
..."Waktu dan aku adalah cinta"...
...Emily Nelson...
Dibalik gorden jendela kaca kamar mewah berdesain klasik menampilkan cahaya yang sudah terang setelah gelap beberapa waktu menghilang. Emily yang baru membuka matanya menjelajah seisi ruangan dan mencoba mengingat dimana dirinya berada saat ini. Hingga matanya menangkap bingkai foto bergambar orang laki-laki melipatkan tangannya didepan dada dengan menampilkan senyuman manis membuat orang yang melihatnya terkesima.
"Ternyata aku masih di kamar Lewis. " Gumam Emily dengan mengacak-acak rambut panjangnya yang terasa gatal.
"Tapi di mana Lewis sekarang? ". Emily mengedarkan penglihatannya ke ranjang dimana Lewis tidur kemarin.
Emily tertidur di kamar Lewis karena waktu ingin pulang tangan Lewis menggenggam erat tangannya seolah tidak memperbolehkan Emily meninggalkannya dan karena sudah kantuk membuatnya tertidur di kursi sisi ranjang tapi entah bagaimana waktu bangun tidur ia sudah berada di ranjang tidur Lewis.
Emily membersihkan wajahnya untuk mengusir kantuk nya yang masih ada dan menuruni tangga mencari keberadaan Lewis yang belum ia lihat sedari tadi.
" Kamu sudah bangun? " Suara Lewis di ruang tengah membuat Emily menoleh dan mendekatinya.
"Kamu sudah sembuh? ". Emily tidak menjawab pertanyaan Lewis malah bertanya balik melihat keadaan Lewis yang jauh berbeda dengan tadi malam.
" Semua berkat dirimu." Balas Lewis dengan menyeruput kopi di tangannya.
"Tadi waktu aku bangun kenapa ada di ranjang? ". Tanya Emily dengan ikut duduk di sofa empuk sebelah Lewis.
"Aku lihat kamu tidur di lantai jadi aku pindahkan ke ranjang karena aku tidak tega melihat nya. " Balas Lewis dengan berbohong.
Waktu badannya Lewis merasakan membaik membuat ia membuka matanya dan melihat Emily tertidur dengan posisi duduk sehingga memantik Lewis untuk memindahkannya ke sisi ranjang tempat tidurnya.
Sebelum menjauhkan dirinya dari tubuh Emily Lewis melihat lekat wajah Emily yang sangat cantik dan memiliki banyak pesona. bulu mata lentik bibir tipis merah muda alami hidung mancung mempesona bagi siapa saja yang memandangnya. Lewis menyibak rambut Emily yang menutupi wajah ke belakang kupingnya. Karena mata yang sangat kantuk lelah membuat Emily tidak menyadari bahwa sekarang Lewis sedang mencium lama keningnya. Jika saja Emily menyadari dengan apa yang dilakukan Lewis entah bagaimana Emily menanggapi semuanya.
__ADS_1
"Entah kenapa aku tertarik untuk melakukannya. " Gumam Lewis dan tersenyum manis ke Emily yang masih mata terpejam dengan nafas teratur menampilkan wajah polosnya.
"Apa aku jatuh dari kursi? ". Tanya Emily dengan ragu-ragu karena jika dia jatuh pasti ia merasakan sakit pada tubuhnya. Emily mengecek semua tubuhnya dan ia tidak mendapatkan luka atau rasa ngilu di sana.
" Mungkin. " Jawab asal Lewis dengan menutupi wajahnya yang menahan tawa dengan cangkir kopi karena tidak ingin Emily melihatnya yang sudah membohongi nya.
"Untuk itu terimakasih. " Ucap Emily dengan menatap Lewis serius.
"Sepertinya aku punya permintaan untuk mu saat ini. " Ujar Lewis dengan membalas tatapan Emily
"Apa? ". Tanya Emily dengan mengangkat satu alisnya
" One fine day. " Balas Lewis dengan senyuman manisnya mencoba menyakinkan Emily untuk menyetujui permintaanya.
"Mau? ". Lanjut Lewis dengan memegang tangan Emily yang masih menimbang permintaan Lewis.
"Benarkah? " Tanya Lewis dengan mata berbinar.
