DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 14 (CALON ISTRI)


__ADS_3

“Tidak!” teriak Alya dengan cepat.


“Makanya jangan bicara seperti itu lagi, kali ini aku akan membiarkannya, tapi lain kali aku akan benar-benar melakukannya jika kamu berani bicara seperti itu lagi!” tegas Arsenio.


Alya hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena sudah berbicara yang tidak-tidak.


Sampai akhirnya Arsenio menghentikan mobil Alya di sebuah tempat yang sepi, ada danau di tengah-tengah tempat itu dan banyak lampu yang mengelilingi danau itu membuat air di danau terlihat berkilau.


“Wah...” gumam Alya yang bisa di dengar oleh Arsenio.


Arsenio tersenyum tipis, dia menoleh ke arah Alya yang sedang mengagumi tempat itu, setidaknya itu bisa mengurangi emosi Alya saat ini.


“Tenangkan dirimu di sini, tidak banyak orang yang tau tempat ini jadi jarang sekali orang yang datang, aku juga sesekali datang kalau sedang frustasi dengan pekerjaanku.” Ucap Arsenio yang membuat Alya langsung menoleh ke arahnya.


“Kamu juga bisa frustasi ya? Aku kira orang sepertimu tidak akan merasa frustasi.” Balas Alya.


“Orang sepertiku? Memangnya orang seperti apa aku?” tanya Arsenio dengan kening berkerut.


“Ah, tidak ada, jangan di bahas aku mau menenangkan diri.” Jawab Alya mengalihkan pembicaraan.


Alya tidak ingin sampai membuat mood Arsenio yang sedang bagus itu tiba-tiba berubah.


Arsenio pun begitu, dia tidak ingin membuat Alya semakin kesal dan akhirnya dia hanya mengangguk dan menghentikan mobil Alya tepat di bawah lampu di pinggir danau.


“Keluarlah, luapkan semua yang ingin kamu keluarkan, aku akan menunggumu di sini.” Ucap Arsenio.


Alya mengangguk, dia dengan semangat meraih gagang pintu mobilnya, namun sebelum dia keluar dia menoleh ke arah Arsenio lebih dulu.


“Kau tidak akan meninggalkanku bukan?” selidik Alya.


“Tidak akan, apa untungnya aku meninggalkanmu di sini? Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!” ketus Arsenio membuat Alya mengangguk dan langsung keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Wanita dewasa itu berlari layaknya anak kecil, mengambil batu dan mulai melemparkan batu-batu yang dia ambil tadi ke arah danau, lalu dia berteriak meluapkan semua emosi yang dia rasakan, untung saja tidak ada orang lain di sana selain mereka.


Sedangkan Arsenio yang menunggu di dalam mobil hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Alya yang kekanak-kanakan, wanita pertama yang menolaknya dan wanita pertama yang menatap matanya dengan berani.


Tiba-tiba saja perhatian Arsenio teralihkan kepada suara yang berasal dari ponsel yang ada di dalam tas milik Alya, laki-laki itu melirik sekilas ke arah Alya sebelum akhirnya dia mengambil ponsel itu dari dalam tas Alya.


Di lihatnya nama orang yang menghubungi Alya dan Arsenio langsung menekan tombol merah saat melihat nama Tommy di layar ponsel.


Beraninya laki-laki itu menghubungi Alya setelah apa yang sudah dia lakukan, akting yang di tunjukkan Tommy tadi membuat Arsenio ingin tertawa lalu memukul wajah laki-laki tidak tau diri itu.


Dan lagi-lagi Tommy menghubungi Alya, Arsenio yang tidak tahan akhirnya segera mengangkat telfon dari Tommy itu.


“Al, Al kamu di mana? Maafkan aku terbawa emosi tadi, aku mohon maafkan aku Al.” ucap Tommy tanpa membiarkan orang di sebrang telfon mengatakan ‘halo’ lebih dulu.


“Al? kita akan tetap menikah bukan? Tidak masalah jika kita harus menikah dengan sederhana aku akan terima asalkan aku menikah denganmu Al.” ucap Tommy kembali.


Arsenio hanya tersenyum sinis, Tommy benar-benar tidak tahu diri bagi Arsenio, bagaimana bisa dia tadi berlagak seolah korban dan sekarang memohon layaknya seorang penjahat.


