
..."Tidak semuanya tentang apa yang kita lihat dan yang kita dengar. Karena yang tersembunyi adalah kebenarannya"...
...Lewis Lauren...
Sorot mata Lewis sesekali tidak bisa dikendalikan untuk tidak menatap wanita yang sangat menawan diantara banyak tamu undangan.
Undangan yang datang kepadanya dari Alex orang kepercayaan Dawson untuk mendatangi acara anniversary Allen dan Emily.
Niatan awal Lewis tidak akan datang ke acara orang yang ia sayangi bersanding dengan musuhnya, akan tetapi Calista mengancam dirinya untuk membuka semua foto-fotonya agar Emily dipermalukan di depan umum.
Melihat kedatangan Emily bergandengan dengan Allen hingga berdansa di lantai dansa tidak pernah luput dari pandangan Lewis. Karena hatinya yang masih terukir nama sosok yang sangat jelita meski ia mencoba menutupinya dengan mengatasnamakan balas dendam.
"Jaga matamu Lewis. " Mengelus lengan orang yang matanya selalu mengikuti keberadaan Emily, Calista berbicara dengan mengancam meski suaranya terdengar halus.
"Jangan mengatur ku!. " Kecam Lewis dengan penuh penekanan karena sebenarnya ia tidak suka harus diatur oleh orang lain, terlebih tentang perasaannya.
"Oh, kamu mulai berani dengan ku? . " Tujuan awal Calista ingin datang ke pesta anniversary Allen dan Emily adalah menguji ketahanan Lewis melihat orang yang ia sayangi bersama dengan orang lain. Dan ia juga ingin menunjukkan kepada Emily bahwa Lewis lebih memilih dirinya daripada dia.
"Aku ambilkan minuman dulu. " Mengalihkan pembicaraan yang hanya tentang ancaman, Lewis mengambil dua minuman dari pelayan dan memasukkan sesuatu di salah satu minuman tersebut.
"Ini, minumlah. " Lewis kembali ke tempat Calista berada dan memberikan satu gelas minuman yang sudah ia campuri dengan obat di dalamnya.
"Wah, Lewis. Kau terlihat seperti pasangan yang sangat baik. " Mendapatkan perlakuan baik dari Lewis, Calista sangat senang hingga bibirnya tersenyum penuh karena Lewis sebelumnya belum pernah melakukan hal demikian.
"Cepat, minumlah!. " Titah Lewis mendorong orang yang sangat menjengkelkan tersebut bisa cepat-cepat meminum minumannya agar rencananya berhasil.
Dalam satu tegukan, Calista menghabiskan apa yang ia pegang dan tanpa memikirkan apa yang sebenarnya ia lakukan.
"Hai Allen. " Tangan Calista di lambaikan memanggil dua orang yang menjadi icon di perayaan ini.
Mendapatkan panggilan dari Calista, Allen tetap memilih memenuhi panggilan orang yang juga termasuk dalam list tamu undangan.
__ADS_1
"Halo, Calista. Kamu datang dengan siapa?." Allen menjabat tangan mantan pacar yang pernah ada di hatinya sebelum menikah dengan Bella.
"Aku datang dengan pacarku Lewis Lauren. " Melingkarkan tangannya ke lengan kekar Lewis, Calista melirik wanita yang menatapnya dengan mengintimidasi.
"Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk bisa datang ke pesta. " Allen memindahkan jabatan tangannya ke tangan orang yang selalu disandingkan dalam berbagai macam berita.
Allen dan Lewis sendiri tidak terlalu kenal satu sama lainnya, dan hanya saja dipertemukan di berbagai acara bisnis yang membuat mereka sekedar tahu bahwa itu adalah lawan bisnisnya.
"Iya." Balas cuek Lewis.
"Oh ya, Calista. Masih ingatkah kamu dengan Emily?. " Tanya Allen kepada Calista yang pernah mempermalukan Emily di depan umum pada saat dinner bisnis. Dalam pikiran Allen, Calista melakukan semua itu karena ia sedang cemburu dengan Emily yang bisa bersamanya tanpa berpikir lebih.
