
Setelah selesai mandi dan bersiap, Arsen pun keluar dari kamar mandi, dia juga melihat Alya sudah selesai make up dan pandangan Arsen beralih ke arah leher Alya yang sudah bersih tidak ada tanda merah sedikitpun.
“Lihat kan, tanda itu bisa di tutupi oleh make up.” Ucap Arsen.
“Iya kamu benar, kenapa kamu bisa tau kalau make up bisa menutupi tanda ini? Aku saja tidak tau.” Ucap Alya.
“Itu karena Anjali juga melakukan hal yang sama.” Balas Arsen tanpa sadar.
Deg! Mendengar ucapan Arsen membuat Alya seketika mematung, dadanya terasa sesak dan air matanya rasanya sudah memenuhi kedua matanya.
Arsen yang merasakan keheningan di sana langsung tersadar, matanya melotot lalu segera menoleh ke arah Alya untuk melihat sang istri.
“A-Al, sorry maksudku tadi...”
“Tidak apa, aku juga sudah menduga kamu dan kekasihmu tidak mungkin tidak melakukan apapun.” Balas Alya dengan cuek lalu dia segera berjalan menuju pintu kamar.
Dengan segera Arsen menggenggam tangan Alya membuat Alya menoleh dan menghentikan langkahnya.
“Al, aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun, aku dan Anjali hanya sebatas bersentuhan tapi tidak sampai melakukan hubungan suami istri.” Ucap Arsen berusaha menjelaskan kepada Alya.
“Hem, aku percaya.” Ucap Alya dengan singkat sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Arsen.
“Kenapa ga senyum? Kamu masih marah sama aku kan?” ucap Arsen.
“Engga kok, aku ga marah sama kamu, aku mau cepetan keluar aku laper.” Balas Alya yang sudah berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Arsen dan segera keluar dari kamar.
Seketika Alya terkejut saat melihat seorang wanita cantik dengan pakaian seksi sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan Arsen.
Padahal tidak ada yang bisa masuk ke dalam villa yang di tempati mereka selain Daisy dan Ferdinand, tapi entah kenapa bisa wanita cantik ini ada di depan kamar mereka.
Alya terus melihat ke arah wanita yang saat itu juga sedang melihat ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
“Kamu siapa?” tanya Alya kepada wanita itu.
“Di mana Arsen?” wanita itu malah balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Alya.
“Arsen?” gumam Alya.
__ADS_1
Alya tidak tau siapa wanita yang dengan beraninya memanggil suaminya itu dengan namanya, apa jangan-jangan...
Ceklek, Arsen keluar dari kamar dan seketika wanita itu tersenyum lebar lalu mendorong tubuh Alya ke samping dan berlari memeluk tubuh Arsen.
“Bebiii!!!” seru wanita cantik itu sambil memeluk tubuh Arsen dan menciumi pipi laki-laki itu.
Tentu saja Alya semakin panas melihat hal itu, saat itu juga Alya baru tersadar kalau wanita cantik nan seksi itu adalah kekasih Arsen, Anjali.
Arsen terkejut saat mendapatkan pelukan dan ciuman dari kekasihnya itu, terlebih saat ini Alya masih ada di sana dan melihat semua adegan yang ada di hadapannya.
“Lepaskan!” tegas Arsen sambil mendorong Anjali.
“Beb, kenapa kamu mendorong tubuhku?” tanya Anjali tidak suka.
“Kenapa kamu bisa ada di sini Anjali?” tanya Arsen.
“Kamu ga suka aku di sini? Bukannya kamu bilang kalau kamu selalu merindukan aku beb?” tanya Anjali sambil merengek.
Alya yang sudah sangat kesal itu tidak ingin lagi melihat kedua pasangan itu bermesraan lebih lama lagi, akhirnya dia segera meninggalkan Arsen dan Anjali begitu saja tanpa berpamitan.
“Kamu mau ninggalin aku cuma buat ngejar dia?” tanya Anjali tidak suka.
“Anjali, sebenarnya kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Arsen dengan wajah serius.
