DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 16


__ADS_3

Alya sudah masuk ke dalam apartemennya saat ini, sedangkan Tommy masih mematung di depan pintu apartment Alya, dia tidak percaya hubungannya dengan Alya yang sudah bertahun-tahun hancur begitu saja.


Rencana yang sudah tersusun rapih bersama Teresa ternyata gagal total! Ingin sekali rasanya Tommy berteriak kencang namun rasanya suaranya sudah tidak bisa keluar lagi.


Sedangkan Arsenio tersenyum penuh kemenangan melihat Tommy di tolak mentah-mentah oleh Alya. Tommy yang melihat ekspresi Arsenio pun terlihat kesal namun dia juga tidak bisa melakukan apapun.


Arsenio segera masuk ke dalam apartemennya setelah tersenyum mengejek ke arah Tommy, sedangkan Tommy hanya bisa menahan rasa kesalnya dan segera pergi dari apartment itu.


Di dalam kamarnya, Alya sedang menangis sambil merapihkan semua barang yang mengandung kenangannya bersama Tommy dan Teresa, biarlah nanti dia membeli barang-barang yang baru, sekarang yang penting dia ingin menghapus semuanya tentang Tommy dan Teresa.


Alya tidak menangisi Tommy, namun dia menangisi waktu yang selama ini terbuang untuk mencintai orang yang salah.


Alya segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya setelah selesai merapihkan semua barang-barang yang mau dia kembalikan kepada orangnya, lalu dia segera berbaring untuk beristirahat karena hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya.


***


Pagi pun tiba, sinar matahari masuk dari celah kamar Alya membuat sang pemilik kamar terbangun, ponselnya sejak tadi berbunyi dan dengan segera Alya mengangkat telfonnya.


“Halo..” ucap Alya dengan suara serak khas bangun tidurnya.


“Halo kak, kakak di suruh pulang sekarang juga sama mami.” Ucap Azzura.


“Azzu? Kenapa? Kakak harus kerja ga bisa ke rumah sekarang, nanti aja deh pulang kerja ya.” Balas Alya.


“Ga bisa kak, mami mau kakak ke rumah sekarang juga, ada laki-laki tampan yang tiba-tiba membawa banyak barang dan mengatakan kalau semua barang ini untuk kakak.” Jelas Azzura yang membuat Alya terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya.


“Apa kamu bilang tadi? Laki-laki tampan? Siapa?” tanya Alya.


“Ga tau kak, cepetan deh ke sini, papi sama mami juga kayaknya kesel deh.” Ucap Azzura yang langsung mematikan telfonnya.


Alya segera melempar ponselnya ke sembarang tempat lalu kedua tangannya memegang kepalanya untuk berpikir laki-laki mana yang di maksud adiknya, lalu hanya ada satu orang yang terpikirkan oleh Alya yaitu Arsenio.


“Arrgghh,, pasti laki-laki gila itu deh! Aish padahal aku belum bicara apa-apa tentang dia ke papi dan mami.” Ucap Alya yang langsung beranjak dari tempat tidurnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Alya segera memakai pakaiannya dan kunci mobilnya, dia segera melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.

__ADS_1


Cittt!!! Bunyi dari gesekkan ban mobil Alya dan aspal terdengar sangat nyaring, baru kali ini untuk pertama kalinya Alya menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, padahal dia adalah orang yang paling menaati peraturan lalu lintas.


“Yaampun non Al, saya kira siapa loh, kaget bapak soalnya biasanya non Al kalo bawa mobil ga pernah kenceng-kenceng.” Ucap pak Burhan saat Alya keluar dari mobilnya.


“Maaf ya pak, Alya buru-buru jadi kenceng bawa mobilnya sampe ngagetin bapak.” Ucap Alya.


“Engga apa-apa non, monggo masuk udah banyak tamunya nunggu non Al.” ucap pak Burhan sambil menunjuk ke arah pintu rumah yang di depannya memang ada banyak sekali mobil sampai Alya harus parkir di dekat gerbang.


Alya hanya tersenyum lalu berpamitan untuk masuk ke dalam rumah kepada pak Burhan, dia berjalan dengan hati yang terus mengomel mengutuk Arsenio yang sudah bertindak seenak jidatnya.


Sampai Alya sudah masuk ke dalam rumah, Azzura yang sedang bersedekap dada langsung menghampiri kakaknya itu.


“Kak, apa kakak sudah memutuskan pertunangan dengan kak Tom? Laki-laki tampan itu tadi bilang gitu.” Ucap Azzura.


Alya bingung harus mulai dari mana, hanya Belinda saja yang mengetahui tentang hubungannya dengan Tommy, itupun hanya sebatas itu saja, Belinda tidak mengetahui apapun tentang hubungan Alya dengan Arsenio.


