
Di kamar Cessa, Anjali sedang duduk di tepi tempat tidur sambil meneteskan air mata. Melihat hal itu tentu saja membuat Cessa merasa kasihan dengan sahabatnya itu, bagaimanapun juga Anjali lah yang sudah membuat dia bisa masuk ke perusahaan besar seperti perusahaan Arsen.
“Jel, sudahlah jangan menangis lagi.” Ucap Cessa dengan nada yang lembut agar tidak membuat Anjali tersinggung.
“Gimana ga nangis? Lo lihat sendiri kan Arsen tadi marahin gue di depan banyak orang? Selama pacaran dia ga pernah bentak gue Ces, terus dia sekarang malah bentak gue di hadapan orang banyak hanya karena wanita itu.” Ucap Anjali dengan menggebu-gebu.
“Gue tau lo sedih sama sikap Arsen gue tau, tapi itu semua adalah konsekuensi yang memang harus lo dapatkan karena lo yang mengijinkannya menikah dengan wanita lain.” Ucap Cessa.
“Apa sekarang lo menyesal? Apa sekarang lo ingin menikah sama Arsen di saat dia baru beberapa hari menikah dengan wanita itu?” tanya Cessa.
Mendengar ucapan Cessa membuat Anjali termenung, dia sadar kalau semua ini adalah kesalahannya, ini semua karena dia tidak ingin menikah dengan Arsen dan sekarang semua seperti sia-sia.
“Gue nyesel, tapi gue juga gak bisa ngelepas karir gue gitu saja.” Ucap Anjali.
“Penyesalan memang datang belakangan Jel, sejak awal gue udah nyuruh lo buat nerima lamaran Arsen, tapi lo tetap pada pendirian lo, jadi sekarang gue juga gak bisa ngelakuin apa-apa.” Ucap Cessa.
“Tapi gue harus merebut kembali Arsen gue, gue ga mau kalau sampai Arsen gue pergi begitu saja!” ucap Anjali dengan yakin.
“Jel, itu akan membuat banyak hati sakit hati.” Ucap Cessa.
“Siapa yang sakit hati? Hanya wanita itu yang nantinya sakit hati, sama seperti gue yang saat ini sakit hati melihat mereka berdua.” Ucap Anjali.
“Lo cuma memikirkan hati lo dan wanita itu, apa lo pernah memikirkan hancurnya keluarga wanita itu dan juga keluarga Arsen? Gue dengar, oma Arsen sangat bersemangat dengan pernikahan ini, kalau sampai omanya terkejut dan ada apa-apa, apa Arsen akan membiarkan hal itu?” ucap Cessa.
Lagi-lagi Anjali kembali berpikir, dia tidak memikirkan tentang oma Nani, oma Nani yang sangat mendesak Arsen menikah, dan sekarang dia sudah menikah tentu saja oma Nani juga bahagia dengan pernikahan mereka.
Apa lagi, semenjak penolakan Anjali akan lamaran Arsen, oma Nani sangat membencinya, bahkan oma Nani tidak mau melihat wajah Anjali lagi.
__ADS_1
“Pokoknya gue harus mendapatkan kembali Arsen apapun yang terjadi Ces, gue juga akan berusaha untuk mendapatkan hati oma Nani lagi.” Ucap Anjali dengan penuh keyakinan.
“Yaampun Jel, terserah lo deh, tapi untuk kali ini gue gak akan ngedukung lo karena nantinya lo juga yang akan tersakiti seperti tadi.” Ucap Cessa.
“Lo udah ga mau dukung gue lagi Ces? Lo kayak gini karena lo udah luluh sama wanita itu kan? Iya kan?” ucap Anjali yang semakin emosi.
“Gue ga ngedukung lo bukan berarti gue ngedukung wanita itu Jel, gue cuma ga mau dukung sahabat gue ngelakuin jalan yang salah.” Ucap Cessa.
“Halah ga usah sok bijak deh lo Ces! Dulu juga lo pernah jadi simpenan temannya Arsen kan?” ucap Anjali sambil tersenyum sinis.
“Anjali!” tegas Cessa dengan tatapan tajam.
