
Alya dan Arsen pun sudah tiba di apartment Arsen, keduanya langsung masuk ke dalam apartment dan menaruh barang-barang yang mereka bawa untuk di rapihkan dan memasukkan pakaian mereka ke dalam lemari.
Tiba-tiba saja ponsel Arsen berdering dan laki-laki itu langsung mengangkat ponselnya yang ternyata Ferdinand yang mengabarkan kalau mereka harus pergi ke acara pembukaan hotel rekan bisnis mereka.
“Kak Ferdi ya? Ada apa?” tanya Alya saat Arsen sudah menaruh ponselnya kembali ke saku jasnya.
“Maukah kamu ikut aku ke pesta pembukaan hotel rekan bisnisku?” tanya Arsen kepada Alya.
“Tapi, nanti semuanya akan bertanya siapa aku.” Ucap Alya.
“Maka aku akan mengatakan kalau kamu adalah tunanganku, bahkan kalau bisa aku akan mengumumkannya kepada semua orang.” Ucap Arsen.
Alya sedikit ragu, karena Ferdinand pernah memberinya pengertian kalau Arsen tidak mengumbar pernikahannya karena dia memiliki banyak musuh yang bisa mengancam keselamatan Alya, terutama saat Arsen tidak bisa terus menjaga Alya.
“Tidak masalah jika kamu hanya tunanganku saja, mereka akan mengira kalau kamu adalah orang yang di jodohkan oleh orang tuaku tanpa ada perasaan apapun, berbeda dengan Anjali yang akan terus di kaitkan padaku karena banyak yang mengetahui hubunganku dan dia.” Jelas Arsen.
“Jadi aku mohon jangan di ambil hati jika ada orang yang bertanya tentang Anjali. Kamu tau kan kalau aku dan Anjali sudah tidak memiliki hubungan apa pun, saat tubuh kita bersatu saat itulah aku yakin kalau aku akan melepaskan Anjali dan membangun hubungan bersamamu.” Lanjutnya.
Mendengar hal itu membuat Alya terdiam, dia akhirnya mengangguk dan bersedia untuk ikut dengan Arsen ke acara rekan kerjanya.
“Tapi aku ga punya gaun untuk ke sana Arsen.” Balas Alya.
“Tidak usah memikirkan hal itu, sebaiknya kita selesaikan beres-beresnya, habis itu kita keluar makan siang lalu aku akan mengantarmu ke salon.” Ajak Arsen.
Alya hanya mengangguk dan langsung merapihkan pakaiannya dan pakaian milik Arsen dengan lebih cepat lagi. Hanya itulah yang perlu di lakukan Alya karena memang semuanya sudah sangat rapih dan bersih karena Arsen menyuruh ART yang memang dia pekerjakan di apartmentnya untuk membersihkan semuanya sebelum dia dan Alya datang.
***
Di tempat lain, Teresa sedang memoles make up di wajahnya dengan sangat tebal karena hari ini dia akan melakukan kencan buta dengan seorang pengusaha.
Drrtt,,drrtt.. ponsel Teresa berdering tanda pesan masuk yang langsung di lihat oleh Teresa.
“Arrghhh..” geram Teresa saat melihat pesan masuk di ponselnya.
“Ada apa sih Re? Ga jadi keluar?” tanya Wina, teman Teresa yang saat itu sedang berada di apartment Teresa.
“Yah, gue ga jadi keluar sekarang, tapi dia ngajak gue buat ngehadirin acara launching hotel rekan bisnisnya.” Balas Teresa.
__ADS_1
“Terus kenapa lo kesel gitu?” tanya Wina.
“Gue takut ketemu sama si Tommy, lo tau kan dia lagi nyari-nyari gue, dia juga pengusaha, gue takut aja dia ada di sana juga.” Balas Teresa.
“Kayaknya ga akan deh, lo ga tau kabar tentang Tommy sekarang gimana?” tanya Wina.
Mendengar pertanyaan temannya membuat Teresa langsung menoleh sambil mengerutkan keningnya.
“Emangnya kenapa dia?” tanya Teresa.
“Dia udah bangkrut Re, dia ga bisa bayar hutang-hutang yang udah numpuk.” Balas Wina.
“What!? Serius lo?” ucap Teresa yang terkejut.
Karena Teresa mengira kalau Tommy akan mendapatkan jalan keluar entah dengan cara apa pun karena Tommy memiliki banyak teman, tapi ternyata dia tidak menemukan jalan keluar dan hal itu mengakibatkan perusahaannya bangkrut.
Teresa menunduk, dia sedikit merasa bersalah karena hutang-hutang yang membuat perusahaan Tommy bangkrut adalah tagihan-tagihan belanjanya.
“Ya serius Re. Lo kenapa malah jadi bengong gitu sih Re?”
