DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 31


__ADS_3

“Lalu apa yang akan kita lakukan oma?” tanya Ferdinand.


“Bisakah kamu menyewa orang yang bisa kita percaya? Oma takut kalau mereka akan membahayakan Alya, jadi sewa orang untuk menjaga Alya tanpa ketahuan oleh siapapun termasuk Arsen dan Alya.” Ucap oma Nani.


“Baik oma, akan segera aku lakukan.” Ucap Ferdinand.


“Kamu tidurlah di sini, kamarmu selalu di bersihkan rutin setiap hari walau tidak di tempati.” Ucap oma Nani.


Ferdinand memang memiliki kamar sendiri di sana karena sejak kecil dia dan keluarganya selalu menginap di sana setiap akhir pekan.


“Tidak oma, aku akan kembali ke apartment saja karena masih banyak yang harus aku lakukan.” Ucap Ferdinand.


“Apa lagi yang harus kau lakukan? Apa Arsen memberimu banyak pekerjaan? Arsen sudah menikah, sebaiknya kau juga mencari wanita baik-baik untuk di jadikan pendamping hidup.” Ucap oma Nani.


“Masih banyak yang harus aku lakukan oma, aku belum memikirkan tentang pernikahan saat ini.” Balas Ferdinand sambil tersenyum.


“Kau ini sama saja seperti Arsen, kalian juga harus memikirkan masa depan kalian, apa perlu oma mencarikan calon istri untukmu?” tanya oma Nani.


“Oma, jangan melakukan hal seperti itu, aku tidak mau berkali-kali kencan buta seperti yang oma lakukan kepada Arsen.” Protes Ferdinand yang membuat oma Nani tertawa mendengarnya.


Dia jadi teringat kalau dia seringkali membuat Arsen kesal karena terus menerus menyuruhnya untuk kencan buta dengan wanita yang di pilih omanya, tapi syukurlah sekarang Arsen sudah memiliki istri yang baik seperti Alya.


“Kalau begitu Ferdi pamit dulu ya oma.” Pamit Ferdinand.


“Baiklah, oma akan mengantarmu.” Ucap oma Nani.


“Engga perlu oma, lebih baik oma istirahat saja, Ferdi bisa sendiri oma.” Ucap Ferdinand.


Oma Nani hanya mengangguk lalu membiarkan Ferdinand untuk pulang sendiri. Oma Nani tidak bisa memaksa Ferdinand untuk tidur di sana karena Ferdinand bukan lagi anak kecil yang harus di paksa-paksa.


***


Pagi harinya, Alya lebih dulu membuka kedua matanya secara perlahan, dia menyisir seluruh ruangan dan dia baru ingat kalau mulai semalam dia tidur di rumah oma Nani.


Lalu tiba-tiba Alya beralih pada tangan kekar yang melingkar di perutnya, Alya baru merasa kalau pinggangnya memang terasa lebih berat dari biasanya, dia terkejut saat melihat tangan Arsenio memeluk tubuhnya.


Dengan ekstra hati-hati Alya melepaskan tangan Arsenio yang melingkar di tubuhnya, lalu dia perlahan turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati lalu segera berjalan menuju kamar mandi untuk mandi.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi, Alya lebih dulu melihat ke arah cermin yang ada di sana, tiba-tiba Alya memegang kedua pipinya yang terasa panans dan mulai memerah.


“Bodoh Alya! Kenapa pipi kamu memerah hanya karena hal seperti itu?” gumam Alya sambil memukul-mukul pelan pipinya.


Alya langsung menggelengkan kepalanya lalu memutuskan untuk mandi dan berniat untuk ke bawah menyiapkan sarapan.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya, Alya segera keluar dari kamar tanpa membangunkan Arsenio karena langit masih gelap, bahkan di dapur juga belum ada orang sama sekali.


Alya sebenarnya ragu dan takut mau mulai memasak karena itu bukan dapurnya, dia takut di kira lancang jika mau membuka lemari atau kulkas untuk mencari bahan makanan.


Namun dia kembali mengingat ucapan oma Nani kalau Alya bisa memakai dapur sesukanya, jadi dengan segera Alya mulai meregangkan otot-ototnya sebelum akhirnya dia mulai mengambil satu per satu bahan makanan dan mulai memasak makanan yang biasa dia masak di rumahnya.


Alya memasak ayam goreng lengkoas, gurami bakar madu, nasi goreng, capcai dengan sayur seadanya, Alya juga takjub karena lengkap sekali bahan makanan di kulkas oma Nani.


“Haaah, akhirnya selesai juga.” Ucap Alya sambil tersenyum dan membuka apron yang dia pakai tadi.