"Aku ingat semuanya Allen. Bukankah dia yang bertabrakan denganku hingga gaunnya robek?. " Pura-pura Calista seperti tidak melakukan kesalahan. Padahal semua itu memang ia lakukan karena kecemburuan pada Emily yang bisa menguasai dua orang yang selalu ia incar.
"Emily, perkenalkan ini adalah Calista. "
Dengan malas Emily menjulurkan tangannya berpura-pura baru pertama kali kenal dengan orang yang sebenarnya sudah menjadi musuh bebuyutannya.
"Aduh sakit Emily. " Calista mengambil cepat tangannya yang diremas Emily dengan keras hingga menjiplak merah di kulit putihnya.
"Maaf, aku tidak sengaja. " Emily berlagak tak melakukan kesalahan padahal ia benar-benar sengaja memberi pelajaran orang yang sangat menjengkelkan di matanya.
"Apakah kamu sedang cemburu hingga melakukan ini padaku?. "
"Kamu sedang cemburu kepada ku karena Allen dan aku pernah saling mencintai? Atau kamu iri dengan ku karena bisa mendapatkan Lewis? Tidak, Emily. Kamu sudah mempunyai suami, jadi jangan pernah berpikir untuk bisa memiliki orang lain selain Allen. " Calista menyindir Emily dalam perkataannya hingga membuat dua orang yang merasa tersindir melotot kearahnya.
"Emily, bukankah kamu pernah bekerja dengan Lewis?. " Tanya Allen memastikan karena ia lupa.
"I-iya Mas. " Jawab Emily dengan terbata.
"Apa kalian kenal dekat?. " Cecar Allen pada orang yang suasana hatinya sedang tegang karena takut jika ia memiliki perasaan ke Lewis.
__ADS_1
"Allen, tidak semua pegawai kenal dekat dengan atasannya. Bukankah begitu sayang?. " Pertanyaan dilontarkan ke Lewis yang sedang mantap mata cantik Emily.
"Iya." Hanya kata setuju yang bisa Lewis berikan ke Calista sebagai jawaban sindirannya.
" Baiklah Calista, aku ke tamu undangan lainnya. Silahkan menikmati pestanya. " Allen menggandeng Emily meninggalkan Lewis dan Calista di sana.
Pesta anniversary Allen dan Emily dirayakan begitu meriah hingga semua orang yang datang merasa puas dengan meluangkan waktunya.
Namun di sisi lain Calista sudah tidak bisa menikmati pestanya hingga akhir karena matanya terasa sangat berat untuk bisa berjaga sampai pestanya selesai.
"Lewis, ayo kita pulang. " Ajak Calista dengan terus menguap menahan kantuk.
" Tunggu dulu sebentar Calista. Biarkan pestanya selesai dulu. " Tolak Lewis dengan masih menyesap minuman di tangannya. Lewis sendiri paham jika obat yang ia campurkan di minuman Calista sudah bekerja dan ia hanya pura-pura menikmati pesta yang membuat hatinya panas.
"Ayolah Lewis, aku sudah tidak bisa menahan kantuk ku. " Tanpa sabar Calista menggeret Lewis keluar gedung untuk mengantarnya pulang ke apartemennya.
"Bagaimana bisa kamu mengantuk disaat pesta sedang meriah-meriahnya? . " Candaan dilontarkan Lewis kepada orang yang sudah menyandarkan kepalanya di kursi penumpang depan dengan mengeluarkan dengkuran-dengkuran.
Ada banyak alasan melakukan semua ini ke Calista. Dan salah satu dari alasannya adalah bisa cepat pergi dari ruangan yang sangat sedikit udara yang bisa ia hirup.
Bagaimanapun melihat orang yang ia sayangi bersanding dengan orang lain bukan hal yang mudah ia terima begitu saja, terlebih orang yang bersanding dengan Emily adalah musuhnya sendiri. Jika bukan adanya ancaman dari Calista yang akan menghancurkan Emily, Lewis pasti sudah membawa kabur Emily dari dunia ini. Karena ia tidak peduli hal lainnya selain Emily sendiri.
"Maafkan aku Emily, yang sudah membuat pernyataan palsu tentang perasaan kita. " Gumam Lewis dengan mengendalikan stir mobilnya
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
Love you
__ADS_1