DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 54


__ADS_3

“Dia udah ga berguna kalau udah bangkrut Al, tentu aja gue tinggal, buat apa gue terus mempertahankan laki-laki seperti dia.” Jawab Teresa dengan entengnya.


Alya berusaha menahan emosinya, bisa-bisanya wanita yang ada di hadapannya ini mengatakan hal seperti itu, padahal karena dia merebut Tommy membuat hati Alya hancur dan ada perasaan trauma karena hal itu. Bahkan sekarang karena Alya sudah menyukai Arsen, perasaannya tidak menentu, Alya selalu curiga dengan apapun yang di lakukan Arsen. Alya takut kalau hatinya akan patah untuk kedua kalinya.


***


“Yaaa, gue juga ga kaget juga kalo lo bakalan ninggalin dia karena bangkrut, itu juga kesalahan Tommy karena udah ninggalin gue demi sampah kayak lo!” ketus Alya.


“Lo! Cih, udah berani lo ya ngelawan gue.” Ketus Teresa.


“Selama ini juga sebenernya gue berani ngelawan lo, tapi dulu gue masih nganggap lo temen, yah walaupun ternyata temennya brengs3k kayak lo!” ucap Alya dengan santainya.


Teresa kesal mendengar jawaban dari Alya yang sama sekali tidak emosi dengan kata-katanya, justru dia yang saat ini emosi karena Alya.


“Kenapa? lo mau cari mangsa baru di sini?” tanya Alya lalu dia memiringkan wajahnya untuk melihat Wina yang sejak tadi ada di belakang Teresa. “Hati-hati, kalo punya pacar ga usah kenalin ke dia, ntar lo yang jadi korban ke dua.” Ucapnya.


“Diem lo!” ketus Teresa sambil mendorong pundak Alya.


Untung saja Alya masih bisa menahan dan tidak sampai terjatuh, dia masih berdiri dengan tatapan tajam ke arah Teresa. Dan untuk saja butik itu sepi, jadi mereka tidak jadi bahan tontonan orang banyak.


“Oh iya, terus lo di sini sendirian? Kemana suami lo yang katanya kaya itu?” tanya Teresa sambil melihat ke sekitar.


“Kenapa? Karena suami gue kaya terus mau lo godain juga? Dasar cewek gatel! Hahaha.” Ucap Alya.


Alya tetap dengan nada santainya, namun kata-katanya benar-benar menusuk sampai ke lubuk hati paling dalam, eh? Emang Teresa masih punya hati? Wkwkwk.


“Lo!” teriak Teresa yang membuat karyawan yang ada di sana menoleh ke arah mereka, tangan Teresa terangkat ke atas ingin menampar Alya.

__ADS_1


“Kenapa? mau nampar gue? Tampar aja nih, itu emang kelakuan orang kampung kayak lo jadi gue ga kaget. Gue cuma tinggal nyuruh lawyer gue buat bawa masalah ini ke pengadilan, dan lo? Lo akan mendekam di penjara buat beberapa bulan atau tahun?” ucap Alya sambil tersenyum sinis, membuat tangan Teresa terhenti di udara.


Teresa mengurungkan niatnya untuk menampar Alya karena ucapannya dan juga dia melihat ke sekelilingnya yang pada melihatnya.


“Udahlah, gue juga males cari masalah sama lo! Lo mau belanja kan? Lo udah pilih gaun yang mau lo beli?” tanya Teresa meremehkan.


“Kenapa? lo mau beliin gue? Apa lo mau rebut gaun pilihan gue sama kayak lo rebut cowok gue?” tanya Alya.


Alya benar-benar risih dengan sikap Teresa, ingin sekali dia meremas wajah mantan sahabatnya itu, hanya saja dia masih menjaga sikap karena dia akan menjadi bahan tontonan orang jika melakukan hal itu.


“Gue ga selevel sama lo! Gaun pilihan lo pasti gaun kampung, lo dandan kayak sekarang juga karena takut suami kaya lo itu di rebut orang kan? Harusnya dari dulu lo dandan kayak gini biar Tommy ga berpaling ke gue.” Ucap Teresa.


“Re, udah yuk kita balik aja.” Bisik Wina.


“Apaan sih Win, diem aja deh lo!” ketus Teresa.


