
..."Berbohong dibenarkan jika itu membuat kebaikan"...
...Lewis Lauren...
Membopong tubuh orang yang sudah tidak sadarkan diri ke dalam apartemennya, tangan Lewis terasa pegal-pegal. Tubuh Calista yang langsing ternyata tidak seperti ia bayangkan, orang yang biasa rajin olahraga sepertinya saja merasa kewalahan.
" Tidak seperti luarnya. " Gerutu Lewis dengan melemparkan tubuh Calista ke ranjang lebar miliknya.
Lewis mengetahui password apartemen Calista karena ia sering berkunjung dan Calista sendiri memberitahukan semua itu ke Lewis agar jika berkunjung langsung bisa masuk tanpa ijin terlebih dahulu.
Selepas meregangkan lengannya beberapa saat, Lewis membuka laptop yang berada di salah satu sudut ruangan di atas meja.
Tangan Lewis mengotak-atik laptop milik Calista yang membukanya juga harus menggunakan password.
"Sial, apa password nya. " Genggaman tangan Lewis dilayangkan ke atas meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Sudah beberapa kali ia memasukkan kata agar bisa membuka laptop yang memuat foto-fotonya dengan Emily.
Niatan untuk membersihkan semua foto-fotonya adalah tujuan Lewis melakukan semua ini dengan mencampurkan obat tidur di minuman Calista. Namun, sayangnya ia kebingungan dengan password yang terpasang sekarang.
"Apa password laptop ini?. " Semua hal yang Calista sayangi telah Lewis masukkan sebagai password berharap bisa cepat-cepat pergi dari apartemen orang yang mengeluarkan dengkuran keras.
__ADS_1
"Apakah dia menggunakan namaku di password ini?. " Pikir Lewis karena ia juga salah satu orang yang sayangi. Bagaimana tidak, Calista rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan dirinya.
"Lewis Lauren. " Jemari Lewis mengetik namanya sendiri dan mencoba kembali keberuntungannya. Dan ternyata benar, namanya lah yang menjadi password laptop Calista.
"Kenapa aku tidak kepikiran dari awal ya. " Gerutu Lewis dengan jemari masih bermain di atas keyboard mencari data yang menyimpan rahasianya.
Melihat foto-foto dan videonya bersama Emily, Lewis tersenyum penuh kembali mengingat dimana ia pernah menghabiskan waktu yang sangat membahagiakan bersama orang yang ia sayangi.
"Dasar Emily, kenapa aku harus jatuh cinta kepada dirimu yang sangat lugu itu. " Dari gerak-gerik yang Lewis lihat, Emily adalah wanita jaman sekarang yang masih sangat polos. Pasti banyak yang tidak percaya bahwa gadis secantik dirinya masih tidak tahu banyak tentang liarnya dunia saat ini.
"Lewis, janganlah pergi dari ku. " Calista mengigau dan menyadarkan lamunan Lewis yang terhanyut dalam beberapa jepretan fotonya bersama Emily. Dengan secepat mungkin Lewis menghapus semua data rahasia tanpa ketinggalan di HP mahal Calista.
"Cih, menjijikkan sekali. " Melemparkan kembali HP Calista, Lewis mengeluarkan dirinya dari apartemen milik Calista dengan sangat bahagia. Terbebas dari cengkeraman orang yang selalu mengaturnya adalah kepuasan tersendiri bagi Lewis.
💜💜💜
Merayakan sesuatu yang megah adalah kebahagiaan tersendiri bagi orang yang menjalankan. Namun, semua itu berbeda bagi Emily .
Bertemu kembali dengan Lewis, Emily merasa ada kesempatan sekali lagi bagi dirinya untuk bisa kembali di dalam pelukan Lewis. Akan tetapi, Lewis malah kembali menjatuhkan harapan Emily dengan menegaskan jika ia hanya ingin membuat kehancuran di hidup mertuanya.
Meskipun begitu, sorot mata bening Lewis mengatakan hal yang berbeda walaupun ia memungkiri semua itu.
__ADS_1
Tanpa disadari dalam langkahnya menuju kamarnya, ia baru menyadari bahwa setiap akan ke kamarnya ia pasti melewati sebuah kamar yang selalu tertutup dan tidak pernah terbuka selama ia tinggal di sini.
"Ini ruangan apa?. " Batin Emily dengan menempelkan kupingnya di pintu kayu yang sedikit berdebu.
"Apa yang kamu lakukan?. " Suara berat tiba-tiba terdengar hingga membuat Emily kaget mendengarnya karena ia kenal bet pemilik suara tersebut.
"Eh, Mas Allen. " Emily memutar tubuhnya menatap orang yang juga menatapnya aneh dengan menautkan alisnya.
"Kamu sedang apa?. "Ulang Allen lagi karena belum mendapat jawaban dari istrinya yang masih mengenakan dress pesta.
" Enggak sedang apa-apa Mas. Hanya saja aku penasaran selama aku tinggal disini belum pernah melihat ruangan ini terbuka. " Jelas Emily dengan tersenyum canggung takut menyinggung suaminya yang membawa segelas air untuk ia bawa ke kamar.
"Itu adalah kamar Mama, dulunya. Dan tidak pernah dibuka kembali setelah kepergiannya. " Lewis melewati Emily dan berlalu menuju ke kamarnya.
"Kamar Mama mertua?. " Gumam Emily dengan berjalan perlahan menyusul suaminya yang sudah masuk ke tempat biasanya dirinya berbaring.
💙💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
__ADS_1
Love you