
Alya masuk ke dalam cafe yang di maksud, dia langsung mencari keberadaan seseorang yang sedang menunggunya, karena dia sendiri juga tidak mengenali wajah orang yang menghubunginya tadi.
Sampai akhirnya ada seorang wanita yang melambaikan tangannya ke arah Alya sambil berdiri untuk menyambut Alya.
“Selamat siang nona Al, maaf ya aku mengganggu waktunya.” Ucap Cessa dengan sopan.
“Siang, ada apa ya? Sepertinya kamu kelihatan ketakutan sekali.” Ucap Alya.
Alya bisa melihat Cessa terlihat ketakutan sampai dia terus menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum berbicara.
“Kamu kenapa sih?” tanya Alya yang ikut kesal karena Cessa seperti maling yang ketakutan di tangkap polisi.
“Aku panggil Alya aja ya biar lebih enak dan santai.” Ucap Cessa.
Alya hanya mengangguk cepat agar Cessa cepat mengatakan apa yang ingin dia katakan.
“Jadi ada apa?” tanya Alya.
“Sepertinya kamu harus cepat ninggalin tuan Arsen Al, kamu jangan sampai menaruh hati sama laki-laki sepertinya.” Ucap Cessa yang membuat Alya mengerutkan keningnya.
“Maksudnya? Kamu nyuruh aku ninggalin Arsen? Jadi Anjali nyuruh kamu buat bujuk aku ninggalin Arsen? Percuma, ga mempan!” ketus Alya yang mulai emosi.
“Aku ke sini bukan karena suruhan Anjali, semenjak liburan dari Bali aku dan Anjali sudah tidak berhubungan lagi.” Balas Cessa meyakinkan.
“Jangan bohong! Kalau begitu kenapa kamu tiba-tiba datang menyuruhku untuk meninggalkan Arsen?” tanya Alya yang sudah tidak mau percaya lagi.
“Aku mohon dengarkan aku dulu Al, aku ke sini dengan penuh keberanian dan aku bisa saja tidak akan selamat lagi setelah ini.” Ucap Cessa.
Alya kembali terdiam, dia memutuskan untuk mendengarkan apa yang sebenarnya mau di sampaikan oleh Cessa.
“Jadi, aku di sini mau memberitahu kalau sebenarnya Arsen dan Anjali tidak putus Al, mereka berdua masih menjalin hubungan sampai detik ini.” Ucap Cessa.
__ADS_1
Deg! Seketika tubuh Alya mematung, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini.
“A-apa yang kamu katakan barusan?” tanya Alya.
“Mereka masih berhubungan sampai detik ini bahkan tadi aku melihat Anjali ada di basement perusahaan untuk menunggu Arsen Al.” ucap Cessa kembali.
“T-tidak mungkin! Jangan ngarang deh, jelas-jelas tadi Arsen berangkat sama aku.” Ucap Alya.
“Dari rumah emang sama kamu, tapi di luar mereka bertemu, aku memang tidak sempat mengambil gambar mereka saat bersama tapi aku mohon percayalah sebelum kamu terlalu jauh.” Ucap Cessa.
“Aku tau kamu dan Arsen menikah hanya karena keadaan kan? Jadi kamu tidak mungkin sudah memberikan mahkotamu kepadanya kan?” tanya Cessa yang membuat Alya langsung menundukkan kepalanya.
“Kamu sudah memberikannya?” tanya Cessa sambil mengerutkan keningnya saat melihat Alya yang menundukkan kepalanya.
“Oke tidak masalah toh kalian sudah menjadi suami istri, tapi aku mohon lebih baik kamu pakai kb apapun itu untuk mencegah kehamilan, jangan sampai ada anak yang mengikatmu dengan laki-laki itu.” Ucap Cessa.
Alya masih diam, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Cessa, apa lagi selama ini Arsen sangat baik dan perhatian kepadanya.
“Aku tidak tahu kalau ternyata Anjali mengatakan hal itu dengan percaya diri karena dia memang masih berhubungan dengan Arsen.” Lanjutnya.
Seketika Alya ingat, setelah kejadian di ruang makan, dia mendapatkan telfon dari Anjali yang entah wanita itu tahu nomer telfon Alya dari mana.
