DIPENJARA CINTA

DIPENJARA CINTA
BAB 6 (OMA NANI)


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh jam Alya berada di salon kecantikan tersebut sampai ia rasanya sangat bosan dan ingin segera pulang ke rumah.


Ada banyak sekali yang harus dia Alya lakukan, SPA, creambath, meni pedi, menata rambut, make up, dan memilih gaun.


Sebelum di beri kutek, Alya lebih dulu memilih gaun agar kutek yang di pakai serasi dengan pakaian yang di pakai.


Setelah memilih gaun, Alya langsung di pakaikan kutek sambil yang lain menata rambut Alya.



Alya melihat bayangan Arsenio dari cermin yang ada di hadapannya, laki-laki itu sama sekali tidak melihat bahkan melirik sedikit pun ke arahnya, dia masih fokus berbicara dengan seseorang yang sejak tadi tidak selesai-selesai.


Alya terus menghela nafas panjang berkali-kali karena rasanya dia sudah lelah sekali, dan pinggangnya terasa sakit sejak tadi duduk.


“Capek ya nona?” tanya karyawan yang sedang memberikan kutek ke kuku tangan alya dengan telaten.


“Hemm, emang masih lama ya?” tanya Alya.


“Sabar ya nona, sebentar lagi selesai tinggal make up habis itu ganti pakaian.” Jawab karyawan itu.


Alya hanya menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki.


Arsenio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke luar salon dengan wajah yang terlihat antusias. Sedangkan Alya hanya mengerutkan keningnya saat melihat Arsenio ber ekspresi seperti itu.


“Sudah nona, anda cantik sekali!” seru karyawan yang baru saja selesai memoleskan make up ke wajah Alya.


Alya menatap wajahnya sendiri di cermin yang ada di hadapannya, dia juga terkejut dengan penampilannya saat ini, ingin sekali rasanya dia memperlihatkan kecantikannya ini kepada Tommy yang sudah mengkhianatinya dan lebih memilih wanita seperti Teresa, tidak lupa Alya juga ingin memperlihatkan perubahannya ini kepada Arsen yang sudah meremehkannya tadi.


“Aku ingin lihat, kalau sampai laki-laki itu masih mengatakan aku tidak menarik, akan aku jambak rambutnya!” gumam Alya dengan kesal.


Sekarang tinggal lah babak terakhir, yaitu babak di mana Alya memakai gaun yang sudah ia pilih untuk acara pertunangan nanti malam. Gaun panjang berwarna merah muda dengan tali dilehernya membuat punggung mulus Alya terekspose dan memperlihatkan kesan seksi pada dirinya.


“Wahh... Sempurna..” ucap semua orang yang melihat kecantikan Alya saat itu.


“Apaan sih kalian semua ini bikin orang malu aja deh.” Ucap Alya dengan malu-malu.


“Pasti tuan Arsen tidak akan bisa berkata-kata lagi.” Ucap salah satu karyawan.

__ADS_1


“Sudah, aku malah berharap kalau dia tidak tertarik denganku!” ucap Alya dengan kesal.


“Ayo nona, kita harus segera memberitahu tuan Arsen, anda juga ingin cepat pulang kan?”


“Ah iya benar!” ucap Alya yang baru sadar kalau dia harus segera pulang karena hari mulai malam.


Sejak tadi sudah ada banyak panggilan dari Kenan dan juga Tommy, namun dia hanya mengangkat panggilan dari papinya saja sedangkan Tommy? Sama sekali Alya tidak berniat untuk mengangkat telfon dari laki-laki itu.


“Tuan Arsen.” Panggil salah satu pelayan kepada Arsen yang sedang fokus dengan ponselnya.


Arsen yang mendengar namanya di panggil segera menoleh dan menatap tajam ke arah karyawan yang menurutnya sudah mengganggu kegiatannya.


“Apa!?” ketus Arsen dengan tatapan tajam.


“S-sudah selesai tuan.”


Arsen langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang bersembunyi di belakang karyawan itu, matanya langsung melotot saat melihat Alya yang ternyata bisa terlihat lumayan jika di dandani.



“Lumayan! Kerja kalian semua bagus, aku akan memberikan banyak tip kepada kalian.” Ucap Arsen yang langsung mentransfer uang ke rekening salon tersebut.


