin sekali Alya mengalami amnesia agar dia tidak mendengar suara suara yang membuatnya trauma lagi.
Mendengar teriakan Alya membuat Lili yang baru saja selesai mandi terkejut mendengar teriakan Alya, dia langsung berlari hanya menggunakan baju handuknya saja dan segera menghampiri Alya.
“Kak Al? yaampun kak Al kenapa kakak seperti ini kak? Ada apa kak?” tanya Lili sambil memeluk tubuh Alya dengan erat.
“Aku benci laki-laki itu! Kenapa? kenapa semua laki-laki meninggalkan aku dengan cara seperti itu hiksss... hiksss..”
“Kak Al, aku mohon jangan seperti ini ya, aku akan menghubungi keluarga kakak ya, aku akan menghubungi Azzu untuk kemari.” ucap Lili yang mau berdiri untuk mengambil ponsel.
Hanya saja tangan Lili langsung di genggam oleh Alya dan membuat Lili langsung menoleh ke arah Alya yang menggelengkan kepala menandakan kalau Lili tidak boleh menghubungi Azzura.
“Ada apa kak? Kakak butuh sesuatu?” tanya Lili.
“Lalu siapa yang harus aku hubungi kak?” tanya Lili.
“Tolong ambil ponselku, hubungi El saja ya, dia akan menjaga rahasia dengan baik.” Ucap Alya sambil menghapus air matanya karena dirinya sudah mulai merasa tenang.
Lili langsung menganggukkan kepala, dia mengambil ponsel Alya yang ada di dalam tasnya di atas meja makan, lalu dia menyalakan ponselnya karena memang semalam Alya sengaja mematikan ponselnya.
Saat ponsel Alya menyala, ada banyak sekali notifikasi terutama dari Arsen, Lili tau kakak sepupunya itu pasti sedang mencari keberadaan Alya.
“Kak, kak Arsen...” ucap Lili yang langsung di tatap oleh Alya.
“Aku mohon jangan sebut nama laki-laki itu di depanku Li.” Ketus Alya sambil mengambil ponselnya dari tangan Lili.
Dengan segera Alya mencari nomer ponsel adik laki-lakinya tanpa berniat untuk melihat isi pesan yang di kirimkan oleh Arsen.
“Halo kak? Kakak, yaampun kakak ke mana? Kak Arsen semalaman mencari kakak!” seru Aciel saat mendapatkan telfon dari sang kakak.
“Ssssttt... El! Bisakah kamu bicara dengan nada yang kecil? Berisik sekali.” Ucap Alya.
__ADS_1
“Gimana aku ga berisik kalau semalaman kak Al menghilang? Untung saja papi dan mami belum tahu hal ini. Aku akan menghubungi kak Arsen.” Ucap Aciel.
“Eh! El!” seru Alya yang membuat Aciel batal mematikan telfonnya.
“Ada apa kak?” tanya Aciel.
“Aku mohon jangan bilang pada Arsen kalau aku menghubungimu.” Ucap Alya dengan segera.
“Kenapa kaka? Kakak dan kak Arsen lagi ada masalah ya?” tanya Aciel.
“Bisakah kamu kemari El? Aku sedang berada di apartment Lili.” Ucap Alya mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah kak, aku akan segera ke sana. Kirim saja sharelock padaku.” Balas Aciel.
Alya langsung mematikan telfonnya dan segera mengirim lokasinya berada saat ini. Seketika pandangan Alya kembali kosong.
“Kak, duduk di atas aja yuk..” ajak Lili yang berusaha untuk membantu Alya untuk berdiri.
“Sebenarnya apa yang terjadi kak? Kenapa kakak tiba-tiba teriak?” tanya Lili.
“Seketika aku mendengar kembali percakapan antara Arsen dan Anjali Li, apakah bisa kenangan tentang mereka berdua di hapus dari kepalaku?” tanya Alya.
“Kakak, jangan bilang begitu! Kalau kenangan kak Arsen di hapus dari kepala kakak, maka kenangan tentangku juga akan terhapus dan aku tidak mau hal itu terjadi.” Ucap Lili dengan ekspresi sedih.
Alya tersenyum mendengar ucapan Lili, memang benar apa yang di katakan Lili, hanya saja dia ingin sekali melupakan tentang Arsen dan Anjali.
Lili beranjak ke dapur untuk mengambilkan Alya segelas air putih agar perasaannya kembali tenang, lalu Lili duduk di sebelah Alya sambil menggenggam tangan Alya untuk memberinya semangat.
“Aku ingin pergi dari negara ini secepatnya.” Ucap Alya tiba-tiba yang membuat Lili langsung menatap ke arah Alya.
“Kak, kakak yakin dengan hal ini?” tanya Lili.
“Sangat yakin! Jika masih berada di negara ini, aku akan hidup dengan penuh ketakutan akan di ketahui oleh Arsen. Aku juga tidak akan pernah melupakan bayang-bayangnya.” Ucap Alya.
“Baiklah, aku akan segera menghubungi kakak sepupuku untuk menyiapkan rumah yang nyaman untuk kak Al.” balas Lili yang sudah tidak berniat untuk menentang keputusan Alya lagi.
“Terimakasih Li, aku benar-benar berhutang budi denganmu dan sepupumu.” Balas Alya yang di balas senyuman oleh Lili.
__ADS_1