
Masakan Bella pun sudah tertata rapih di atas meja makan, menu masakan Bella sebenarnya biasa saja, namun terlihat mewah karena Bella menghias setiap piring dengan baik.
Liam ternganga melihat menu masakan yang ada di hadapannya, dia tidak percaya kalau satu orang bisa membuat menu sebanyak itu.
"Apa kamu selalu memasak sebanyak ini Bell? Kamu hanya makan sendirian kan? Tidak mungkin makan sebanyak ini." ucap Liam.
"Aku memang biasa masak sebanyak ini kok, tapi bukan aku yang makan semua ini, aku pasti membaginya kepada para tetangga." jelas Bella.
"Ah begitu, padahal tetangga-tetangga di sini banyak yang ngomongin kamu, tapi kenapa kamu masih ngasih mereka?" tanya Liam.
"Emangnya kenapa? Bukan berarti karena mereka ngomongin aku terus aku ikutan jahat kan? Biarin aja tuhan yang bales semuanya." balas Bella.
"Kamu terlalu baik, itulah kenapa banyak orang yang memperlakukan kamu seenaknya."
Bella hanya diam saja tidak mengatakan apapun dan lebih memilih untuk duduk di kursi makannya.
"Jangan banyak tanya, udah ayo makan katanya laper." ucap Bella.
Liam hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bella lalu dia segera mengambil nasi dan lauk yang ada di sana tanpa ragu, karena memang dari kelihatannya saja sudah sangat enak.
Liam langsung melahap makanan ke dalam mulutnya dan...
Blushhhh,, seketika wajah Liam memerah, bukan karena merasa pedas atau malu, tapi wajah Liam memerah karena rasa makanan yang saat ini ada di dalam mulutnya sangatlah enak.
"Kenapa Liam? Apa masakanku tidak enak sampai wajahmu memerah begitu?" tanya Bella.
"Bukan itu Bella, tapi masakan ini terlalu enak!" seru Liam dengan nada berteriak.
"Apaan sih lebay banget deh!" ketus Bella kesal.
__ADS_1
"Aku bicara jujur Bella, masakanmu benar-benar enak! Boleh kan kalo aku tiap hari makan di sini?" tanya Liam.
"Enak aja! Beras mahal, nanti habis kalo kamu makan di sini terus!" balas Bella.
"Lah kamu ngasih tetangga makan kok aku ga di kasih?" tanya Liam.
"Tapi kamu kan masih mampu beli makan Liam." ucap Bella.
"Kata siapa? Aku ini kaum dhuafa loh." balas Liam.
"Amiin...." ucap Bella dengan panjang.
"Loh loh kok di Aminin?"
"Kan kamu yang bilang sendiri, jadi aku Aminin lah, salah sendiri ngaku-ngaku kaum dhuafa." balas Bella.
"Udah habisin, kamu boleh makan di sini tapi jangan sering-sering nanti malah ada gosip yang aneh-aneh." ucap Bella.
Karena sekarang saja sudah ada banyak gosip yang beredar kalau Bella hamil di luar nikah itulah kenapa dia pindah dari tempat tinggalnya yang dulu dan berusaha untuk menghindar, namun Bella tidak menggubris hal itu karena apa yang mereka bicarakan tidak benar.
***
Satu tahun pun berlalu, usaha butik Bella semakin berkembang dan dia mulai bekerja sama dengan beberapa mall ternama dan juga perusahaan mode ternama termasuk perusahaan Liam.
Selama ini Liam memang sudah menawarkan untuk membantu Bella agar dia mau bekerja bersamanya, namun ternyata Bella tidak mau karena dia ingin merintis semuanya dari nol.
Alhasil semua usahanya tidak sia-sia, butiknya sukses dan berhasil menggaet perusahaan ternama.
Bella juga sudah melahirkan putra putri yang sangat tampan dan cantik, yang dia beri nama Mayden dan Jayden.
__ADS_1
Usia mereka baru tiga bulan setengah, semua keluarga Bella sering kali datang untuk menengok cucu-cucu pertama mereka yang sangat menggemaskan itu.
Walaupun Bella sering menyuruh keluarganya untuk tidak sering-sering mengunjunginya, tapi tetap saja mereka kan datang tiba-tiba.
Yang Bella takutkan hanya Arsen, Arsen bisa saja masih mencarinya dan mengikuti keluarganya.
Lily bilang, Arsen sekarang kembali menjadi laki-laki yang dingin, bahkan lebih parah di bandingkan Arsen yang dulu sebelum menikah dengan Alya.
Di hidup Arsen saat ini hanyalah kerja, dan m4buk-m4bukan, bahkan dia tidak akan makan kalau tidak di ingatkan.
Hidup Arsen saat ini sangat tidak sehat, Oma Nani sering kali menangisi Arsen karena saat ini cucunya benar-benar berhati dingin bahkan kepadanya.
Mungkin Arsen marah karena Oma Nani tidak mau membantunya untuk menemukan Alya, tapi Oma Nani tidak ingin cucunya menyakiti Alya kembali.
Arsen juga sudah berhenti menyuruh orang-orangnya untuk mencari Alya dan Anjali yang sampai saat ini tidak juga di temukan.
"Bella, apa kamu baik-baik saja bekerja membawa mereka?" tanya Liam kepada Bella.
Pasalnya wanita itu sudah bertekad untuk bekerja membawa kedua anaknya, anak-anaknya sangat pintar, mereka tidak pernah rewel seolah tahu kalau ibu mereka adalah wanita karir yang memiliki banyak pekerjaan.
"Tidak apa-apa Liam, anak-anakku ga rewel kok, mereka mengerti pekerjaanku." balas Bella.
"Tapi Al..."
"Tidak apa-apa Liam, di butik juga banyak karyawati yang bisa aku percaya kok." ucap Bella meyakinkan.
Liam akhirnya pasrah menuruti ucapan Bella dan membantunya untuk menyiapkan May dan Jay untuk di bawa ke butik Bella.
Liam memang selalu membantu Bella, bahkan setiap pagi Liam akan mampir ke rumah Bella untuk membantu Bella, karena dia tahu Bella akan kesulitan saat pagi.
__ADS_1