"Tapi aku tidak mau melakukan hal yang macam-macam. " Ujar Emily dengan memperingatkan Lewis
"Akan aku pikirkan. " Ujar Lewis dengan menampilkan mata dan senyuman menggoda.
Tanpa berpikir panjang menyetujui permintaan Lewis membuat Emily merasa menjadi orang bahagia saat ini. Emily merasa akan melupakan semua yang telah terjadi kepadanya dengan bersama Lewis. Bagaimana tidak setelah mengganti baju kantornya dengan baju kasual berbalut sweater biru dan rok mini dengan rambut terikat menjadikan ia seperti gadis muda umumnya yang belum bersuami. Sedangkan Lewis mengenakan pakaian kasual sweater hoodie warna hitam disisi kanan dan warna putih disisi kiri membuat ia dan Emily adalah pasangan yang didambakan oleh semua orang.
Sebutan 'mata London' cocok disematkan pada tempat Lewis dan Emily injak kan kaki saat ini. Sebuah Ferris wheel raksasa menduduki Sungai Thames membuatnya terlihat seperti bola mata yang besar. Entah bagaimana caranya Lewis dan Emily sudah berada di dalam kapsul yang beratnya mencapai 10 ton ini karena jika ingin menaikinya harus mengantri panjang dengan lainnya. Tapi tanpa mengantri Emily dan Lewis sudah berada di sana bahkan dalam kapsul nomor 10 hanya terisi dirinya dan Lewis saja. Emily berpikir ini semua terjadi pasti karena orang yang berada di sebelahnya yang memiliki segalanya.
Mata Emily tidak mau kehilangan setiap putaran yang menampilkan mahal karya Tuhan yang sangat luar biasa. Penampilan kota London yang indah membuat Emily melupakan semua apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"Lewis kira-kira rumah kita nampak apa tidak ya?. " Tanya Emily dengan memandangi pemandangan.
"Mungkin di sana Lewis. " Lewis mengikuti arah telunjuk Emily yang sembarangan. Emily terlihat seperti anak kecil yang baru melihat sesuatu baru yang menarik baginya.
"Oh ya? Aku kira di sana. " Lewis menanggapi Emily dengan bercanda membuat Emily memajukan bibirnya melihat Lewis lakukan.
"Mungkin itu rumahmu tidak rumahku. " Ucap Emily dengan cemberut
"Ya pastilah. Kan rumah kita memang berbeda. Apa kamu ingin satu rumah denganku? ". Ujar Lewis menggoda Emily yang saat ini menatapnya dan memberikan pukulan di perut Lewis.
" Siapa tahu mau. " Ujar Lewis lagi dengan cepat menjauhkan tubuhnya agar tidak mendapatkan amukan dari Emily.
"Lewis jangan menganggu mood ku saat ini ya. Atau kamu akan melihat dirimu tidak bisa keluar dari sini. " Emily menatap tajam Lewis seperti sedang menakuti Lewis. Namun, Lewis malah menahan tawanya karena Emily tidak berhasil menakuti nya melainkan seperti sedang menggodanya.
"Lewis kamu tidak sedang takut ketinggian kan saat ini? ". tanya Emily ke orang yang berada di sebelahnya.
" Dulu aku pernah ingin naik eye London bersama teman-teman ku tapi karena takut aku tidak jadi naik. " ujar Lewis tanpa memandang Emily yang memandangnya intens
"semua teman-teman ku mengejekku karena rasa takutku. Tapi lihatlah, sekarang mereka tidak berani menatapku dan menghormati ku. " ujar Lewis dengan tersenyum sinis
"Lewis bisakah kamu hidup tanpa adanya dendam?. " tanya Emily hati-hati agar tidak melukai hati Lewis.
"aku merasa dendam dan hidupku selalu bergandengan Emily. Mereka sedang berkompromi dalam hidupku. " Balas Lewis dengan memandang dua manik biru Emily yang polos.
"Maukah kamu bertarung dengannya? . " Emily menggenggam tangan besar Lewis dengan sangat lembut.
"Tapi sangat disayangkan Emily. aku memang petarung boxing terbaik tapi tidak dalam hal itu. " Lewis mengelus pipi putih Emily dengan lembut
__ADS_1