
"Bagaimana bisa aku bertahan jika selama ini kamu bahkan tidak pernah mengatakan kalau kamu mencintai aku, jelas itu adalah kamu Arsen, dan saat itu aku sedang mengandung! Aku berencana untuk memberitahu kamu setelah pesta selesai tapi ternyata yang aku dapat malah sebuah kata-kata yang membuat aku ketakutan!"
Deg!! Mendengar ucapan Alya membuat Arsen melotot, hamil? kata-kata itu terngiang di telinga Arsen.
***
"A-apa kamu bilang tadi Al?!" ucap Arsen yang sudah tersulit emosi.
Menyadari kalau dia baru saja keceplosan membuat Alya langsung menutup mulutnya dengan mata yang terbuka lebar.
Dia baru sadar kalau dia sudah mengatakan sebuah rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan dengan baik.
"Siapa yang bilang aku punya anak?" tanya Alya mencoba untuk membohongi Arsen.
"Jangan mencoba untuk membohongiku Alya! Aku dengar dengan jelas tadi kau mengatakan kalau kau sedang mengandung saat menerima video itu!?" tanya Arsen dengan penuh penekanan.
Alya menelan salvilanya, sepertinya Arsen memang sulit untuk di bodohi seperti Jay, anaknya.
Lalu seketika Alya tersenyum sinis, dia akhirnya memiliki ide yang bagus untuk memberikan alasan kepada Arsen.
"Ya, aku memang sedang hamil saat itu, tapi sayangnya aku sudah membuangnya! Aku sudah menggugurk4n kandunganku saat itu juga!" ketus Alya.
Grepp!! Arsen langsung mencengkram leher Alya dengan kuat membuat alya terkejut dan merasa kesakitan.
Rasanya Alya ingin berteriak, tapi tidak bisa karena cengkraman dari tangan Arsen membuat Alya kesulitan untuk berbicara.
"Beraninya kau menggugurk4n anakku! Beraninya kau menggunggurk4n keturunan keluarga Craig!" teriak Arsen.
"Hentikan!!!" teriak seseorang yang membuat Arsen menoleh sedangkan Alya hanya bisa melirik ke asal suara saja.
Suara itu berasal dari Liam yang saat itu berada di sana bersama dengan Lili.
"Jangan ikut campur urusanku dengan dia!" ketus Arsen.
"Kak, kenapa kakak jadi begini kak? Sabar kak, kak Bella tidak salah apa-apa kak." ucap Lili.
"Cih! Bella Bella, selalu Bella!" ketus Arsen yang langsung melepaskan cengkramannya dari leher Alya dan beralih menatap tajam ke arah Lili.
"Uhukk,, uhukk.." Alya terbatuk sambil memegangi lehernya yang tadi di cengkram oleh Arsen, badannya pun tersungkur ke lantai karena napasnya hampir saja habis.
__ADS_1
Lalu matanya beralih pada Arsen yang mulai berjalan menghampiri Liam dan Lili.
"Arsen! Arsen tunggu!" teriak Alya yang berusaha untuk berdiri dan mengejar Arsen.
"Arsen aku mohon jangan melakukan apa pun pada mereka!" teriak Alya lagi.
Namun lagi-lagi Arsen sama sekali tidak mendengarkan ucapan Alya, dia masih terus berjalan dengan yakin ke arah Lili dan Liam.
Bughhh!! Pukulan pun jatuh di pipi Liam membuat semua orang terkejut. Setelah memukul Liam, Arsen beralih mencengkram lengan Lili dengan sangat kuat membuat Lili merasa kesakitan.
"Kak, sakit kak." keluh Lili sambil mencoba melepaskan tangan Arsen dari lengannya.
"Arsen!" teriak Alya yang langsung mendorong tubuh Arsen dengan keras sampai hampir terjatuh.
Setelah tangan Arsen terlepas dari lengan Lili, Alya segera memeluk Lili dengan erat untuk menenangkannya karena Lili menangis melihat Arsen yang menyeramkan seperti itu.
"Kalian tunggu di sini dulu ya, aku akan bicara dengan laki-laki itu." ucap Liam yang di balas oleh Alya dan Lili.
Liam segera menghampiri Arsen dengan tatapan tajamnya, dia langsung mencengkram kerah kemeja Arsen dengan kuat.
