
Alya dan Arsenio sudah di antar ke kamar mereka yang sudah di siapkan oleh oma Nani, bahkan oma Nani ikut mengantar kedua cucu dan cucu menantunya sambil memastikan kalau keduanya benar-benar akan tidur di kamar yang sama.
“Oma! Ke mana kasur lamaku?” tanya Arsenio yang mengetahui kalau kamarnya sudah berubah terutama tempat tidurnya.
“Itu kan sudah lama jadi oma ganti sama yang baru, lagian kasur itu terlalu besar Arsen.” Ucap oma Nani.
“Hah? terlalu besar? Kasur itu bahkan aku pakai sendirian loh oma, sekarang aku dan Alya akan tidur di kasur yang sama tapi kenapa malah di ganti yang ukuran biasa?” tanya Arsenio.
Ya, awalnya tempat tidur Arsenio berukuran king size, namun saat ini tempat tidurnya berukuran double bed yang biasa.
“Kasur itu terlalu besar untuk pengantin baru, kalian harus terus berdekatan agar segera memberi oma cicit, setelah punya cicit nanti baru kita ganti yang ukuran king size seperti punya kamu dulu.” Jelas oma Nani.
“Tapi oma..”
“Ga ada tapi-tapian Arsen, oma sedih kalau kamu menolak niat baik oma.” Ucap oma Nani dengan wajah sedihnya.
Arsen yang memang tidak pernah membantah omanya hanya bisa menahan rasa frustasinya, sebenarnya Arsenio tidak masalah jika tidur di tempat tidur yang berukuran biasa, hanya saja dia mengingat semalam saat tidur bersama di tempat tidur Alya yang berukuran sama dengan tempat tidurnya saat ini, Alya memeluknya tanpa sadar.
Arsenio hanya takut kalau nanti dia lah yang tidak sadar dan melakukan hal di luar batas, karena bagaimana pun juga Arsenio juga seorang laki-laki normal yang bisa saja khilaf jika terus menerus tidur di sebelah seorang wanita.
“Ada yang mau di tanyakan lagi?” tanya oma Nani.
Arsenio menggeleng, begitu juga dengan Alya yang dari tadi hanya diam saja menyimak kedua orang yang ada di hadapannya berdebat.
“Kalau begitu kalian berdua beristirahat lah, kalau kalian lapar kalian bisa memanggil pelayan, mereka akan melayani kalian berdua dengan baik.” Ucap oma Nani.
“Terimakasih oma.” Ucap Alya sambil tersenyum.
“Sama-sama sayang.” Balas oma Nani.
“Oma sebaiknya istirahat juga.” Ucap Arsenio.
“iya ini oma juga mau istirahat kok kamu ini ga sabaran banget sih Sen, kalau begitu selamat istirahat ya kalian berdua.” Ucap oma Nani sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Setelah oma Nani benar-benar tidak terlihat lagi, barulah Alya dan Arsenio masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
“Ga apa-apa kan tidur di sini?” tanya Arsenio kepada Alya.
“Ga apa-apa kok, di rumah aku juga kan kasurnya begini.” Balas Alya.
“Kalau kamu ngerasa ga nyaman aku bisa kok tidur di ruang kerjaku.” Ucap Arsenio karena kebetulan ruang kerja Arsenio berada di sebelah kamarnya dan memiliki akses pintu yang bisa di lewati dari dalam kamarnya.
Awalnya Alya tergiur dengan tawaran Arsenio, namun dia mengingat ucapan mami dan oma Khansa kalau dia sudah menjadi istri orang saat ini, suka atau tidak suka maka Alya harus tidur di satu ranjang bersama suaminya.
“Tidak apa, aku ga mau sampai oma Nani tiba-tiba ke sini dan aku malah kesulitan bangunin kamu lagi.” Balas Alya.
“Baiklah kalau kamu ga masalah, kamu tidurlah dulu, aku ke ruang kerja dulu karena banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan.” Ucap Arsenio yang berjalan menuju pintu yang ada di sebelah tempat tidur.
“Tunggu!” ucap Alya saat Arsenio sudah membuka pintu itu.
“Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanya Arsenio.
“Emm,, apa boleh aku minta meja kerja di pojok sana? Ga perlu yang besar, aku butuh untuk mendesain baju-bajuku.” Ucap Alya dengan ragu.
Arsenio juga baru ingat kalau istrinya ini bukan pengangguran, dia memiliki pekerjaan yang menunggu, mereka juga bukan hanya sehari di rumah itu, mereka bisa berbulan-bulan ada di rumah itu.
