
..."jangan terlalu dalam bermain dengan hati. kamu akan terjebak di sana dan akan susah untuk menemukan jalan keluarnya"...
...Lewis Lauren...
"Lewis, kamu percayakan dengan ku? ". Emily meraih tangan Lewis yang sudah kaku dengan sorotan mata tajam kearahnya.
" Lewis, ini terjadi karena... " ucapan Emily menggantung karena Lewis
"Cukup! ". Lewis menghempaskan tangan lembut Emily dari tangannya dengan kasar
" Pergi! ". Ucap Lewis penuh kemarahan bahkan matanya terlihat mulai memerah dengan menunjukkan pintu keluar
" Lewis ". Emily tidak mengerti maksud Lewis
" Aku bilang kamu pergi dari sini. Jangan pernah datang lagi kesini dan menampakkan dirimu kepada ku. " Ujar Lewis penuh penekanan
Emily hanya diam saja tidak percaya dengan Lewis ucapkan untuk itu ia memandang orang yang telah ia anggap sebagai teman baiknya meskipun Lewis tidak menganggapnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mempercayai orang seperti mu. Untuk itu pergi!!! " Lewis menyeret tubuh Emily dan mendorongnya keluar dari kantornya hingga jatuh tersungkur. Sedangkan Callista yang memandang Emily tersenyum penuh kemenangan mengisyaratkan bahwa ia saat ini menag darinya.
"Kamu memang cocok didepak dari sini. " Gumam Callista
"semuanya kembali kerja. " teriak Lewis pada karyawannya yang sedari tadi melihat semua kejadian Emily dan Callista menjadi tontonan gratis bagi mereka.
Lewis meninggalkan Emily yang sudah keluar dari kantornya dan membawa Callista ke ruangannya untuk mengobati lukanya akibat terkena tatapan meja kerja karyawan dari dorongan Emily.
"Sini aku obati luka mu. " Lewis menarik Callista untuk duduk di sampingnya agar memudahkan mengobati lukanya.
Callista memandang wajah orang yang mengobati lukanya penuh dengan kemarahan. oleh karena itu cara mengobati Lewis cukup kasar baginya.
"Kamu tidak ikhlas melakukannya. " Ujar Callista
"Tau apa kamu? ". Balas Lewis yang sudah mem plester luka Callista
"Pergilah! ". Lanjut Lewis dengan meninggalkan Callista yang masih duduk di sofa
__ADS_1
Lewis mengusir Emily dari kantornya karena ia terbawa emosi dengan beberapa hari ini yang Emily lakukan. mulai dari proyeknya hilang di gunakan oleh pamannya Emily sampai melihat Callista berdarah karena dorongan darinya. Tanpa meminta atau mendengarkan penjelasan Emily Lewis sudah tersulut emosi yang sudah memuncak.
Saat ini Lewis melampiaskan semuanya dengan mengikuti pertandingan boxing ilegal seperti biasa ia lakukan sebelumnya. Emosi Lewis tersalurkan dengan menghajar lawannya di ring hingga rivalnya tidak sadarkan diri dibuat olehnya.
" Lewis, kamu hampir saja membunuhnya. " Ujar Bahlil salah satu petinju yang sudah pensiun karena menuruti permintaan istrinya.
Lewis dengan mudah memenangkan pertandingan ini bahkan wajah Lewis tidak mendapat luka sedikitpun hal tersebut sangat berbeda dengan rivalnya yang penuh darah hingga tidak sadarkan diri.
"Sepertinya macan ku sedang terluka saat ini. " Bahlil menepuk bahu Lewis dengan tersenyum penuh kemenangan karena jagoannya ini selalu memenangkan pertandingan.
"ada apa? hah? " Tanya Bahlil dengan menyodorkan segepok amplop coklat berisi uang hadiah kemenangan.
"jangan katakan bahwa macan ku sedang jatuh cinta. " Bahlil tahu betul selama ini Lewis tidak pernah jatuh cinta dengan perempuan manapun termasuk pada Callista yang statusnya sebagai pacarnya.
Lewis hanya diam saja dengan menerima uang dari Bahlil.
"jangan terlalu dalam bermain dengan hati. kamu akan terjebak di sana dan akan susah untuk menemukan jalan keluarnya. " Bahlil menasehati Lewis yang menjadi jagoannya dalam boxing ilegal ini.
__ADS_1