Teresa yang sudah kesal itu langsung mengambil gaun yang menurutnya bagus tanpa melihat harganya, dia langsung berjalan ke kasir dan berniat untuk membayarnya. Namun saat sang kasir menyebut nominal tiga angka di depannya membuat Teresa melotot tidak percaya, dia tidak memiliki uang sebanyak itu, pengusaha yang dekat dengannya juga belum memberinya kartu kredit karena mereka baru kenal beberapa hari yang lalu saja.


“What? Yakin harganya segitu? Bukannya gue ga mampu bayar ya, tapi desain dan bahan kayak gini terlalu tidak bermutu untuk harga segitu!” ketus Teresa kepada kasir yang ada di hadapannya.


Tentu saja mendengar omelan Teresa membuat Kasir tersebut mengerutkan keningnya, dia di sana hanya bekerja, kenapa malah kena omel karena harga dan bahan gaun yang di jual di toko itu.


“Maaf nona, tapi saya juga tidak tahu masalah bahan dan harganya, selama ini tidak pernah ada pelanggan yang keberatan dengan bahan dan harga gaun yang ada di butik ini.” Balas kasir itu masih dengan nada yang sopan.


“Ini desain siapa sih? Bilang sama yang desain gaun ini, kalau mau untung jangan memeras pelanggan! Untung gue tau masalah bahan.” Ucap Teresa.


“Baiklah nona nanti akan saya sampaikan, lalu nona ini jadi beli gaun ini atau tidak?” tanya kasir tersebut.

__ADS_1


“Tentu tidak! Aku tidak mau tertipu oleh butik ini!” ketus Teresa.


Mendengar hal itu membuat Alya tersenyum sinis, dia langsung berjalan ke arah kasir dan bersandar di meja kasir agar bisa melihat gaun yang di hina oleh Teresa. Alya mulai meraba gaun itu dengan hati-hati dan melihat semua detail jahitannya.


“Gaun ini terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi, semua berlian yang tertempel di gaun ini adalah berlian asli dengan kualitas tinggi, terlebih lagi gaun ini di jahit dengan tangan bukan dengan mesin jahit.” Jelas Alya.


“Kita berada di kelas yang sama dengan jurusan yang sama, tapi selera lo tentang bahan sama sekali tidak meningkat Teresa, apa saja yang lo lakukan di kantor kalau bahan sebagus ini saja lo hina.” Ucap Alya.


Mendengar penjelasan Alya membuat Teresa semakin kesal, terlebih saat kasir dan beberapa pelayan yang ada di sana ikut melihat ke arahnya.


“Kan benar saya bilang, memang gaun di butik ini adalah gaun pilihan dan hanya ada paling banyak dua pcs setiap gaunnya.” Ucap kasir tersebut.


“Sudahlah tidak perlu di pusingkan, saya yang akan membayar gaun ini dan sederet gaun yang ada di sana.” Ucap Alya sambil menunjuk ke arah rak yang sejak tadi sudah dia lihat.


Mendengar ucapan Alya tentu saja semua orang terkejut, termasuk Teresa dan Wina. Mereka berdua benar-benar tidak percaya dengan ucapan Alya.


“Yaampun nona, apa benar yang nona katakan? Nona ingin membeli semua gaun di rak itu? Rak itu adalah deretan gaun-gaun termahal yang ada di butik ini.” Ucap kasir itu tidak percaya.


“Saya yakin, cepat bungkus dengan rapih saya akan melakukan pembayaran.” Balas Alya sambil tersenyum ramah.


“Heh Alya! Lo ga lagi mimpi kan? Ga halu kan lo? Mana ada lo duit segitu banyaknya.” Ucap Teresa yang melihat totalan yang ada di mesin kasir sudah tidak terhitung angka nol nya.


“Gue ga akan mimpi di siang bolong kayak lo Re.” ucap Alya sambil mengeluarkan black card yang membuat kasir dan juga pelayan di sana kembali terkejut.


“Oh my god! Black card? N-nona, kenapa nona tidak bilang kalau anda adalah pelanggan VVIP.” Ucap para pelayan yang langsung menghampiri Alya bahkan sampai Teresa terdorong begitu saja.


Alya hanya tersenyum kecil, dia tidak tahu kalau rencananya untuk membalas perlakuan Teresa malah membuat semua pelayan mengerumininya.

__ADS_1


Sedangkan Teresa yang sudah di ujung tanduk itu langsung pergi dari butik dengan wajah yang memerah karena malu dan juga kesal.


__ADS_2