
“Aku boleh kan ikut sarapan di sini?” tanya Arsen kepada Alya yang sedang sibuk menata piring berisi lauk di atas meja makan.
“Pake tanya, udah di sini masa iya mau bilang engga boleh!” ketus Jay yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alya karena Jay tidak sopan.
“Jay! Kenapa kamu bilang gitu sama papa! Kan dulu kamu yang semangat mau ketemu papa!” ketus May.
“Itu dulu, sebelum aku tahu kalau papa kita menyebalkan!” ketus Jay.
“Jay stop! Ga sopan bilang kayak gitu, dia tetap papa kamu dan dia juga yang sudah membela kamu kemarin.” Tegas Alya.
Arsen hanya tersenyum, berapa kali pun Jay mengatakan hal yang menyakitkan, Arsen sama sekali tidak merasa tersinggung dan sakit hati karena dia tahu kalau kesalahannya memang akan sulit di lupakan.
Arsen mendekati Alya dan memberikan bunga yang dia pegang kepada wanita itu membuat Alya terkejut.
“Apa ini?” tanya Alya.
“Bunga lah Al, buat kamu.” Balas Arsen.
__ADS_1
“May juga dapet loh ma.” Sahut May dengan senang.
“Ck! Dasar cewek!” ketus Jay sambil melirik ke arah May dan Alya.
Arsen mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya lagi dan menyodorkannya kepada Jay yang masih duduk di kursinya.
“Ini buat anak papa yang paling ganteng.” Ucap Arsen.
Jay melotot melihat benda yang ada di hadapannya saat ini, ponsel gaming keluaran terbaru yang sangat ingin Jay miliki namun mamanya selalu menolak permintaan Jay untuk di belikan ponsel tersebut, dan saat ini ponsel yang dia impikan sudah ada di hadapannya.
“Suka kan? Papa tahu kamu pasti suka sama apa yang papa kasih.” Ucap Arsen yang senang saat melihat ekspresi wajah putranya yang terlihat antusias.
“Biasa aja!” ketus Jay sambil mengalihkan pandangannya ke ponsel miliknya kembali.
“Bohong! Dia pasti suka tuh pa, tapi gengsi.” Sahut May mengejek kembarannya.
“Apaan sih berisik lu!” ketus Jay yang tidak terima dengan ucapan May.
__ADS_1
“Arsen, kenapa kamu membelikan Jay ponsel? Dia akan semakin genjar bermain game kalau memiliki ponsel canggih seperti itu.” Ucap Alya.
“Al, aku tau maksud kamu baik mendidik mereka dengan cara seperti itu, tapi kamu tau kalau waktuku dengan mereka banyak terbuang, sekarang yang aku bisa hanya membelikan barang yang tidak mereka punya.” Jelas Arsen dengan lirih.
Terlihat sekali Arsen memiliki rasa penyesalan yang besar, May dan Jay yang memang dasarnya cerdas tentu saja bisa melihatnya dari ekspresi wajah Arsen.
May melirik tajam ke arah Jay membuat Jay yang di lihat merasa sedikit bersalah.
“Terimakasih hadiahnya pa, kali ini Jay akan terima tapi lain kali jangan membelikan Jay barang seperti ini karena mama akan marah sama papa.” Ucap Jay tiba-tiba sambil menarik dus ponsel yang di berikan Arsen kepadanya.
Mendengar ucapan Jay membuat May dan Arsen tersenyum senang, begitu juga dengan Alya yang diam-diam mengangkat sudut bibirnya melihat interaksi Arsen dan kedua anaknya.
“Apa kalian berdua cuma mau berdiri aja di sana?” tanya Alya kepada Arsen dan May.
“Ya engga lah ma.” Jawab May.
“Kalo ga mau ya duduk lah.” Balas Alya kembali.
__ADS_1
May mengangguk sambil tersenyum, lalu dia menggandeng papanya dan menyuruhnya duduk di sebelah Jay dan dia duduk di sebelah mamanya.
Pagi itu suasana sangat hangat, May dan Jay terlihat sangat bahagia walaupun tidak mengatakan apa pun, Alya tahu keluarga utuh yang seperti ini lah yang di inginkan kedua anaknya sejak lama.