"Al, apa ada yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Kenan.


Alya semakin tidak bisa mengatakan apapun saat papinya yang bertanya, dia jadi merasa bersalah karena menutupi hal sebesar ini.


Semuanya mengangguk, lalu Belinda berpamitan kepada para tamunya sebelum melangkahkan kakinya ke halaman belakang.


Alya yang berjalan terakhir masih sempat memberikan tatapan tajam kepada Arsenio yang sudah berlaku seenaknya, namun yang di beri tatapan tajam terlihat sangat santai sambil menyunggingkan senyuman.


Alya terus menerus menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan kegugupannya, dia terus berdoa agar keluarganya tidak salah paham kepadanya.


"Jadi, tolong jelaskan sebenarnya ada apa ini Al?" tanya Kenan dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Papi, sebenarnya..."


Akhirnya Alya menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Tommy, namun satu yang tidak dia ceritakan, dia tidak menceritakan bagaimana awal mula dia dan Arsenio bertemu.


Awalnya Kenan marah, dia marah karena putrinya tidak menceritakan hal itu lebih awal, seharusnya sejak awal tidak perlu di adakan pertunangan, namun saat Alya menjelaskan kalau dia mau membalas dendam kepada Tommy, akhirnya Kenan hanya bisa diam, toh nasi sudah menjadi bubur dan dia tidak bisa lagi melakukan apa-apa karena semuanya sudah terjadi.


"Baiklah kalau seperti itu, lalu bagaimana dengan laki-laki ini? Apakah kamu sudah mengenalnya cukup lama? Papi nggak mau sampai masalah kau dengan Tommy terulang lagi." Ucap Kenan.

__ADS_1


"Namanya Arsenio pi, dia laki-laki yang baik kok, papi tenang saja, Al sudah cukup lama mengenalnya, Al juga mengenal neneknya dan neneknya sangat baik." ucap Alya.


"Al mau pernikahan kami hanya di hadiri keluarga dan kerabat terdekat saja pi, Arsen tidak ingin kalau musuhnya mengetahui tentang pernikahannya." Ucap Alya.


"Musuh? Memang apa yang dia kerjakan sampai memiliki musuh?" tanya Kenan.


"Dia bekerja seperti opa Kalandra, dia mengelola perusahaan yang memiliki banyak pesaing pi." Ucap Alya.


"Kamu yakin mau memiliki suami sepertinya? Bukankah dulu kamu bilang kalau kamu tidak mau memiliki suami yang memiliki banyak musuh seperti opa Kalandra?" tanya Kenan.


"Kalau tentang pekerjaannya emang Al kurang suka pi, tapi dia laki-laki yang baik dan bisa melindungi Al jadi sepertinya tidak masalah bukan?" balas Alya sambil tersenyum meyakinkan papinya.


Kenan menoleh ke arah Belinda, dan sang istri hanya mengangguk perlahan untuk memberi kode kepada Kenan kalau putri mereka akan baik-baik saja.


Akhirnya Kenan hanya mengangguk setelah melihat istrinya setuju dengan laki-laki yang saat ini sedang berada di ruang tamu mereka.


Kenan dan Belinda segera kembali ke ruang tamu untuk menemui tamu mereka, sedangkan Aciel dan Azzura masih tetap menatap Alya dengan tatapan curiga.


"Kenapa kalian berdua menatapku begitu?" tanya Alya.


"Kakak yakin kakak suka sama laki-laki tampan itu? Setahuku kakak cinta mati sama kak Tom deh." ucap Azzura.


"Engga! Jangan mikirin kak Tommy lagi kak, kakak yang ini lebih tampan lebih keren yang pasti dia juga lebih bisa di andalkan dari pada kak Tommy." sambung Aciel.


Azzura tidak menyukai ucapan abangnya, dia langsung menatap tidak suka kepada Aciel.


"Kenapa abang bisa langsung setuju gitu aja? Kalo laki-laki itu orang jahat gimana?" tanya Azzura.


"Bilang aja kalo kamu suka sama kakak itu kan?" balas Aciel.


"Hah? Engga bang! Kak Al jangan dengerin abang, aku ga suka sama kakak tampan itu kok sumpah deh! Azzu cuma takut kalau laki-laki itu nyakitin kakak, kak Tom yang kenal lama sama kakak aja bisa nyakitin apa lagi yang baru kenal." Jelas Azzura yang takut kalau kakaknya salah paham.


Alya hanya tersenyum mendengar penjelasan dari adik perempuannya itu.


"Kakak ga mikir kayak gitu kok, lagian kakak yakin kamu akan dapat laki-laki yang lebih tampan dari Arsen." balas Alya yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan di susul oleh Aciel dan Azzura.

__ADS_1


__ADS_2