“Jatuh cintalah sedalam mungkin, karena semakin dalam kamu mencintainya maka semakin terpenjara dirimu, dan aku akan membuatmu berada di dalam penjara paling menyayat hati.”
Itulah kata-kata yang di ucapkan Anjali dan langsung di matikan begitu saja, awalnya Alya tidak ingin memperdulikan hal itu, tapi saat Cessa mengatakan semua kepadanya, seketika Alya jadi khawatir kalau apa yang di katakan Cessa adalah kenyataan.
“Aku harus pergi, kasihan adikku menunggu sendirian.” Ucap Alya yang tiba-tiba berdiri.
“Baiklah, tapi aku mohon pertimbangkan lagi apa yang aku katakan.” Ucap Cessa.
Alya masih diam, dia langsung berjalan keluar dari cafe begitu saja dan kembali ke kantornya. Sang sekretaris merasa aneh melihat wajah Alya yang tidak ceria lagi, bahkan Alya berjalan masuk ke dalam ruangannya begitu saja tanpa menyapa seperti biasanya.
__ADS_1
Namun Sarah hanya diam tidak mengatakan apa-apa, karena mungkin saja Alya sedang banyak pikiran karena kenaikan jabatan membuatnya memiliki banyak pekerjaan.
Di dalam ruangan, Lili masih tertidur di tempat yang sama tidak berpindah sedikit pun. Alya berjalan ke arah mejanya dan duduk di kursinya dengan tatapan yang masih kosong.
Pikirannya kacau, hatinya tak menentu memikirkan apa yang tadi di katakan oleh Cessa kepadanya. Tiba-tiba saja air matanya jatuh, Alya tak kuasa menahan air matanya yang entah kenapa bisa turun begitu saja.
Alya mencoba untuk menghubungi Arsen untuk bertanya tentang keberadaannya dan ingin menepis keraguannya, hanya saja Arsen tidak bisa di hubungi membuat Alya semakin tidak karuan.
Apakah dia akan merasa patah hati lagi? Di saat dia sudah mulai mencintai Arsen? Tidak, Alya tidak akan patah hati lagi karena dia percaya dengan suaminya itu, dia akan mencoba untuk melihat sikap Arsen beberapa hari kedepan sebelum membuat kesimpulan.
Akhirnya Alya mengusap air matanya sekaligus menghapus ucapan Cessa yang sudah mengganggunya beberapa saat.
“Kak?” suara serak khas bangun tidur terdengar di telinga Alya.
Tentu saja Alya sudah tau suara siapa itu, dia tersenyum lalu membalikkan kursi yang dia dudukki menghadap ke arah Alya.
“Hai Li, apa tidurmu nyenyak?” tanya Alya dengan lembut.
“Kakak kok ga bangunin aku sih kalo udah selesai?” tanya Lili.
“Karena kamu terlihat lelah sekali jadi aku membiarkan kamu tidur sedikit lebih lama.” Balas Alya.
Lili hanya mengangguk, lalu perhatiannya beralih pada notes yang ada di atas meja. Dia segera mengambil notes itu dan membacanya.
“Kakak habis pergi?” tanya Lili.
Alya yang sedang memeriksa beberapa berkas pun langsung menoleh ke arah Lili dan mengangguk saat melihat notes yang di pegang Lili.
“Iya tadi aku ke cafe sebelah buat ngopi sebentar, aku juga bawain kamu kopi sama pie yang terkenal di sana, itu ada d dalam paper bag di sebelah kamu nemuin notes.” Ucap Alya.
Benar saja, Lili bisa melihat kalau ada sebuah paper bag kecil yang ada di atas meja. Lili yang sudah lapar pun segera membukanya dan menyantap makanan dan minuman yang ada di dalamnya dengan lahap karena selain lapar, pie itu benar-benar enak seperti yang di katakan Alya.
__ADS_1
Alya tersenyum melihat Lili makan dengan lahap, dia bersyukur ternyata Lili menyukai keik yang dia sukai juga. Tadi dia memang sengaja membelikan makanan dan minuman untuk Lili karena dia tau pasti Lili akan lapar saat bangun tidur nanti dan ternyata dugaannya benar.