
..."semuanya punya rasa takut kecuali dia tidak punya hati''...
...Emily Nelsonπ...
Emily pagi ini berangkat kerja dengan naik kereta bawah tanah karena Allen sudah pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Emily memilih naik kereta karena tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tujuan meskipun harus berdesakan dengan banyak orang yang juga ingin berpergian.
Emily yang baru datang dengan menggunakan baju rapi dan rambut panjang tergerai melihat orang laki-laki yang baru saja keluar dari mobil mewahnya dengan dibukakan oleh satpam.
"Selamat pagi pak. " Sapa beberapa pegawai melihat Lewis yang berjalan melewati mereka. Emily yang melihat Lewis mulai mendekatinya memilih menghindar dengan melanjutkan jalannya tanpa menoleh ke belakang.
"Apa sebesar itu kesalahan ku? ". Gumam Lewis melihat Emily berjalan menjauhinya.
Lewis terus saja memikirkan Emily yang sangat berbeda saat ini bahkan tidak mau menemuinya ketika Lewis meminta datang mengantarkan data ke ruangannya malah pegawai lain yang datang membawa data yang ia minta.
"Kenapa aku harus memikirkannya. " Ujar Lewis dengan meraup wajahnya kasar.
Lewis yang berada di ruangannya masih memikirkan Emily mendengar samar-samar keributan yang tercipta di kantornya. Lewis memilih melihat apa yang terjadi di sana. Namun, ketika Lewis melihat kerumunan dengan menyingkirkan beberapa orang ia melihat adegan panas antara dua wanita sedang bertarung di sana tanpa memperdulikan dimana mereka sedang berada. Kedua wanita tersebut saling jambak-menjambak rambut satu dengan yang lainnya.
"Dasar wanita penggoda. " Ujar salah satu wanita yang tidak lain adalah Callista dengan masih menjambak rambut panjang Emily yang tadinya rapi menjadi berantakan.
"Kamu ngaca dulu sebelum mengatai orang." Balas Emily yang juga menjambak rambut Callista. Semua pegawai tidak melerai pertengkaran tersebut karena mereka pikir ini adalah adegan film mencapai klimaksnya yang tidak boleh dihentikan dan hal ini mungkin tidak akan sering-sering melihat adegan seperti ini di kantor besar Laurence.
"Berhenti". Teriak Lewis di tengah-tengah Emily dan Callista.
" Ini bukan tempat untuk beradu akting. " Lanjut Lewis dengan memandang Emily dan Callista bergantian yang sudah tidak seperti perempuan yang dikagumi banyak orang.
"Aku sudah menegaskan bahwa kita tidak punya hubungan lagi. Kenapa kamu kembali dengan membuat keributan disini? " Tanya Lewis dengan sorotan tajam ke perempuan yang menggenakan dress putih ketat menampilkan lekuk tubuh seksi seorang model.
"Semua ini gara-gara wanita penggoda ini. " Callista memajukan lagi langkahnya untuk menjambak Emily tapi dihadang oleh tubuh Lewis.
"Aku minta kamu pergi dan jangan pernah tampakkan lagi wajahmu ke hadapanku. " Seorang satpam menyeret Callista pergi seperti seorang yang telah melakukan kesalahan besar. Callista merasa harga dirinya sebagai model top hancur karena pengusiran Lewis yang kedua kalinya.
__ADS_1
"aku tidak akan terima dengan apa yang kalian lakukan padaku. " teriak Callista yang diseret satpam keluar
Callista kembali ke kantor Lewis untuk meminta kembali bersama Lewis lagi. tapi, belum sempat ia menuju ruangan Lewis ia bertemu dengan Emily. Karena emosi yang tinggi mengingat kemarin Lewis menggandeng nya, Callista langsung menjambak rambut Emily dan membuat Emily membalasnya.
Lewis melihat penampilan Emily yang sangat berantakan dengan kecewa karena kejadian ini menyeret namanya. Meskipun Lewis tahu bahwa semua ini yang memulai pasti Callista.
