Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Syarat


__ADS_3

..."Tidak ada yang lebih rusak dari seseorang yang menganggap kegagalan orang lain sebagai pencapaiannya."...


...Emily Nelson...


Kembali dengan keadaan paksakan Fany, Emily akan memasuki kamar Lewis yang sangat menakutkan baginya.


Perlahan tangan Emily mendorong pintu yang kemarin ia tutup dengan rasa kecewa karena Lewis telah mengusirnya tanpa mau mendengarkan penjelasan semua kejadian yang menimpa dirinya dan Calista sebenarnya.


Pertama kali mata Emily langsung menatap dua manik yang juga sedang menatap dirinya masih setengah nampak karena belum sepenuhnya dirinya membuka pintu.


"Lewis, bolehkah aku masuk? ". Tanya Emily dengan ragu-ragu takut orang tersebut tersinggung.


Bukan menjawab pertanyaan Emily, Lewis malah membuang wajahnya untuk memutus tatapannya pada Emily.


Dengan keraguannya, Emily tetap masuk ke ruangan Lewis dan langsung mendudukkan pantatnya di kursi yang tersedia di samping ranjang Lewis berbaring.


Sempat beberapa detik yang berjalan memenuhi suasana hening di ruangan yang terlalu besar bagi satu orang tinggal di sana. Suara troli masuk di dorong seorang suster yang memecahkan keheningan ruangan.


" Mas, makan dulu dan jangan lupa minum obatnya. " Suster cantik tersebut langsung keluar ruangan selepas meninggalkan bawaannya tanpa memperhatikan orang yang sedang berbaring berharap dirinya tetap tinggal.


"Biar aku bantu. " Emily membantu membenarkan posisi Lewis yang akan duduk. Tanpa ada penolakan dari Lewis, Emily mengambil makanan di atas troli yang khusus dibuat untuk orang sakit seperti Lewis.


"Bukalah mulutmu! ". Perintah Emily pada Lewis yang terus menatap tajam kepadanya.


" Kenapa kamu kembali? ". Tanpa menuruti perintah Emily, Lewis malah memberikan pertanyaan pada seseorang yang mengarahkan sendok berisi makanan kepadanya.


Tentu Lewis menanyakan hal seperti itu pada Emily, mengingat dia telah mengusir Emily kemarin. Bukan hal mudah melupakan sesuatu yang menyakitkan namun hal itu berbeda dengan Emily.


Sebetulnya Lewis tahu betul apa yang terjadi di ruangannya mulai dari ungkapan perasaan Emily pada dirinya sampai Emily tertidur di sampingnya dengan mengeluarkan dengkuran.


Dan Lewis melihat kedatangan Calista yang kaget dengan keberadaan Emily sedang tertidur di samping ranjangnya. Dengan kekesalannya, Calista malah membuat Emily menampar nya. Namun semua itu diadukan kepadanya dengan terbalik.

__ADS_1


Lewis tidak ada pilihan lain selain mengusir Emily karena jika Emily masih di dalam satu ruangan dengan Calista maka akan terjadi hal yang tidak bisa dibayangkan mengingat Calista orangnya licik. Dan ketidakberdayaan Lewis, dia tidak akan bisa melindungi Emily.


" Aku pikir kamu membutuhkan orang untuk berada di sampingmu saat ini. " Jawab Emily dengan menaruh kembali sendok ke mangkuk karena merasa pegal sedari tadi ia memegangnya.


"Sayang, pikiran mu itu salah. " Balas Lewis dengan ketus.


"Tidak ada di dunia ini orang bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk dirimu. " Ujar Emily penuh penekanan.


"Lewis, aku mohon lupakan masa lalu mu dan hiduplah di masa sekarang. " Tangan satunya Emily menggenggam tangan Lewis yang berbalut perban.


"Kenapa kamu mengatur hidupku? Kamu tidak tahu semua apa yang aku alami. " Tegas Lewis jika disinggung mengenai masa lalunya.


"Aku tidak tahu apa yang telah kamu alami, namun melupakan semua kesalahan bukankah itu hal yang baik? ".


" Dan lagi pula, dengan balas dendam pada masa lalu kamu tidak akan bisa membuat masa lalu mu berubah menjadi baik. " Lanjut Emily


"Kamu harus tahu Lewis, tidak ada yang lebih rusak dari seseorang yang menganggap kegagalan orang lain sebagai pencapaiannya." Lewis hanya mampu diam mendengarkan apa yang Emily ucap.


"Jangan minta hal yang tidak bisa aku kabulkan. " Lewis memalingkan wajahnya dari Emily


"Apakah kamu tahu Lewis, saat ini dia sangat malu pada dunia? Karena tidak bisa menjenguk anaknya yang sakit padahal dia mampu melakukannya. "


"Baru sekarang dia merasakan hal itu? Apakah dulu ia tidak merasakannya? ".


" Lewis, dia sekarang tulus ingin hidup tenang bersamamu. Maka, bukalah hatimu untuk bisa menerima kehadiran mama di sampingmu. Aku yakin kamu akan merasakan masalalu yang telah berlalu akan kembali dengan rasa yang berbeda. " Ucap Emily dengan penuh keyakinan.


"Aku mau melakukannya. " Balas Lewis tiba-tiba dan tentu itu membuat mata Emily berbinar-binar.


"Benarkah? ". Tanya Emily memastikan jika ia tidak sedang salah mendengar


" Iya, tapi ada syaratnya. "

__ADS_1


"Syarat? ". Satu alis tebal Emily terangkat dengan dahi berkerut.


" Iya, syaratnya adalah kamu mau berada di sisiku. "


"A-apa? ". Genggaman tangan Lewis lepas dari tangannya dan pantatnya ia tarik untuk berdiri karena terkejutnya


" Jika tidak bisa maka aku pastikan tidak bisa menerima permintaan mu. "


"Lewis, kamu tahukan bahwa aku sudah bersuami? ".


" Lalu? ". Tanya enteng Lewis


" Kenapa kamu memberikan syarat seperti itu?".


"Bila syarat mudah untuk diberikan maka tidak ada imbalan yang pantas di dunia ini. Lagi pula aku tidak memaksamu. Jika kamu bisa maka setujui jika tidak bisa maka lupakan semua permintaanmu. "


Beberapa saat Emily tetap dalam posisinya, hanya kedipan matanya yang bisa memperlihatkan jika orang tersebut masih dalam keadaan hidup.


"Baiklah, aku menyetujui syaratnya asal tidak melewati batas. " Ucap Emily setelah lama berpikir. Tidak ada kata lain selain menyetujui syarat Lewis karena ini jalan satu-satunya mendekatkan hubungan mamanya.


Senyuman lepas terpampang di wajah tampan Lewis seperti telah mendapatkan kemenangan berharga.


"Aku harap ini bukan jalan yang salah ". Gumam Emily


💙💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih


Love you❤

__ADS_1


__ADS_2