Sampai setelah Alya selesai menata semua masakan itu di atas meja makan, para pelayan terkejut saat melihat pekerjaan mereka sudah di selesaikan oleh Alya.


“Yaampun nona Alya, kenapa nona memasak?” tanya salah satu pelayan.


“Tidak apa-apa mbak, saya biasa bangun pagi jadi sekalian aja masak dari pada nganggur.” Balas Alya.


“Belum mbak, ini saya baru selesai masak.” Balas Alya.


“Kalo gitu non Alya duduk aja, biar sisanya kami yang melakukannya.”


“Baiklah kalau begitu, saya ke atas dulu ya mbak mau bangunin Arsen.” Ucap Alya yang di balas anggukan oleh para pelayan.


Alya segera berjalan ke atas masuk ke dalam kamar untuk membangunkan suaminya, sedangkan di bawah para pelayan memandang aneh dengan menu makanan yang ada di atas meja makan, karena masakan itu bukan masakan yang biasa di masak oleh mereka.


“Jangan ngeliat aneh gitu ke makanan.” Ucap salah satu pelayan senior yang mengerti dengan apa yang di pikirkan pelayan yang lain.


“Ini masakan Indonesia, nyonya besar memang menyuruhku untuk membeli bahan makanan yang biasa di masak oleh orang sana karena nona Alya dari sana.” Jelas pelayan senior tersebut.


Semuanya mengangguk, namun yang mereka takutka hanya satu, yaitu anak-anak oma Nani, mereka pasti protes tentang makanannya, mereka takut di marahi dan juga takut kalau ini akan menjadi bahan untuk menghina Alya.


“Semoga saja mereka tidak berkata yang tidak-tidak karena masakan nona Alya ya.” Bisik pelayan 1.

__ADS_1


“Iya, kasihan nona Alya kalau harus mendapat kata-kata yang tidak enak di hari pertamanya di sini.” Balas pelayan 2.


“Hust! Jangan banyak bicara, ayo kita lanjutkan pekerjaannya.” Tegas pelayan senior itu.


Semuanya langsung bergegas untuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing tanpa ada pembicaraan lagi.


Di dalam kamarnya, Alya melihat kalau Arsenio masih terlelap di balik selimutnya, dia menarik nafas panjang karena seketika Alya merasa gugup untuk membangunkan Arsenio.


Perlahan Alya berjalan mendekati tempat tidur, lalu tangannya mulai menjulur menyentuh bahu Arsenio.


“Sen, Arsen bangun.” Panggil Alya sambil terus menarik-narik baju Arsenio.


“Heemmm..” gumam Arsenio yang bergerak sedikit lalu kembali tertidur.


Alya kembali membangunkan Arsenio dengan suara sedikit keras agar terdengar.


“Arsen, ayo udah siang ini.” Ucap Alya.


Bukannya terbangun, Arsenio malah menarik tangan Alya membuat wanita itu langsung terjatuh di atas tempat tidur tepat di sebelah Arsenio.


Alya berusaha untuk berdiri kembali, tapi Arsenio malah kembali menariknya dan sekarang laki-laki itu malah memeluk tubuh Alya dengan erat.


“Arsen jangan bercanda deh!” tegas Alya sambil terus berusaha untuk melepaskan diri.


“Biarin kayak gini dulu, bau tubuh kamu enak aku pengen peluk terus.” Ucap Arsenio yang masih memejamkan kedua matanya.


Alya kesal, dia menatap tajam wajah Arsenio yang masih menutup matanya, entah laki-laki itu sadar atau tidak saat mengatakan hal itu kepadanya.


Alya yang sudah lelah hanya bisa pasrah membiarkan Arsenio memeluk tubuhnya, namun Alya tiba-tiba tertarik untuk membalas pelukan Arsenio.


Tubuh laki-laki itu sangat kekar membuat Alya penasaran bagaimana rasanya memeluk tubuh se kekar itu.


Alya lebih dulu memastikan apakah Arsenio benar-benar masih tertidur apa tidak, dan saat memastikan kalau suaminya itu masih terlelap, Alya langsung menggerakkan tangannya dan mulai menaruhnya di atas pinggang Arsenio.


Alya memejamkan kedua matanya merasakan sensasi pelukannya dan menikmati tubuh kekar Arsenio.


Entah sejak kapan Alya jadi agresif begini, padahal sejak dulu Alya sama sekali tidak pernah memikirkan tentang hal itu, bahkan saat dulu Tommy meminta untuk menciumnya saja Alya tidak mau dan langsung marah kepada Tommy.

__ADS_1


Namun sekarang dia malah penasaran dengan tubuh kekar suaminya dan berinisiatif untuk memeluk tubuh laki-laki yang dia anggap kejam itu.


__ADS_2