
“Lucas, Luci, kalian berdua matanya minta di congkel ya?” ucap Chyntia yang paling tidak suka kalau ada orang yang melakukan hal seperti itu saat dia sedang berbicara.
“No Aunty.” Jawab Lucas dan Luciana serentak.
“Arsen! Kenapa kamu malah tersenyum?” tanya Chyntia.
“Aku sangat rindu omelan aunty.” Balas Arsenio yang membuat Chyntia tersenyum.
Wanita cantik itu berjalan menghampiri keponakannya lalu memeluknya dengan erat, perhatiannya lalu beralih pada Alya yang sejak tadi hanya melihatnya sambil tersenyum.
“Kamu Alya ya? Aku punya menantu perempuan sekarang.” Seru Chyntia dengan senang.
“Menantu?” tanya Alya bingung, pasalnya yang Alya tau orang tua Arsen sudah meninggal sejak lama.
“Tentu saja menantu, Arsen, Lucas, Luciana dan Chris adalah anak-anakku juga, tentu saja pasangan mereka adalah menantuku juga.” Balas Chyntia yang di balas anggukan oleh Alya.
Sekarang Alya mengerti maksud dari menantu yang di sebut Chyntia. Chyntia memeluk tubuh Alya lalu mencium pelan keningnya.
“Selamat datang di keluarga kami yang sangat canggung ini ya sayang, aunty harap kamu akan betah berada di sini dan secepatnya kamu bisa beradaptasi dengan keluarga ini.” Ucap Chyntia.
“Alya akan berusaha sekeras mungkin aunty.” Balas Alya.
“Ehem! Ini sebenernya kita mau makan atau mau temu kangen sih?” ucap Carolina dengan ketus.
“Apa aku tidak boleh antusias menyambut cucu menantu pertama keluarga ini?” balas Chyntia kesal.
“Tapi kita semua berkumpul di sini udah sarapan bersama, cepatlah kak, kau ini selalu datang terlambat dan membuat orang lain menunggu.” Ucap Carolina.
Chyntia hanya mendengus kesal, lalu dia segera duduk di tempatnya bersama sang suami, dan para pelayan langsung membuka semua tutup saji yang menutupi menu makanan mereka.
“A-apa ini? Makanan apa ini mom?” tanya Carolina.
“Ini makanan khusus yang di masak cucu menantuku, kalian harus menghargai masakannya dan menikmati sarapan hari ini dengan menu yang sudah di siapkan.” Ucap oma Nani.
“Tapi kita ga pernah makan makanan seperti ini oma! Di mana steik ku?” tanya Luciana.
“Apa kamu pantas mengatakan hal seperti itu di depan makanan? Masih untung masih ada makanan yang mau di makan kamu, kalau kamu sudah tidak menemukan makanan maka kamu akan menangis!” ketus Arsenio.
“Apa kau bisa makan makanan seperti ini? Apa kau yakin makanan ini sesuai dengan seleramu?” tanya Luciana dengan kesal.
“Jangan berdebat! Makan saja kenapa susah banget sih.” Tegas Chyntia.
Arsenio meminta Alya untuk mengambilkan makanan untuknya, Alya yang sebenarnya merasa sedikit tersinggung itu langsung tersenyum dan mengambilkan nasi goreng untuk Arsenio dan juga beberapa lauk lainnya yang sudah di masak.
“Jangan memaksa kalau memang tidak sesuai dengan seleramu.” Bisik Alya.
__ADS_1
“Semua masakan kamu enak Al, aku tidak bohong.” Balas Arsenio.
Semua orang melihat ke arah Arsenio dengan penuh rasa penasaran, mereka semua sedikit terkejut saat melihat Arsenio makan dengan sangat lahap.
Chyntia dan suaminya pun menyusul Arsenio untuk makan, mereka terkejut seketika saat merasakan masakan yang di masak Alya membuat Alya yang melihat ekspresi wajah keduanya itu merasa gugup.
“Ga enak ya aunty? Kalo ga enak jangan di paksa, ganti menu aja gimana?” tanya Alya dengan ragu.
“Engga! Ini enak banget!” seru Chyntia.
“Jangan bohong hanya untuk membuatku senang saja aunty.” Balas Alya.
“Al, kamu pikir aunty suka berbohong walaupun demi kebaikan? Ini beneran enak Al sumpah.” Ucap Chyntia meyakinkan.
“Iya Al, beneran ini enak banget, besok sarapan kamu yang masak lagi ya.” Sahut Heru suami Chyntia.
Melihat Chyntia dan Heru makan dengan lahap, barulah yang lain memulai menyantap makanan yang di masak Alya dengan ragu-ragu.
Namun semua orang terkejut, hanya saja mereka menutupi ekspresi mereka agar tidak terlihat oleh Alya.