“Kenapa? kenapa lo marah? Emang ada yang salah sama kata-kata gue? Engga kan? Apa yang gue omongin bener kan? Lo pernah jadi simpanan temannya Arsen, lo yang cuma di jadikan wanita di atas ranjangnya saja.” Ucap Anjali.
Mendengar semua ucapan Anjali membuat Cessa benar-benar geram, dan tiba-tiba saja...
Dulu Cessa memang terpaksa menjadi simpanan teman Arsen karena dia sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan adik satu-satunya, dan karena kasihan Anjali membujuk Arsen untuk mempekerjakan Cessa di perusahaannya.
Barulah setelah di terima di perusahaan Arsen, Cessa berhenti menjadi simpanan, walaupun gaji yang di terima lebih besar saat menjadi simpanan, tapi Cessa tidak bahagia dengan hal itu.
Dan hal itulah yang membuat Cessa memiliki hutang budi kepada Anjali, tapi dia tidak percaya Anjali bisa mengungkit masa lalunya yang kelam.
“Lo! Lo berani nampar gue hah?!” teriak Anjali yang semakin geram.
Anjali langsung berdiri dan bersiap untuk membalas tamparan Cessa, namun ternyata refleks Cessa lebih cepat untuk menangkap tangan Anjali.
“Lo udah berani menangkis tangan gue? Apa lo udah lupa siapa yang ngebuat lo jadi seperti sekarang hah?!” ketus Anjali.
__ADS_1
“Gue gak perduli lagi tentang kebaikan yang udah lo lakukan sama gue Jel! Lo hanya melakukan satu kebaikan, tapi selama ini gue udah lebih dari cukup bantu lo keluar dari masalah.” Ucap Cessa.
“Lancang lo Ces!” ketus Anjali.
“Keluar Jel! Keluar sekarang juga dari kamar gue!” teriak Cessa.
Anjali tidak terima dengan perlakuan Cessa kepadanya, dia merasa terhina sudah di usir oleh sahabatnya sendiri.
“Lo aja yang keluar, lo cuma karyawan di sini dan gue? Gue adalah orang yang bisa dengan mudahnya ngebuat lo di pecat dari perusahaan!” ketus Anjali.
“Asal lo inget aja kalo saat ini pacar yang selalu lo banggakan itu udah jatuh cinta sama wanita lain yang sekarang sudah menjadi istrinya!” ketus Cessa.
“Cih percaya diri sekali! Gue akan nunggu lo dateng ke gue sambil bersujud sambil menangis darah untuk meminta bantuan gue!” ketus Anjali.
“Gue ga akan pernah melakukan hal itu, walaupun di dunia ini hanya ada lo yang bisa bantu gue, gue lebih baik mati!” ketus Cessa.
Anjali tersenyum sinis lalu segera melangkahkan kaki keluar dari kamar Cessa, bahkan dia segera keluar dari villa menggunakan mobil miliknya yang memang terparkir di sana.
Sedangkan Cessa hanya bisa terduduk lemas sambil menangis, dia tidak percaya sudah mengusir sahabatnya yang selama ini sudah membantunya, tapi dia juga tidak terima saat Anjali mengungkit masa-masa kelamnya dulu dan menghinanya.
Di luar kamar, semua karyawan yang memang belum pergi keluar villa bisa mendengar semua perdebatan antara Anjali dan Cessa.
Mereka juga baru tahu kalau Cessa masuk ke perusahaan itu karena ada orang dalam, semua orang tentu saja tidak menyukai Cessa, terlebih karena selama ini Cessa selalu di puji akan kinerjanya dan mereka semua yakin kalau pujian dan reward yang di dapatkan oleh Cessa juga karena dia adalah teman Anjali kekasih atasannya.
“Wah ga nyangka gue ternyata Cessa mantan simpenan, simpenan orang bukan main-main lagi, bayangin aja temennya tuan Arsen berarti pengusaha juga kan?” bisik salah satu karyawan yang mendengar perdebatan Anjali dan Cessa tadi.
“Iya, ih kalo gue ogah deh jadi simpenan gitu, malu kalo ketahuan kayak sekarang ini kan?” balas yang lain.
__ADS_1
“Udah jangan pada gosip, yuk kita keluar aja nikmatin liburan mumpung masih di sini.” Ucap yang lain lalu di balas anggukan kepala oleh kedua orang itu.