
..."Cinta tidak pernah salah hanya saja kita salah memilih langkah"...
...Fany Laurence...
Meja makan yang sudah diisi hidangan untuk makan malam masih belum disentuh oleh dua orang yang sudah duduk manis di bangku dengan saling diam menunggu kedatangan Dawson untuk bergabung karena ia baru datang dari luar rumah.
"Papa dari mana? " Tanya Allen pada orang yang baru mendudukkan dirinya di bangku.
"Tadi papa menemui teman lama. " Jawab asal Dawson dengan melirik menantunya karena ia memberikan jawaban yang berbeda pada dirinya dan Allen.
"Siapa? ". Dawson jarang sekali berkumpul bersama temannya jika tidak ada kaitannya dengan bisnis.
" Atmajaya. Ya Atmajaya. " Jawab asal Dawson karena ia sudah tidak bisa berpikir lagi dengan pertanyaan bertubi-tubi anaknya yang menyudutkan nya.
"Bukannya Atmajaya sekarang sedang di Indonesia ya pa? ". Pertanyaan Allen hanyalah pertanyaan biasa namun tidak bagi orang yang menerima pertanyaannya.
" Entahlah. Aku pergi dulu ada hal yang harus aku kerjakan. "Dawson tidak ada pilihan lain selain pergi karena ia sudah tersudut kan dengan pertanyaan Allen.
Emily hanya mendengar pertanyaan dan jawaban dari anak dan bapaknya yang seperti orang ketakutan jika rahasianya terbongkar.
" Selesaikan makan mu dan istirahatlah. " Ujar Allen dengan meninggalkan istrinya yang masih menghabiskan makanannya.
Lain halnya dengan rumah Dawson yang terpenuhi rasa kecurigaan di rumah Lewis terpenuhi dengan rasa kebahagiaan karena sekali lagi ia telah membuat Dawson seperti orang gila dengan ancaman Jessica.
__ADS_1
"Hahahaha... Kerja bagus tante Jessica. " Ujar Lewis berbicara dengan orang yang diseberang telepon genggamnya.
"Jangan biarkan dia merasa tenang sedikitpun. " Ucap Lewis dengan menutup teleponnya.
Baru kali ini Lewis merasa bahagia meski hal itu tidak sepantasnya ia lakukan kepada papanya. Namun, rasa bencinya begitu besar pada orang yang seharusnya membimbingnya sejak kecil.
"Lewis." Panggil Fany yang masuk ke kamar Lewis dengan ragu-ragu karena ini adalah kali pertama ia masuk ke kamar anaknya yang Lewis dalam keadaan sadar. Fany biasanya masuk ke kamar Lewis jika harus membopong tubuh Lewis yang sudah teler minum.
Senyuman kebahagiaan Lewis memudar melihat wanita berjalan kearahnya dengan membawa kotak cincin di tangannya.
"Anakku, kelihatanya kamu sedang bahagia. " Fany mendengar tawa kebahagiaan Lewis yang begitu menggema ke rumah besarnya.
"Tadi. Dan sekarang tidak. " Balas ketus Lewis dengan menatap keluar kamar.
"Kenapa? " Tanya Fany mengikuti arah pandang anaknya
"Lewis, kamu kenal Jessica? " Fany melihat perubahan raut wajah anaknya ketika mendengar pertanyaannya.
"Kenapa? ". Tanya balik Lewis.
" Kamu sudah tahu segalanya sekarang dan kamu ingin balas dendam kepada papamu?".Pertanyaan itu yang ingin Fany tanyakan meski ia tahu jika Lewis sudah melakukannya.
"Apa kamu tidak rela jika aku akan menyakiti cintamu?". Lewis sekilas melirik mamanya yang selalu terlihat lemah dan lesu.
__ADS_1
"Dia adalah papamu Lewis. " Jawaban itu yang bertahun-tahun Lewis ingin dengar ketika ia mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya. Namun itu dulu, sekarang ia tidak ingin tahu siapa dirinya.
"Shit!! Aku tidak perduli dan tidak akan pernah. " Bentak Lewis yang tersulut emosi.
"Lihatlah ini. Ini adalah simbol janji kita dulu dan kita terikat disini. " Fany menunjukkan sepasang cincin di dalam kotak.
"Kami saling mencintai namun karena perjodohan ia harus pergi meninggalkanku. ''Fany mulai bercerita tentang perasaannya pada Dawson kala itu.
" Namun, karena rasa cinta yang begitu besar ia kembali padaku akan tetapi ia tidak bisa pergi bersamaku dengan alasan kehormatan dan hal itu menariknya untuk pergi meninggalkanku selama-lamanya dengan benih yang sudah tertanam di rahim ku. "
"Apa kesalahan kita Lewis. Katakan padaku?". Fany mencengkeram bahu anaknya dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Jangan tanyakan semua itu pada orang yang tidak pernah punya cinta. " Lewis menepis kasar tangan Fany di pundaknya dengan menatap tajam mamanya.
"Lewis, mama mohon lupakan balas dendam mu dan mulai hidup kita dengan tenang. " Fany memohon kepada Lewis dengan meraih tangan anaknya dan menggenggamnya meski saat bersamaan tangannya ditepis Lewis.
"Jangan harap. "Ujar Lewis dengan meninggalkan mamanya yang sudah berlutut di depannya. Bagaimanapun kebenciannya pada Fany ia tetap punya hati nurani ketika melihat mamanya berlutut memohon kepadanya. Namun, ego yang begitu besar hanya bisa membuat ia meninggalkan mamanya tanpa menerima permohonan nya.
" Lewis, mama minta maaf". Gumam Fany dalam tangisannya yang sudah pecah.
💙💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar ya supaya author semangat update ceritanya
__ADS_1
Terimakasih..
Love you❤