
"Jika anak-anak pada akhirnya tidak juga menyukaimu, maka jangan harap kita bisa membicarakan tentang hubungan kita." tegas Alya yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam lagi menemui anak-anaknya.
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Arsen, baru kali ini Alya menatapnya dengan berani dan mengatakan hal yang tegas.
"Woy! Ngelamun aja lo, kesambet tau rasa!" ketus Ferdinand sambil menepuk punggung Arsen membuat orang yang di tepuk langsung terlonjak kaget.
"Anjir lo Fer! Lo seneng gue jantungan ya!?" ketus Ferdinand.
"Lagian lo kenapa ngelamun aja sih Sen? Semenjak ketemu sama Alya dan anak-anak lo, sikap lo berubah begitu." balas Ferdinand.
"Emang kalo lo jadi gue ga akan shock Fer? Lo nyari istri lo yang udah lama menghilang ternyata sekalinya ketemu lo udah punya anak umur lima belas tahun?" tanya Arsen kepada Ferdinand.
"Ga tau sih, kan gue belum punya anak, gimana punya anak, istri aja gue belum punya." balas Ferdinand dengan santainya membuat Arsen kesal.
"Makanya kawin lo! Keburu jadi perjaka tua lo!" ketus Arsen.
"Eh lupa, lo udah ga perjaka kan?" lanjutnya.
"Sialan lo Sen!" ketus Ferdinand sambil melempar bantal kursi ke arah Arsen.
__ADS_1
"Gue punya tugas buat lo." ucap Arsen tiba-tiba setelah dia berhasil menghindar dari lemparan bantal Ferdinand.
"Tugas apaan sih Sen.." keluh Ferdinand.
"Cari semua data tentang anak-anakku! Semua tanpa terlewatkan!" seru Arsen.
Ferdinand hanya menghela napas panjang saat mendapatkan tugas seperti itu, karena dia sebenarnya sudah menyiapkan semuanya.
"Nih! Gue udah tau lo bakal nyuruh gue nyari itu makanya gue nyari sebelum lo minta." ucap Ferdinand sambil memberikan map yang sejak tadi dia minta.
"Lo emang yang terbaik Fer, tapi lebih baik lagi kalo lo yang bacain." ucap Arsen dengan santainya.
"Mayden Aurora, lima belas tahun, terkenal orang yang baik namun kalau sudah marah semua orang akan takut padanya, dia memiliki paras yang sangat cantik membuat semua laki-laki menyukainya bahkan ada yang terang-terangan mengejarnya." jelas Ferdinand.
"Jayden Arsena, lima belas tahun, dia lahir setelah Mayden yang artinya dia adalah adik Mayden, dia memiliki sifat yang sangat dingin hingga tidak ada wanita yang berani mendekatinya padahal banyak wanita yang menyukainya karena ketampanannya, dia juga yang selalu menghajar laki-laki yang berani mendekati Mayden." lanjut Ferdinand.
Lalu Ferdinand memberikan dua foto kepada Arsen.
"Ini adalah foto mereka saat berusia tujuh tahun." ucap Ferdinand.
__ADS_1
"Dan ini adalah foto mereka saat ini." lanjutnya.
"Ini juga ada foto saat mereka berlibur, Alya sering mengajak mereka berlibur di sela-sela waktunya bekerja." ucap Ferdinand kembali.
Arsen menatap nanar foto yang di berikan Ferdinand kepadanya, dia merasa sedih karena tidak bisa menemani anak-anaknya berlibur, dia tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anaknya.
"Seharusnya aku ada di sana bersama mereka, kenapa dulu aku sempat menyerah mencari mereka?" gumam Arsen dengan nada sedih membuat Ferdinand sebagai teman turut merasakan kesedihan Arsen.
"Udah lah ga usah lo pikirin lagi Sen, mending sekarang lo pikirin gimana caranya ngambil hati Alya dan anak-anak lo, gue tau mereka pasti benci banget sama lo, apa lagi waktu itu lo sama anak-anak lo punya masalah." jelas Ferdinand.
Arsen mengangguk mendengar ucapan Ferdinand yang ada benarnya juga. Lalu dia segera menaruh foto-foto anak-anaknya di bingkai foto yang ada di atas meja sambil tersenyum senang.
Arsen bersyukur karena sudah menemukan kembali keluarga kecilnya.
__ADS_1