Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Borgol 2


__ADS_3

..."Niat dan tindakan terkadang tidak sejalan jadi jangan hanya melihat orang atas tindakan yang ia lakukan"...


...Emily Nelson...


"Mau apa kamu di toilet wanita? ". Tanya salah satu wanita tersebut menghakimi Lewis yang tetap duduk di tempat.


" A-aku.. " Lewis yang sangat tegas dalam hal apapun harus bicara gagu di depan banyak wanita yang mengerubungi dirinya. Lewis bingung harus jawab apa pada mereka.


"Jangan bilang kalau kamu sedang mengintip kita. " Ujar wanita lainnya dengan suara nada tinggi.


"Tidak, tidak. Aku hanya sedang menunggu temanku. " Biasanya Lewis dengan mudah menundukkan wanita namun kali ini kondisinya berbeda karena bahkan ia sangat bingung akan melakukan apa sekarang.


"Bohong." Tubuh Lewis digebukin banyak wanita menggunakan tas mereka sedangkan Lewis hanya berusaha menghindar dengan berlindung menggunakan tangannya yang tidak terborgol.


"Berhenti, tolong berhenti. " Teriak orang yang baru keluar dari dalam pintu toilet menghentikan semua orang memukuli Lewis.


"Dia teman ku. Tangan kami terborgol jadi dia berada disini menungguku. " Emily mengangkat tangannya dan tangan Lewis yang terborgol menunjukkan bukti bahwa ucapannya jujur.


Semuanya menjadi diam dan hanya bisa saling lirik dengan penjelasan Emily karena ternyata mereka salah sangka terhadap Lewis.


"Ada-ada saja. " Ujar mereka meninggalkan Emily dan Lewis di sana.


"Kamu lihat kan apa yang barusan terjadi padaku? ". Lewis kesal dengan kejadian barusan karena ia telah dipermalukan banyak wanita


Bukannya membujuk Lewis, Emily malah menahan tawanya mengingat tadi Lewis ketakutan dikerubungi banyak wanita dengan memukulinya.


" Menurut mu semua ini lucu? ". Ujar Lewis semakin kesal melihat Emily menertawakannya.


Bagaimana tidak lucu, Lewis yang notabennya seorang laki-laki penuh pesona di depan banyak wanita harus malu di toilet karena kesalahpahaman.


Emily yang terus tertawa memancing kekesalan Lewis semakin besar hingga tanpa aba-aba ia berjalan cepat keluar toilet hingga wanita yang tadinya menertawakannya tersentak mengikuti langkahnya.


" Lewis, jika mau jalan bilang-bilang dong. Sakit tau kamu tarik. " Gerutu Emily dengan berusaha berjalan cepat menyeimbangkan langkah panjang Lewis.


"Lewis, pelan-pelan bisa kan, jalannya? ". Emily menarik tangan Lewis mencoba mengurangi kecepatan langkah Lewis yang sulit ia imbangi.


"Lewis, aku capek. " Emily menghentikan langkahnya membuat langkah Lewis tersendat dan Lewis membalikkan badannya melihat Emily yang sedang mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Kamu itu benar-benar merepotkan. " Ketus Lewis


"Bukannya kamu yang ingin kita seperti ini? Jadi, jangan salahkan aku dong jika aku tidak bisa sepadan dengan langkah kakiku. " Kini Emily juga merasa kesal dengan tindakan Lewis.


"Aku lapar. " Ucap lemah Emily dengan memperdengarkan bunyi perutnya yang belum terisi apapun.


"Baiklah, mari kita cari tempat makan. "


Emily dan Lewis duduk di salah satu restoran dengan berbagai banyak makanan tersaji di meja makannya.


Perutnya yang sudah menginginkan diisi, Emily ingin langsung memakan yang sudah tersaji. Namun ia malah merasa kesal sendiri karena tangan kanannya tidak bisa ia gunakan makan dan tangan kirinya tidak berfungsi dengan benar untuk mengambil makanannya.


"Sial amat sih. " Gerutu Emily dengan membanting sumpitnya ke meja. Sedari tadi ia mencoba mengambil makanannya malah selalu gagal padahal ia sudah lapar.