“Terimakasih.” Ucap Alya yang di balas anggukan oleh Arsenio.
Arsenio segera masuk dan menutup pintu, sedangkan Alya lebih dulu ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan memakai krim malam.
Semenjak mengenal Arsenio, Alya memang berubah sedikit demi sedikit, Alya sudah mulai berani untuk memakai make up dan memperbaiki penampilannya.
Setelah selesai memakai skincare nya, Alya segera naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat karena tubuhnya sudah sangat lelah.
Namun niatnya terganggu saat mendengar suara Arsenio berteriak.
“Emangnya ruang kerjanya ga kedap suara ya? Kok masih kedengeran sih?” gumam Alya yang sedikit kepo dan akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekat.
Dan ternyata bukannya ruang kerja Arsenio tidak kedap suara, tapi pintu ruang kerjanya terbuka sedikit sampai suaranya masih terdengar. Alya yang kepo akhirnya mendekatkan telinganya sedikit di depan pintu.
“Bagaimana bisa kau lengah sampai membuat om ku merebut rekan kerja sama kita?!” ucap Arsenio.
__ADS_1
Dari kata-kata itu saja Alya sudah mengerti itu masalah pekerjaan, dan ternyata keluarga Arsenio sangat berbahaya, di balik sikap tangguhnya ternyata dia memiliki banyak musuh yang ada di dekatnya.
Alya merasa kasihan, tapi jika mengingat bagaimana kejamnya Arsenio saat membvnvh seseorang waktu itu membuat Alya kembali merinding.
“Ternyata sifat kasarnya itu untuk menutupi kesedihan dan rasa kesepiannya ya?” gumam Alya.
Alya yang memang sebenarnya bukanlah orang yang ingin tahu urusan orang lain itu memutuskan untuk kembali naik ke atas tempat tidur dan beristirahat, Alya tau Arsen bukanlah orang yang suka di campuri urusannya.
Sedangkan di dalam ruang kerjanya, Arsenio sedang di pusingkan dengan kabar kalau omnya merebut salah satu partner bisnis terbesarnya, padahal hanya dua hari dia tidak mengurus urusan perusahaan tapi keluarganya sudah merebut sesuatu darinya.
Jika Arsenio tidak mengurus perusahaan selama setahun mungkin dia akan di buat bangkrut oleh keluarganya yang serakah itu.
Rasanya kepala Arsenio ingin pecah, dia tidak tau harus menceritakan semua masalahnya kepada siapa dan itulah sebabnya kenapa kepalanya pusing, karena dia sering memikirkan masalahnya sendiri.
Namun saat sedang berpikir sendirian, tiba-tiba saja pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang yang tidak lain adalah Alya dengan nampan yang di atasnya berisi secangkir kopi.
Sebenarnya, saat Alya sudah memejamkan matanya kembali, tiba-tiba saja dia tidak bisa tidur karena memikirkan Arsenio, walaupun arogant tapi Alya tau kalau Arsen membutuhkan seseorang untuk meluapkan keluh kesahnya saat ini.
Akhirnya Alya memutuskan untuk ke dapur dan menyiapkan kopi dengan tangannya sendiri, entah apakah Arsen suka dengan kopi buatannya atau tidak.
“Al? Kenapa kamu di sini?” tanya Arsenio yang terkejut saat melihat Alya belum tidur.
“Aku ga bisa tidur jadi buatin kopi sambil mau ngobrol ga apa-apa kan?” tanya Alya dengan senyum manisnya.
Entahlah Arsen merasa bingung karena Alya tiba-tiba saja menjadi baik, tapi di sisi lain dia juga senang karena di saat pusing seperti ini ada seseorang yang mau menemaninya.
“Aku ga ganggu kamu kan?” tanya Alya sambil menaruh cangkir di atas meja kerja Arsenio.
“Engga kok, duduklah.” Balas Arsenio sambil menyuruh Alya untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
“Aku ga mau, gimana kalo duduk di balkon aja? Ruang kerja kamu punya balkon kan?” ucap Alya.
“Ide bagus, aku buka pintu balkonnya dulu, soalnya aku jarang banget ke balkon.” Balas Arsenio yang berusaha menemukan kunci balkon dengan semangat.
Sedangkan Alya hanya tersenyum melihat Arsenio yang terlihat tidak menolak tawaran Alya untuk menemaninya.
__ADS_1