
Alya melangkah menuju dapur dengan wajah yang masih memerah karena mengingat semalam tangan nakalnya melingkar ke pinggang Arsenio.
"Al, kamu kenapa wajahnya merah gitu?" tanya Belinda dengan kening yang berkerut.
"Eh mi, ini loh aku pengen ganti tangan bisa ga? Tanganku yang ini nakal soalnya." balas Alya.
"Hah? Maksudnya gimana? Mana bisa tangan di ganti." ucap Belinda sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan anaknya.
“Engga mi, kayaknya aku yang ngigo hehe.” Balas Alya.
“Kamu ini ada-ada aja deh.” Ucap Belinda.
“Oh iya di mana suami kamu?” tanya Belinda.
“Ada di atas, tadi dia baru bangun, mungkin lagi mandi, Al akan memanggilnya setelah sarapan siap.” Balas Alya yang di balas anggukan oleh Belinda.
Belinda dan Alya mulai bergulat dengan alat-alat memasak mereka, namun di tengah-tengah memasak Alya mulai menyadari ada yang hilang saat itu.
“Azzu sama Karren ke mana mi? belum bangun?” tanya Alya.
“Kamu tau lah adik-adik kamu gimana, padahal sebentar lagi Karren mau pulang tapi masih belum bangun sampe sekarang.” Balas Belinda.
“Mereka berdua pasti curhat-curhatan sampe tengah malem deh mi, biasa lah anak muda.” Ucap Alya.
“Nanti sekalian panggil suami kamu, mampir ke kamar adik-adik kamu dulu ya, bangunin mereka, aunty Key sama uncle Bernard lagi keluar jalan-jalan berdua.” Ucap Belinda.
“Siap bos!” seru Alya yang melanjutkan kegiatannya memasak sarapan mereka.
Setelah semua selesai dan masakan pun sudah tertata rapih di atas meja, Belinda segera menyuruh Alya untuk memanggil Arsenio dan kedua adiknya.
Alya segera berjalan menaiki tangga dan lebih dulu menuju kamarnya karena dia yakin untuk membangunkan kedua putri tidur itu membutuhkan waktu yang sangat lama.
Baru saja Alya mau mengetuk pintu kamarnya, namun pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan terlihat Arsenio sudah berada di hadapannya membuat Alya terkejut.
“Ngagetin aja jadi orang!” ketus Alya sambil mengelus dadanya.
“Orang mau keluar masa harus teriak dulu ada orang apa ngga di luar, kan kebalik kali, harusnya yang di luar nanya ada orang ga di dalem.” Balas Arsenio.
__ADS_1
“Terserah deh, masih pagi aku ga mau debat sama kamu, mending turun aja sana waktunya sarapan.” Ucap Alya yang mau melangkah ke arah lain membuat Arsenio langsung menghentikannya.
“Kamu nyuruh aku ke bawah terus kamu mau ke mana sekarang? Jangan bilang kamu lupa jalan ke ruang makan di rumah kamu Al?” ucap Arsenio.
“Jangan ngaco deh, aku masih muda belum pikun, kamu turun duluan aku masih mau bangunin dua putri tidur.” Ucap Alya sambil menunjuk ke arah kamar milik Azzura.
“Oh, mereka berdua belum bangun? Baiklah aku ke bawah duluan.” Ucap Arsenio sambil mengangguk-anggukkan kepala lalu berjalan menuruni tangga.
Sedangkan Alya segera berjalan ke arah kamar adiknya dan langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk lebih dulu karena Alya yakin kalau kamar Azzu tidak akan di kunci jika ada orang lain yang tidur di kamarnya.
Benar saja, saat kamarnya di buka Alya sudah bisa melihat pemandangan dua wanita cantik yang sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi kaki sampai leher mereka, bahkan matahari yang sudah bersinar saja tidak terlihat sama sekali karena tirai berwarna merah wine di kamar Azzura menutupi sinar matahari masuk ke dalam kamar.
Alya juga melihat baju-baju yang berserakan, bungkus camilan yang ada di mana-mana dan juga botol minuman menandakan kalau semalaman kedua wanita itu bersenang-senang.
Alya berjalan ke arah tirai lebih dulu dan segera membuka lebar tirai yang menutup rapat jalan masuknya sinar matahari.
Srekk!!! Begitu Alya membuka seluruh tirai, barulah sinar matahari masuk tepat mengenai wajah kedua putri tidur itu.