Sampai akhirnya semua masakan yang di masak Alya habis tanpa tersisa, Alya tersenyum senang karena semua orang menyukai masakannya.
“Ini kita habiskan karena kami ga mau membuang makanan!” ketus Luciana yang melihat senyum di wajah Alya.
Alya hanya tersenyum sambil mengangguk sebentar, lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan mulai mengambil piring kotor yang ada di sana.
Deg! Jantung Alya seketika berhenti berdetak saat Arsenio mengatakan kata ‘sayang’ kepadanya.
“A-aku mau membersihkan piring kotor.” Balas Alya.
“Tidak perlu, ada pelayan di sini yang akan membersihkannya.” Ucap Arsenio.
“Tapi...”
“Duduklah!” tegas Arsenio yang akhirnya membuat Alya tidak bisa membantah lagi.
Alya segera duduk kembali di kursinya dengan tenang, sedangkan Lucas dan Luciana tersenyum sinis melihat Alya.
“Apa kau sangat miskin sampai harus membersihkan piring bekas makanmu sendiri?” tanya Luciana sambil tersenyum remeh.
“Jangan-jangan kau juga yang mencuci piring bekas makanmu sendiri?” tanya Lucas.
“Aku memang mencuci piring bekas makanku, bahkan bekas semua orang juga aku cuci kok, emangnya kenapa?” tanya Alya dengan polosnya.
“Pfftt!! Hahaha..” tawa Lucas dan Luciana pecah saat mendengar jawaban dari Alya.
Keluarga Arsenio hanya tahu kalau Alya adalah anak dari seorang dokter, dia memang mengatakan kepada keluarganya untuk tidak mengungkap semua bisnis yang mereka punya.
__ADS_1
Hanya Arsenio lah yang tau siapa Alya sebenarnya, dan sekaya apa keluarganya. Om dan tante Arsenio juga berpikiran kalau rumah Alya bisa semewah itu juga karena tabungan yang di punya orang tuanya saja.
“Papi bilang papimu seorang dokter? Apa gaji orang tuamu tidak cukup untuk menyewa pelayan?” tanya Lucas.
Arsenio sudah mengepal tangannya dengan sangat erat, dengan segera Alya yang sadar akan hal itu langsung menggenggam tangan Arsenio.
Arsenio menoleh ke arah Alya, lalu Alya menggeleng sedikit menyuruh Arsenio untuk diam.
“Ayo kita pergi.” Ajak Arsenio yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
“Pergi? Kamu mau pergi ke mana Arsen?” tanya oma Nani.
“Aku dan Al mau kerja oma, kita bosan di dalam rumah terus menerus.” Ucap Arsenio.
“Kenapa kerja? Kalian bisa membuat cicit untuk oma agar tidak bosan.” Balas oma Nani membuat Alya malah tersipu malu.
“Oma,,, jangan bicara seperti itu di depan orang banyak, malu tau.” Ucap Arsenio.
“Kenapa harus malu? Toh kalian kan sudah menikah.” Ucap oma Nani.
Arsenio hanya menggelengkan kepala lalu berpamitan kepada oma Nani dan yang lainnya, lalu segera pergi dari ruang makan yang sangat panas itu.
“Sepertinya aku akan menjadikan meja makan sebagai tempat panas.” Ucap Alya tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Arsenio.
“Karena suasananya memang sangat panas, keluarga kamu ternyata mulutnya pedes semua ya.” Ucap Alya.
“Hem, maaf ya keluargaku sudah menghina kamu dan keluargamu tadi.” Balas Arsenio.
“Tidak masalah, emang kadang ada beberapa orang yang melihat orang lain hanya dari covernya saja.” Balas Alya.
Mereka masuk ke dalam mobil yang sama, Arsenio sempat menoleh ke arah Alya dan meneliti penampilan Alya dengan benar.
“Apa kamu harus berpenampilan seperti itu?” tanya Arsenio membuat Alya langsung mengerutkan keningnya.
“Kenapa dengan penampulanku? Apa masih terlihat culun?” tanya Alya.
“What? Culun? Engga, kamu terlihat terlalu cantik!” seru Arsenio membuat Alya langsung menundukkan kepalanya menahan malu.
“Apaan sih ga usah bercanda deh! Udah cepetan berangkat, kalau kamu tidak akan di hukum kalau terlambat, tapi aku harus tepat waktu agar tidak mendapat teguran dan hukuman.” Ucap Alya.
“Apa kamu tidak ingin memberiku ciuman dulu agar aku semangat menyetir?” tanya Arsenio.
“Arsen..” tegus Alya.
“Ayolah, hanya pipi saja.” Rengek Arsenio seperti anak kecil.
__ADS_1
Akhirnya dengan malu-malu Alya langsung mencium pipi Arsenio dengan singkat, namun Arsenio menahan tangan Alya dan mencium bibirnya dengan lembut membuat kedua mata Alya terbuka lebar.