“Aku tau dari temanku, kebetulan aku juga ada pemotretan di sini besok jadi aku sengaja berangkat lebih dulu buat ketemu sama kamu dulu beb.” Jelas Anjali.
“Untuk apa kemari? hubungan kita sudah selesai sejak aku menikah Anjali.” Ucap Arsen.
“Kenapa kamu bicara seperti itu Arsen? Hubungan kita tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun.” Balas Anjali tidak terima.
“Terserah padamu saja, lebih baik kamu segera pergi dari sini dan jangan buat keributan, aku tidak ingin kedatanganmu membuat mood semua orang hancur.” Ucap Arsen yang langsung berjalan meninggalkan Anjali begitu saja.
Mendengar ucapan Arsen membuat Anjali kesal, dia tidak percaya kalau dirinya akan di abaikan seperti ini.
“Aku membiarkanmu menikah karena itu adalah cara untuk menyelamatkan hak warismu, tapi kalau begini akhirnya aku menyesal sudah membiarkanmu menikah, dan aku berjanji akan merebutmu kembali Arsen.” Gumam Anjali yang saat ini sedang memandangi punggung Arsen dari jauh.
Arsen berjalan dengan cepat mencari keberadaan sang istri, dia melihat ke sekeliling villa yang dia tempati namun tidak ada tanda keberadaan Alya sama sekali di sana, akhirnya Arsen memutuskan untuk mencari keberadaan Alya ke ruang makan.
__ADS_1
Dan benar saja, di sana ada Alya yang sedang membantu para koki memasak dan semua karyawan juga sudah duduk di kursi makan mereka masing-masing.
Arsen sedikit lebih tenang karena dia melihat Alya masih ada di sana, awalnya Arsen pikir Alya akan kabur karena hal ini tapi ternyata tidak.
Arsen memutuskan untuk duduk di sebelah Ferdinand, dia memutuskan untuk membiarkan Alya menikmati waktunya dan tidak ingin menghancurkan moodnya lagi.
Arsen menatap Alya yang masih fokus memasak dengan sesekali tertawa saat ada hal yang lucu, melihat hal itu Arsen terus menerus menghela nafas panjang membuat Ferdinand yang dari tadi mendengarkan lama-lama menjadi kesal.
“Lo ini sebenernya kenapa sih Sen? Dari tadi gelisah banget, kuping gue sakit.” Ucap Ferdinand yang akhirnya tidak tahan sampai berubah menjadi mode teman.
“Anjali datang.” Ucap Arsen dengan singkat namun mampu membuat Ferdinand menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut.
“What? Anjali? Bagaimana bisa?” tanya Ferdinand.
“Kok malah nanya balik sih? Mana gue tau kenapa dia bisa ke sini.” Balas Arsen.
“Terus Alya? Dia udah lihat Anjali?”
“Jangan di tanya, gue ga akan gelisah begini kalo bukan karena itu.” Balas Arsen.
“Wah gila lo Sen, istri lo sama kekasih lo ada di satu tempat yang sama, gue yakin kalo kalian bakal jadi bahan gosip.” Ucap Ferdinand.
“Gimana cara buat dia pergi dari sini?” tanya Arsen.
“Dia siapa? Alya? Apa Anjali?” tanya Ferdinand.
“Anjali lah bodoh! Masa iya gue nyuruh istri gue yang pergi.” Ketus Arsen.
“Haaah, gimana ya, lo tau sendiri kan gimana Anjali Sen? Dia keras kepala.” Ucap Ferdinand.
“Gua ga mau tau, pokoknya dia harus pergi dari sini secepatnya Fer, gue ga mau hubungan gue sama Alya jadi canggung lagi.” Ucap Arsen.
“Hem, akan gue usahakan Sen, tapi gue ga janji karena sifat Anjali yang kayak gitu.” Balas Ferdinand.
Arsen hanya menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan, dia juga tidak bisa memaksa Ferdinand untuk mengusir Anjali yang sifatnya seperti itu.
Arsen paham betul bagaimana sifat Anjali, dia tidak akan pernah mengalah untuk hal apapun, dia harus mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan.
__ADS_1