Keduanya mengerang menunjukkan protes sambil menyipitkan matanya namun tidak berniat untuk membukanya membuat Alya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
“Aaarrghh, siapa yang nyalain lampu sih, silau tau!” teriak Karren yang masih memejamkan kedua matanya.
“Apaan sih kak, gue ga nyalain lampu, gue juga masih mau tidur tau.” Balas Azzura.
“Kalian berdua ini, bangun ga!?” tegas Alya dengan nada yang sedikit tinggi.
“Heeemmmm,, masih ngantuk.” Balas Karren.
“He’em, matanya ga bisa di buka ini masih lengket.” Sahut Azzura.
Keduanya hanya menjawab tanpa membuka mata ataupun tanpa memperdulikan siapa yang sedang berbicara dengan mereka.
Alya segera menarik selimut lebar yang menutupi tubuh keduanya membuat keduanya akhirnya membuka matanya sedikit.
“Em! Kak Al? kakak ngapain di sini?” tanya Azzura saat melihat bayangan Alya di hadapannya.
“Kalian berdua cepet bangun sekarang sebelum aku siram pakai air selokan.” Ucap Alya.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Alya membuat Karren dan Azzura langsung membuka kedua matanya dan serentak keduanya langsung terbangun dari tidur mereka.
“Kakak, kenapa kakak buat kita jantungan sih?” tanya Karren.
“Siapa yang buat kalian jantungan? Kalian berdua yang tidur kemalaman yang ngebuat jantung ga sehat.” Balas Alya.
“Kak, kak Al ini ga pernah menikmati masa muda dengan baik ya? Percuma tinggal di luar negeri kalo tidur masih tepat waktu.” Rengek Karren.
“Karren, bukannya kamu pulang hari ini? Kalian berdua ga tau ini udah siang dan jam sarapan kalian sudah kelewat.” Ucap alya berbohong.
Mendengar ucapan Alya membuat Karren melotot, dia lupa kalau hari ini dia dan orang tuanya akan kembali ke Indonesia karena memang mereka tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan dan kuliah.
“Yaampun aku lupa kak!” ucap Karren sambil menepuk keningnya sendiri.
Karren segera beranjak dari tempat tidur bahkan dia sampai melompat membuat Azzura terkejut, wanita yang sedang kesetanan itu langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Alya masih menyilangkan kedua tangannya di depan sambil menatap tajam ke arah Azzura membuat Azzura yang di lihat seperti itu langsung salah tingkah sampai mengalihkan pandangannya.
“Kenapa malingin wajah gitu?” tanya Alya dengan nada mengintimidasi.
“Kakak lihat aku kayak begitu gimana ga malingin wajah?” balas Azzura.
“Udah cepet mandi di kamar kakak aja, Arsen udah keluar jadi kamu bisa mandi di sana biar sama-sama selesai nanti.” Ucap Alya.
“Kakak ga marah?” tanya Azzura dengan ragu.
“Kakak ga pernah marah apa lagi karena hal seperti ini, kakak tau kalian baru ketemu lagi jadi kalian pasti berpesta semalaman.” Ucap Alya.
Azzura baru bisa tersenyum lebar saat Alya mengatakan itu, dia langsung beranjak dari tempat tidur dan melompat memeluk sang kakak.
“Sayang banget deh sama kakak, pas pembagian hati pasti kakak paling pertama deh soalnya hati kakak luas banget kayak samudra.” Ucap Azzura yang masih memeluk tubuh Alya.
“Ga usah ngerayu! Udah sana cepetan bawa peralatan mandinya, bawa baju ganti juga.” Ucap Alya sambil melepaskan pelukan sang adik.
Azzura segera mengangguk, dia menyiapkan semua yang dia butuhkan dan langsung berjalan menuju kamar Alya bersama-sama dengan Alya.
Sebenarnya biasanya Azzura tidak perlu membawa peralatan mandi karena peralatan mandi kakaknya sama seperti miliknya kecuali sikat gigi, handuk pun di setiap kamar mandi pasti di sediakan beberapa handuk bersih.
__ADS_1
Hanya saja saat ini Alya bukanlah anak gadis lagi, sekarang Alya sudah memiliki suami dan itu yang membuat Azzura harus membawa peralatan mandinya sendiri agar tidak tercampur.