"Hei Arsen! Jangan egois dengan menyalahkan semua orang, karena semua ini terjadi karena kau yang tidak tegas dari awal!" ketus Liam.
"Jangan bersikap seolah-olah kamu adalah korban di sini! Korban yang sebenarnya adalah Bella! Dia susah payah berdiri hingga sukses seperti sekarang, dia susah payah menahan mual dan muntah di butiknya saat dia tengah mengandung!" jelas Liam.
"Tidak apa Bella, jika laki-laki ini ingin merebut anak-anakmu, maka aku akan menyewa pengacara paling hebat untuk menuntutnya!" ketus Liam.
"Anak-anak? Kamu melahirkan anak-anakku?" tanya Arsen.
"Anak-anakmu? Enak sekali mulutmu mengatakan anak-anakmu! Dia adalah anak-anak Bella!" ketus Liam yang bersiap untuk melayangkan pukulan di pipi Arsen.
"Papa Liam!" teriak seorang anak perempuan yang tidak lain adalah Mayden.
Mendengar teriakan anak perempuan yang selama ini sudah dia anggap seperti anaknya sendiri pun membuat tangan Liam terhenti di atas.
Arsen pun ikut menoleh ke asal suara, dia melihat seorang anak perempuan yang sangat cantik, wajahnya sedikit mengingatkannya kepada Alya.
"Apa dia anakku?" batin Arsen di dalam hatinya.
"May?" ucap Liam yang langsung menurunkan tangannya kembali.
__ADS_1
"Papa, kenapa papa mau mukul orang? Bukannya papa bilang kita ga boleh mukul orang?" tanya Mayden dengan wajah yang sedih.
Selama ini memang Mayden lah yang paling dekat dengan Liam dan Liam pun selalu memanjakannya.
"Tidak nak papa tidak mau memukul kok, hanya olahraga saja." balas Liam berbohong.
Walaupun sudah remaja, Mayden masih bersikap kekanakkan jika dengan Liam.
Liam segera melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Arsen, lalu dia berjalan menghampiri Mayden.
"May, maafkan papa ya, papa bukannya mau memukul orang itu kok, orang itu duluan yang mukul papa nih lihat pipi papa merah." adu Liam sambil menunjukkan pipinya yang merah.
Melihat pipi papa Liam nya merah membuat Mayden khawatir, lalu seketika tatapannya tajam ke arah Arsen.
"Aku tahu om sebenernya papa aku kan? Tapi kalo tau aku punya papa jahat kayak om mendingan aku ga tau aja kalo om papa aku!" ketus Mayden.
"May! Ga sopan." tegas Alya.
Mau bagaimanapun juga, Arsen tetaplah papa kandung anak-anaknya, tentu saja Alya tidak ingin kalau kedua anaknya itu berdosa kepada papa kandungnya sendiri.
"Dia putriku? Benarkah Al? Apa dia putriku?" tanya Arsen yang saat ini sudah berdiri tegap dan bertanya kepada Alya.
"Aku memiliki seorang putri yang cantik! Apa dia benar-benar putriku?" tanya Arsen kembali.
Alya hanya diam menatap ke arah Arsen, dia melihat ekspresi wajah Arsen yang terlihat bahagia sampai berkaca-kaca.
Alya yang sudah kepalang basah pun akhirnya menghela napas panjang untuk menetralkan emosinya.
"Ya, dia adalah anakmu Arsen, kau memiliki seorang putri..." Alya kembali menghembuskan napasnya. "Dan kau juga memiliki seorang putra." Balas Alya yang membuat Arsen menoleh sambil mengerutkan keningnya.
"Maksudnya? Apa maksudnya Al?" tanya Arsen.
"Aku melahirkan bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan." balas Alya.
Arsen melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kembar? Lalu di mana putraku itu?" tanya Arsen.
Tidak lama kemudian, Ferdinand datang bersama seorang anak laki-laki yang tadi bertabrakan dengan Arsen.
__ADS_1
"Sen? Lo jangan kaget ya, bocah ingusan kata lo ini, dia..." kata-kata Ferdinand terhenti saat melihat semua orang yang dalam suasana canggung.
"Anak gue! Anak yang tadi gue bilang bocah ingusan itu adalah anak gue!" Sambung Arsen sambil tersenyum menatap Jayden yang menatap Arsen dengan tatapan tidak suka.