"Sudah cukup. Kembali bekerja semua! " Perintah Lewis dengan nada tinggi membuat kerumunan yang tercipta menjadi buyar.
.Sudah lama matahari menenggelamkan dirinya tapi Emily masih mengerjakan semua pekerjaannya yang tertunda karena pertengkaran yang terjadi tadi dengan Callista.
"Sepertinya aku akan pulang telat hari ini. " Gumam Emily melihat jam tangannya.
Selesai dalam pekerjaannya Emily mempersiapkan diri untuk pulang. Namun, tangannya yang mengambil tas bergetar ketika mendengar suara gemuruh dari langit. Keningnya mengeluarkan banyak keringat dan tangannya memegang meja erat-erat seolah ingin menegakkan dirinya yang tidak berdaya.
Bersamaan dengan gemuruh yang kembali menggema lampu kantor padam. Keadaan kantor yang sudah sepi menjadikan situasi mencengkeram untuk Emily. Tubuh Emily yang bergetar akan jatuh namun tangannya menyenggol vas bunga hingga jatuh bersamaan dengan tubuhnya.
Suara yang timbul memantik orang yang baru akan pulang. Lewis membuka pintu ruangan Emily yang mendengar sesuatu jatuh di sana. Emily melihat pintunya yang dibuka dengan seseorang masuk ke ruangannya. Emily ingin memanggil orang tersebut namun karena ketakutan yang menerpa pada dirinya ia tidak mampu berbicara.
Emily mengeratkan pelukan Lewis karena melihat kilatan yang masuk dari balik kaca ruangannya. Sejak kecil Emily sangat takut dengan gemuruh sebelum hujan apalagi ditambah dengan mati lampu. Jika orang melihat ini pasti mengatakan bahwa Emily adalah orang yang paling penakut di dunia ini. Namun, semua orang pasti memiliki ketakutan dalam dirinya termasuk Emily yang takut gemuruh dan kegelapan.
"Emily." Lewis menjepit pipi Emily yang dipenuhi keringat. Ia melihat mata Emily yang penuh ketakutan di sana.
"Kemari lah." Lewis membawa Emily untuk duduk di kursi yang tersedia
" Lewis aku takut. " ujar Emily dengan suara bergetar dan kembali memeluk tubuh Lewis yang berdiri di depannya.
"aku disini untuk mu. " balas Lewis dengan mengelus pundak Emily.
"aduh". pekik Emily
" kenapa? " tanya Lewis dengan mengangkat dagu Emily untuk melihat wajah Emily
__ADS_1
"coba aku lihat. " Lewis menarik kerah baju Emily untuk melihat dibalik baju tersebut. dengan cahaya senter hp Lewis melihat bekas cakaran yang baru di balik kerah baju Emily.
"apakah ini kelakuan Callista? " tanya Lewis memegang luka Emily
"aduh, sakit. "
"aku akan ambilkan obat untuk mu. " Lewis mengambil obat di laci meja Emily yang memang disediakan oleh kantor untuk pertolongan pertama.
"Maaf Emily. " ujar Lewis disela kegiatan mem plester luka Emily
"untuk perkataan ku yang melukaimu. " lanjut Lewis yang saat ini sudah memandang wajah Emily.
"untuk apa yang telah kamu katakan padaku aku sangat membencimu Lewis. " tangisan Emily pecah saat ini dengan memukuli dada besar Lewis.
"aku minta maaf Emily. " Lewis menarik tubuh Emily untuk memeluknya kembali.
"aku akan menghilangkan ketakutan mu malam ini. " ujar Lewis dengan tersenyum samar
"jangan mengambil kesempatan dalam hal ini Lewis. " balas Emily dengan memeluk erat Lewis.
"aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak menggoda ku Emily. " balas Lewis dengan menahan tawanya.
"aku tidak akan mengampuni untuk itu. " ujar Emily tanpa melepaskan pelukannya.
πππ
assalamu'alaikum semuanya
jangan lupa dukung author dong setelah membaca novel ini dengan meninggalkan jejak kalian caranya berikan like vote komentar dan share ke lainnya.
Terimakasih semua π
__ADS_1