Dalam kekesalannya Emily ada sebuah garpu terarah ke depannya berisikan potongan steak.


"Buka mulut mu! ". Titah Lewis pada Emily yang hanya menatap garpu nya tanpa berniat memakan isinya.


Emily mengambil potong steak dengan mulutnya karena ia sudah lapar hingga ia menghabiskan apa saja yang disodorkan Lewis kearahnya.


" Makan mu sangat banyak. " Ujar Lewis yang hanya sedikit makan karena harus menyuapi Emily tanpa berniat menyudahi makannya.


"Tapi memang kenyataannya kamu makannya banyak sampai-sampai aku hanya sedikit makannya gara-gara harus menyuapi mu. "


"Salah siapa makannya sedikit. " Balas Emily dengan ketus


"Iya, tapi tetap cantik kok meski makannya banyak. " Ucapan Lewis membuat pipi Emily memerah padahal banyak sekali laki-laki yang mengatakan cantik kepadanya. Namun, ia merasa berbeda dengan ucapan Lewis kali ini.


"Apaan sih. " Pandangan Emily dialihkan dari tatapan Lewis kepadanya karena takut jika Lewis melihat ekspresi dirinya saat ini.


Mata Lewis menatap pipi Emily ada kotoran sisa makanan yang tadi tak sengaja ia menyenggol nya. Lewis mengambil tisu dan menjangkau pipi Emily untuk ia bersihkan.


"Lewis." Tangan Lewis di pegang oleh Emily yang kaget oleh tindakan Lewis tiba-tiba. Keduanya bersi tatapan dengan keadaan mereka sekarang.


"Aku mau bersihkan sisa makanan di pipi mu. " Ujar gagap Lewis mencoba memecahkan kecanggungan.


"A-aku bisa bersihkan sendiri. " Tisu di tangan Lewis diambil Emily untuk membersihkan pipinya sendiri.

__ADS_1


"Lewis, apakah kamu sudah punya rencana untuk membuka borgol ini? ". Tanya Emily dengan masih mengelap pipinya sampai dirasa sudah bersih.


"Aku butuh kawat untuk membukanya. " Balas Lewis


"Apakah kita bisa dapatkan disini? ".


" Cobalah! ".


Emily memanggil pelayan untuk memberikannya sebatang kawat dan ternyata permintaannya di kabulkan.


Lewis mengotak-atik borgol nya dengan kawat yang barusan ia dapatkan. Dengan rasa sabarnya ia bisa membuka borgol di kedua tangan.


" Akhirnya aku bisa bebas. " Rasa senang Emily bisa bebas dari borgol membuat semua orang menatapnya aneh karena tindakannya yang berjoget tanpa memperdulikan tempat.


"Lihatlah, gara-gara kamu pergelangan tanganku merah seperti ini. " Ucap Lewis menghentikan joget Emily.


"Hey, apa kamu tidak lihat juga di pergelangan tanganku. " Balas Emily dengan menyodorkan pergelangan tangannya memperlihatkan lingkaran merah jejak borgol yang baru terlepas.


"Dasar kamu. "


"Dasar kamu juga. "


"Semua ini salah kamu. Jika saja kamu tidak ingin tidur di taman maka semuanya tak akan terjadi seperti ini. "


"Oh, jadi ini semua salahku? Baiklah, mulai sekarang aku akan menjauh dari mu. " Emily langsung menyambar tasnya di atas meja dan pergi meninggalkan Lewis di mejanya.


Kekesalan Emily membawanya pergi tanpa Lewis di sisinya. Rasa gengsinya yang tinggi telah membuatnya tetap dalam keinginannya meski ia berharap Lewis menghentikan langkahnya karena dia tidak tahu harus kemana sekarang di kota sebesar ini.


"Dasar Lewis, kenapa ia tidak menghentikan langkahku? Padahal aku kan cuma pura-pura. " Dituduh sebagai penyebab semua kesalahan yang terjadi, Emily tentunya tidak terima semua itu. Namun, sekarang ia merasa jika tindakan yang ia ambil kali ini salah.


"Kemana sekarang aku harus melangkah. " Gumam Emily dengan terus berjalan tak tahu arah


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih

__ADS_1


Love you❤


__ADS_2