
Alya dan Arsenio sudah berada di dalam mobil setelah perdebatan panjang mereka, bahkan Arthur marah kepada oma Nani yang malah membiarkan Alya terus membalas ucapannya.
Di sepanjang jalan Alya sama sekali tidak berani mengajak Arsenio mengobrol karena terlihat sekali kalau Arsen masih emosi dengan kejadian tadi.
Karena memang pusat perkumpulan mereka adalah di perusahaan, Arsenio pun akhirnya melajukan mobilnya ke perusahaan yang ternyata sudah ada banyak karyawannya di sana termasuk Ferdi dan juga Daisy.
Sebelum keluar dari mobil, tangan Alya sudah memegang lengan Arsenio membuat laki-laki itu menoleh ke arah Alya.
“Ada apa Al?” tanya Arsenio.
“Bisakah kamu tersenyum kepada karyawanmu? Jangan biarkan mereka melihat wajahmu yang menyeramkan begitu karena itu akan merusak kesenangan mereka.” Ucap Alya.
Arsenio berpikir sejenak, dia juga tidak mau memasang wajah seperti itu, tapi rasa kesal terhadap sepupunya itu sangat membara.
“Hem? Bisa kan? Lupakan semua tentang sepupumu itu, kita harus menikmati liburan ini dengan hati yang bahagia.” Ucap Alya sambil tersenyum manis.
Arsenio menghela nafas panjang lalu dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, aku akan tersenyum.” Balas Arsenio sambil memaksakan senyumnya.
“Jangan tersenyum seperti itu, makin menyeramkan tau.” Ucap Alya.
Arsenio malah kesal dan langsung menyubit gemas pipi Alya membuat Alya merintih kesakitan.
“Aaa sakit tau!” ucap Alya sambil meninju dada bidang Arsenio.
Arsenio tertawa sambil melepaskan tangannya dari pipi Alya lalu membelai rambut Alya dengan lembut.
Alya yang awalnya kesal seketika tersenyum saat melihat Arsenio akhirnya tertawa lepas, ternyata ketampanan Arsenio semakin bertambah saat dia tersenyum seperti itu.
“Kayaknya aku ga rela deh kalo kamu senyum sama karyawan kamu.” Ucap Alya yang masih menatap wajah Arsenio.
“Kenapa?” tanya Arsenio sambil mengerutkan keningnya.
“Soalnya kamu makin tambah ganteng kalo lagi senyum begitu.” Ucap Alya.
“Kamu ada-ada aja deh.” Ucap Arsenio yang tertawa sambil menggelengkan kepala.
“Kamu ga percaya?” tanya Alya.
“Percaya, percaya, terus gimana? Aku ga usah senyum sama mereka?” tanya Arsenio.
__ADS_1
“Engga lah, senyum dong mereka pasti seneng kalo di senyumin sama atasan mereka.” Ucap Alya.
“Tapi senyumnya dikit aja, jangan banyak-banyak nanti mereka jatuh cinta sama kamu.” Lanjut Alya sambil memanyunkan bibirnya.
Cup! Seketika Alya melotot saat Arsenio mencium bibirnya, lagi-lagi Alya memukul dada Arsenio.
“Arsen! Nanti di lihat orang.” Ucap Alya kesal.
“Makanya jangan manyun gitu kan bikin gemes.” Balas Arsenio.
“Kamu ini bahaya ya, tiba-tiba main nyosor aja.” Ucap Alya.
“Salah sendiri kamu terlalu menggemaskan.” Balas Arsenio.
Tok tok tok... tiba-tiba saja kaca mobil mereka di ketuk oleh Ferdi membuat Alya dan Arsenio terlonjak kaget.
“Yaampun kak Ferdi ngagetin aja deh.” Ucap Alya sambil mengelus dadanya sendiri.
Arsen langsung membuka kaca mobilnya dan memasang wajah dinginnya seperti biasa.
“Ada apa?” tanya Arsenio.
“Kita sudah harus berada di bandara tuan karena hari sudah siang.” Ucap Ferdinand.
“Kita memang memakai pesawat anda tuan, tapi landasannya bukan milik anda dan penerbangan lain bisa terganggu karena pesawat anda.” Jelas Ferdinand yang masih tersenyum.
Walaupun sebenarnya Ferdinand sudah kesal dengan sikap Arsenio yang seenaknya, tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum agar menjaga mood atasannya itu agar tidak jelek dan merusak suasana.
“Arsen, ayo kita turun dan segera memberi arahan untuk karyawan kamu.” Ucap Alya mencoba untuk memotong agar perdebatan tidak semakin panjang.
Arsenio pun keluar dari mobil saat Alya lebih dulu keluar dari mobil. Semua karyawan yang sudah tau tentang status Alya langsung membungkuk memberi salam kepada wanita cantik itu.