Sedangkan Alya hanya tersenyum kecil, dia tidak mengerti kenapa semua orang sampai berterimakasih padanya padahal yang memberi mereka uang adalah Arsen.


“Sudahlah ayo!” ajak Arsen yang masih dingin.


Alya segera berterimakasih kepada semua karyawan yang sudah membantunya menjadikannya putri hari ini, lalu dia berjalan cepat mengikuti langkah Arsen yang panjang.


“Ayo cepat pulang ke rumah, papi ku sudah menelfonku terus menerus.” Ucap Alya.


“Masih ada waktu untuk pulang, aku ingin membawamu ke suatu tempat lebih dulu.” Balas Arsen dengan datar.


Kening Alya mengerut, dia tidak tau apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Sudah berjam-jam Alya duduk dan sekarang dia masih harus mengikuti laki-laki itu entah ke mana.


Sampai beberapa menit kemudian, Arsen melajukan mobilnya masuk ke dalam sebuah gerbang yang sangat megah, bahkan lebih megah dari gerbang rumah opa Kalandra.


“Ayo turun.” Ajak Arsen saat mereka sudah tiba di depan sebuah rumah megah.

__ADS_1


“Ini di mana?” tanya Alya.


“Ga usah banyak tanya! Kamu ga ada pilihan lain selain mengikutiku!” ketus Arsen.


Alya kembali merasa takut mendengar Arsen yang ketus seperti itu, bisa-bisanya dia takut kepada orang yang baru beberapa jam lalu di kenalnya.


Alya tidak ada pilihan lain selain keluar dari mobil mengikuti Arsen, dia benar-benar kesal dengan laki-laki yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.


Alya masuk ke dalam rumah itu, awalnya dia ingin mengeluarkan suara untuk protes kepada Arsen, tapi seketika Alya terdiam saat melihat seorang nenek tua yang sedang duduk di kursi roda sambil tersenyum.


“Oma? Oma kenapa ada di bawah bukan di kamar?” tanya Arsen dengan sangat lembut membuat Alya tercengang dan menatap ke arah Arsen dengan tatapan tidak percaya.


Pasalnya laki-laki yang bersuara lembut itu beberapa jam yang lalu habis membvnvh seseorang tanpa segan.


“Oma bosan di dalam kamar terus, siapa wanita cantik itu? Apa dia kekasihmu?” tanya nenek itu.


“Bukan oma, aku...” Kata-kata Alya terhenti seketika karena tiba-tiba saja Arsen menggenggam tangannya dengan kuat hingga membuat Alya kesakitan hanya saja dia berusaha untuk menahannya.


“Dia calon istriku oma, cantik bukan? Bukankah oma bilang aku harus segera menikah dan aku sudah membawa calon istriku ke hadapan oma.” Ucap Arsen.


“Calon istri? Benarkah? Kamu akan segera menikah? Wah oma sangat senang mendengarnya...” serunya dengan raut wajah yang bahagia.


“Siapa namamu nak?” tanya wanita tua itu.


“A-Alya oma...” jawab Alya dengan sopan.


“Nama yang cantik sama seperti orangnya.. Aku adalah nenek laki-laki berhati dingin ini, panggil aku oma Nani sama seperti Arsen, sebentar lagi kamu akan menjadi cucu oma juga.” Ucap oma Nani.


Alya hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang di paksakan karena dia tidak tau harus berekspresi seperti apa.


“Apa benar kamu adalah calon istri cucuku nak?” tanyanya kepada Alya.


Alya ingin sekali berkata tidak dengan tegas, tapi dia tidak tega melihat wanita tua yang sudah sangat bahagia itu merasa sedih karena jawabannya.


“I-iya oma.” Ucap Alya dengan senyum yang di paksakan.


“Wah akhirnya! Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Oma akan menyiapkan semuanya dengan sangat baik!” ucap oma Nani.

__ADS_1


“Seminggu lagi oma, tanpa pesta pernikahan, aku hanya akan melangsungkan pernikahan yang di hadiri keluarga terdekat saja.” Jawab Arsen yang membuat oma Nani tidak suka.


__ADS_2