Pertanyaan dari temannya membuat Teresa tersadar dan langsung kembali menoleh ke arah temannya.
“Okey, ayo gue tinggal pake jaket gue kok.” Ucap Wina yang di balas anggukan oleh Teresa yang memang juga sudah siap.
Mereka berdua sudah berada di butik untuk memilih gaun yang akan di pakai Teresa nanti malam.
Saat sedang memilih, Teresa seketika melihat ke arah seseorang yang sangat dia kenal berada di butik yang ada di sebrang butik yang dia datangi. Tangan Teresa seketika mengepal dengan erat sambil menatap penuh kebencian pada orang itu.
“Lo kenapa Re? liat apaan sih lo?” tanya Wina.
“Liat orang yang bakal gue benci seumur hidup gue!” ketus Teresa yang membuat Wina ikut melihat ke arah Teresa menatap.
“Siapa sih Re?” tanya Wina yang tidak tau sebenarnya Teresa melihat ke arah siapa.
“Alya.” Jawab Teresa yang masih menatap tajam ke arah Alya yang sedang memilih gaun.
“Alya temen lo? Pacarnya Tommy? Yang mana sih?” tanya Wina yang di balas anggukan oleh Teresa sambil menunjuk ke arah Alya.
__ADS_1
“Wih gila, dulu lo bilang dia super culun kan Re? Sekarang jadi cantik banget Re, kalah lo sama dia terus dia beli gaun di butik kelas atas lagi, ga kayak kita di butik menengah gini.” Ucap Wina yang berniat untuk bercanda.
Namun dia tidak tahu kalau ucapannya malah membuat Teresa semakin emosi dan langsung mengajak Wina untuk pergi ke butik yang sama dengan Alya.
“Gila ya lo Re? Butik itu harga paling murah bisa buat beli motor, lo mau belanja di sana? Serius lo Re!” ucap Wina.
“Lo kira gue ga punya uang hah!? Gue juga punya uang buat beli gaun di butik itu!” ketus Teresa.
“Re! Gue tadi cuma bercanda aja kok ga beneran sumpah deh!” ucap Wina sambil berjalan mengikuti Teresa keluar dari butik itu.
Namun Teresa sama sekali tidak menggubris ucapan Wina, dia tetap berjalan masuk ke butik kalangan atas itu.
Teresa sengaja berpura-pura memilih gaun yang sederetan dengan Alya, sedangkan Wina hanya pasrah mengikuti Teresa dengan wajah yang menunduk karena dia takut kalau Teresa malah akan membuat mereka berdua malu.
Teresa terus bergeser sedikit demi sedikit sambil memilih gaun, lalu tiba-tiba saja dia menabrak tubuh Alya. Alya terkejut saat seseorang menabraknya, sedangkan Teresa hanya berpura-pura terkejut dan meminta maaf.
“Sorry sorry gue ga li—Alya?” ucap Teresa yang pura-pura terkejut karena bertemu dengan Alya.
“Tere?” ucap Alya yang sebenarnya tidak suka dengan pertemuan mereka ini.
“Lo ngapain di sini Al?” tanya Teresa.
“Lo pikir gue di butik mau belanja sayur?” ketus Alya.
“Hahaha, lo emang mampu beli gaun di butik ini Al? Apa cuma liat-liat doang?” ucap Teresa sambil tertawa remeh.
Alya tidak percaya kalau Teresa masih saja tidak berubah, wanita itu masih suka merendahkannya sama seperti dulu waktu mereka masih SMA dan kuliah.
“Bukan urusan lo, gue mampu apa nggak beli gaun di sini sama sekali ga ada urusannya sama lo!” ketus Alya.
“Lo masih marah sama gue Al? Gue sama Tommy udah ga ada hubungan apa-apa Al, Tommy juga udah bangkrut sekarang, lo ga tau?” tanya Teresa.
Alya sama sekali tidak terkejut dengan apa yang di katakan Teresa, bahkan dia sama sekali tidak perduli dengan kabar Tommy sama sekali.
“Oh gitu, karena dia udah bangkrut terus lo tinggal gitu aja?” tanya Alya dengan senyum sinis.
“Dia udah ga berguna kalau udah bangkrut Al, tentu aja gue tinggal, buat apa gue terus mempertahankan laki-laki seperti dia.” Jawab Teresa dengan entengnya.
__ADS_1
Alya berusaha menahan emosinya, bisa-bisanya wanita yang ada di hadapannya ini mengatakan hal seperti itu, padahal karena dia merebut Tommy membuat hati Alya hancur dan ada perasaan trauma karena hal itu. Bahkan sekarang karena Alya sudah menyukai Arsen, perasaannya tidak menentu, Alya selalu curiga dengan apapun yang di lakukan Arsen. Alya takut kalau hatinya akan patah untuk kedua kalinya.