“Selamat pagi semuanya.” Sapa Alya dengan ramah.
“Selamat pagi nona Alya.” Balas semua karyawan.
Arsenio pun menyapa semua karyawan dengan ramah membuat semua orang menganga tidak percaya karena sikap Arsenio yang berubah 180 derajat.
“Oh iya, kak Daisy, kak Ferdi, aku tadi pesan paket M*D buat semua karyawan, mungkin sebentar lagi mereka sampai.” Ucap Alya kepada Ferdi.
“Kamu membeli M*D? Kapan? Kenapa ga bilang sama aku? Kamu juga ga minta uang sama aku.” Ucap Arsenio.
__ADS_1
“Tadi malam aku pesan pake uangku, aku kan juga punya uang.” Balas Alya.
Arsenio lupa kalau dia belum memberi uang kepada Alya, dia belum memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.
Namun Arsenio hanya diam saja karena tidak ingin membahas hal itu di depan karyawannya.
Benar saja, baru saja Alya memberitahu Ferdi dan Daisy, ternyata mobil pesan antar dari pihak M*D datang dan langsung memberikan puluhan box M*D lengkap dengan minum kentang goreng dan burgernya.
Lalu Alya di bantu oleh Ferdi dan Daisy membagikan kotak-kotak itu kepada semua karyawan, tentu saja semuanya langsung berterimakasih kepada Alya karena mereka tidak percaya kalau Alya adalah orang yang sangat baik.
Setelah membagikan makanan dan juga Arsenio sudah memberikan arahan tentang kegiatan apa saja yang akan di lakukan, mereka akan menginap di sebuah villa pribadi Arsenio yang memiliki beberapa kamar dan halaman yang luas.
Arsenio juga menyuruh kepala divisi untuk selalu mengabsen anggotanya dan juga membagi anggota wanita dan pria menjadi beberapa bagian untuk menempati kamar yang ada di villa itu.
Lalu akhirnya mereka dengan memakai bus kantor berangkat ke bandara, Arsenio, Alya, Ferdinand dan Daisy sengaja memilih untuk naik mobil Arsenio agar karyawan yang lain tidak merasa canggung jika naik bis bersama atasan mereka.
Setelah menempuh waktu beberapa jam, akhirnya mereka semua tiba di Bali dengan selamat, mereka semua langsung di jemput oleh orang suruhan Arsenio dan mereka di antar ke villa pribadi milik keluarga Arsenio.
Semua orang takjub pasalnya mereka tidak percaya kalau ternyata Arsenio memiliki villa yang sangat megah.
“Megah sekali, aku tidak menyangka kalau tuan Arsen memiliki villa di Bali.” Acara bisik-bisik antar karyawan pun di mulai.
Walaupun sebenarnya Alya juga sedikit tidak percaya kalau suaminya itu memiliki villa di Bali, padahal awalnya Alya mau menawarkan villa keluarganya untuk di tempati, tapi Arsenio menolak.
Arsenio menempati kamar yang biasa di pakai dia dan keluarganya saat berlibur di sana, sedangkan yang lain mulai membagi kamar mereka masing-masing.
Acara hari itu semua orang di persilahkan untuk beristirahat dan melakukan apapun yang mereka inginkan dan berkumpul kembali saat waktunya makan malam.
Alya meminta Arsenio untuk mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi villa, dan akhirnya mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan yang terlihat sangat mesra.
Kemesraan mereka di lihat oleh beberapa karyawan, dan mereka semua merasa sangat iri dengan kemesraan itu.
“Aku tidak percaya tuan Arsenio yang terkenal dingin itu bisa bersikap romantis, bahkan sikapnya benar-benar berubah drastis.” Ucap salah satu karyawan.
“Ya kau benar, sepertinya tuan Arsen lebih cocok dengan nona Alya dari pada nona Anjali.” Balas yang lain.
“Sttt, jangan berisik, kalian lupa kalau Cessa adalah sahabat baik nona Anjali?” sahut yang lain membuat semua orang terdiam seketika dan menoleh ke arah Cessa yang juga melihat kemesraan Arsenio dan Alya.
“Ah iya benar, apa dia akan mengadukan hal ini kepada nona Anjali?”
“Entahlah, tapi aku yakin kalau dia sudah memberitahu hal ini kepada nona Anjali.”
__ADS_1
“Ya, kita hanya tinggal menunggu nona Anjali datang ke perusahaan dengan wajah merahnya karena menahan emosi.”
Tiga orang yang sedang bergosip itu pun terkekeh, lalu mereka berhenti saat Cessa menoleh ke arah mereka bertiga dengan tatapan tajam.