“Kau? Kau laki-laki yang tadi bukan?! Siapa kau sebenarnya hah! beraninya kau mengganggu tunanganku.” Ucap Tommy.


“Tunangan? Kalian berdua sudah tidak bertunangan lagi karena tadi Alya juga sudah melepaskan cincin di jarinya, jadi jangan pernah mengharapkan calon istriku lagi.” Ucap Arsenio.


"Apa kau bilang!? Siapa kau sebenarnya hah!? Kenapa kau mengganggu ketenangan hubunganku dan Alya!" ucap Tommy.


"Aku hanyalah pegawai biasa sama sepertimu, aku dan Alya baru mengenal beberapa waktu lalu saat dia melihat kau dan selingkuhan mu baru keluar dari apartemen mu." Jelas Arsenio.


Mendengar hal itu membuat Tommy mematung, dia terkejut saat mendengar ucapan Arsenio barusan.


Sedangkan di sisi lain, walaupun Arsenio tidak melihat ekspresi wajah Tommy secara langsung, tapi dia saat ini sangat tau kalau laki-laki di sekarang sedang terkejut bukan main.


"A-apa yang kau maksud hah!? Aku tidak pernah berselingkuh! Jangan mengada-ngada, Alya tidak pernah melihatku dengan siapapun!" ketus Tommy.

__ADS_1


"Cih! Dasar muka tebal! Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh? Menurutmu kenapa wanita yang berjuang meminta restu kepada orang tuanya tiba-tiba berubah tidak perduli padamu hah?" ucap Arsenio.


Mendengar ucapan Arsenio membuat Tommy diam memikirkan semuanya, karena sejak hari pertunangannya memang sikap Alya berubah kepadanya.


"Tidak mungkin! Di mana buktinya kalau memang dia melihatku hah!?" ketus Tommy.


"Bukankah di apartemen mu ada cctv di sepanjang koridor? Aku akan meminta cctv itu nanti dan mengirim buktinya kepadamu." ucap Arsenio dengan santai.


"Apa!? Di koridor ada cctv? Benarkah?" tanya Tommy tidak percaya.


"Yaampun, jangan bilang kau tinggal di sana tanpa tau kalau keamanan di sana sangat ketat? Dasar ceroboh!" ketus Arsenio sambil terkekeh mengejek kebodohan Tommy.


“Tidak! Kau pasti membohongiku bukan? Aku tidak akan tertipu! Cepat di mana Alya sekarang!” ucap Tommy dengan kesal.


“Alya? Dia sedang bersenang-senang sekarang, jadi jangan mengganggunya.” Ucap Arsenio.


“Di mana kalian!? Jangan berani macam-macam dengan calon istriku! Aku akan melaporkanmu kepada orang tuanya jika berani melakukan hal yang tidak-tidak kepada Alya!” ketus Tommy.


“Benarkah? Tapi aku tidak perduli.” Ucap Arsenio yang langsung mematikan telfonnya begitu saja.


Arsenio langsung menonaktifkan ponsel Alya dan kembali memasukkannya ke dalam tas, lalu tatapannya beralih kepada Alya yang masih menikmati melempar batu ke danau.


Lama-lama menunggu membuat Arsenio jenuh juga, dia melihat jam dan ternyata sudah satu jam mereka ada di tempat itu membuat Arsenio terkejut karena lama juga dia duduk.


Akhirnya Arsenio keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Alya yang masih menikmati dunianya sendiri.


“Hey! Ini sudah malam, ayo pulang.” Ajak Arsenio membuat Alya yang berniat untuk melempar batu beralih menoleh ke arah Arsenio.


Alya melihat seolah-olah dia tidak meyukai Arsenio yang sudah mengganggu kesenangannya.


“Jangan melihatku seperti itu, aku ini masih tahu batasan wanita pulang ke rumah, cepat pulang jangan mentang-mentang kau tinggal di apartment sendirian jadi bisa seenaknya.” Ucap Arsenio.

__ADS_1


Alya hanya bisa pasrah mendengar ucapan Arsenio, dia menghela nafas panjang lalu berjalan dengan malas menghampiri laki-laki itu dan melempar semua batu yang ada di tangannya ke tanah lalu menendang-nendang tanah yang tidak bersalah.


__ADS_2