Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Pernyataan


__ADS_3

..."Jika kamu menginginkan pelangi hadir maka kamu harus mau menerima kehadiran hujan. "...


...Lewis Lauren...


Hembusan angin membawa kecerahan sinar rembulan tertutup awan hitam yang entah dari mana ia mendapatkannya.


Bagi orang yang hanya berpacu pada cahaya bulan dan remang-remang cahaya lampu merasakan perubahan yang ada. Berharap cepat untuk menghindari yang akan terjadi, Emily dan Lewis berlari mencari tempat berteduh.


Akan tetapi, usahanya digagalkan karena hujan lebih dulu mendahulukan mereka untuk membasahi bumi malam ini.


"Ayolah Lewis. " Secepat mungkin Emily berusaha menghindar dari hujan namun ia merasa Lewis tidak berniat untuk melakukanya.


"Berhentilah sejenak. " Menghentikan jalannya membuat orang yang ingin menariknya ikut berhenti karena tidak kuat menariknya.


"Lewis, ini hujan. "


"Lalu?. "


"Kita akan sakit nanti jika mandi hujan apalagi inikan sudah malam. " Emily menarik kembali tangan Lewis untuk segera menghindar dari derasnya air yang jatuh dari gelapnya langit. Tarikan yang kuat digunakan Lewis untuk membuat Emily tetap diam di tempat.


"Sakit tidaknya itu urusan nanti. Ketika kita bisa menikmati keindahan di detik ini, kenapa kita harus memikirkan nanti? . " Ucap Lewis dengan beberapa tetesan keluar dari mulutnya karena hujan sudah sangat deras.


"Aku tidak suka hujan. "


"Kenapa?. "


"Aku tidak suka dengan semua yang berkaitan tentang hujan. " Dalam iringan hujan turun, petir selalu bersamanya meski tidak selalu. Akan tetapi Emily sudah memutuskan membenci semuanya.


"Sederas apapun ia turun, semenakutkan apapun ia turun, sesakit apapun ia turun, hujan tetaplah air yang akan selalu menghadirkan suatu kenangan dan kelembutan. "


"Rasakan setiap tetesan hujan yang menyentuh kulitmu dan kamu akan tahu bahwa kesedihan mu akan terbawa tetesan itu. " Emily mengikuti ucapan Lewis dengan memejamkan matanya menikmati setiap tetesan air ke seluruh tubuhnya. Dan Emily benar merasakan bebannya sedikit berkurang terbawa air .


"Jika kamu menginginkan pelangi hadir maka kamu harus mau menerima kehadiran hujan. " Melupakan semua ketakutannya, Emily menari-nari melakukan apa yang belum ia lakukan sebelumnya.


Akan tetapi itu semua tak berlangsung lama karena terlihat kilatan terang menyambar di langit gelap. Secepat mungkin Emily berlari meninggalkan Lewis yang sekarang juga berlari membuntuti nya.


Selang beberapa detik terdengar sambaran gemuruh seperti akan ada yang turun dari atas hingga membuat Emily berlutut dan menutup telinganya dengan rapat-rapat.

__ADS_1


Ketakutan Emily semakin bertambah dengan lampu yang menerangi jalannya padam semuanya.


Badannya Emily menggigil kedinginan dan juga ketakutan sehingga membuat Emily tak mampu melakukan hal apapun.


"Emily.. Emily.. " Lewis berteriak dengan menyoroti tempat yang gelap menggunakan sorot hpnya.


Mengetahui bahwa Emily sangat takut dengan petir dan kegelapan telah membuat Lewis merasa tidak tenang karena pastinya Emily sedang tidak baik-baik saja.


"Emily... Emily. " Mata Lewis menjelajahi tempat hingga ia menemukan sosok wanita berlutut dengan badan menggigil.


"Emily." Dagu Emily diangkat untuk melihat wajah yang ditutupi oleh lututnya.


Pelukan, mungkin hal itu yang dibutuhkan Emily untuk menenangkan dirinya ketika kilatan cahaya kembali terlihat dari ruangan berkaca. Dan Lewis melakukan itu pada Emily.


"Tenanglah Emily. " Kecupan kecil terus Lewis darat kan ke pucuk kepala yang beraroma mint.


Dalam dekapan Lewis, Emily merasakan ketenangan dan ketakutannya dirasakan melebur dengan perlakuan hangat orang yang jantungnya berdegup kencang sama seperti miliknya.


"Tidak ada yang perlu ditakuti ketika ada orang tidak takut apapun berada di sampingmu. " Keringat yang masih bercucuran diusap Lewis menggunakan tangannya karena sapu tangannya sudah basah terkena air hujan.


"Lewis, dingin. " Menuruti perkataan Lewis ternyata bukan sesuatu yang tepat karena ia saat ini sudah merasakan efek dinginnya air hujan.


Hanya ada penerangan senter dari hp, Emily dan Lewis menghabiskan malam di sebuah ruangan yang paling atas karena untuk bisa turun dari gedung saja mereka membutuhkan lift yang kebetulan sedang pemadaman.


Bersandar kan pundak Lewis dan tangannya memeluk erat tubuh tersebut, Emily membenamkan diri untuk bisa memejamkan matanya.


"Jika malam ini aku melakukan dosa dengan mencintaimu, maka aku akan melakukannya lagi dan lagi. " Ucap lirih Lewis dengan mengelus pundak orang yang sedang ia dekap.


Lewis menyadari bahwa ia sudah jatuh cinta pada orang yang salah. Mencintai kakak iparnya sendiri adalah kesalahan bagi orang yang pertama kali merasakan jatuh cinta.


Akan tetapi, rasa cintanya telah menutupi semua itu karena baginya ia hanya ingin merasakan kebahagiaan bersama orang yang ia cintai meskipun orang akan mengatakan itu sebuah dosa.


Keinginan memiliki pastinya ada dibenak Lewis. Namun, kebahagiaan Emily adalah yang paling utama dari pada perasaannya. Baik perasaannya terbalas ataupun tidak, Lewis tidak bisa menuntut apapun pada orang yang sudah bersuami.


Memilih Emily sebagai orang pertama yang beruntung mendapatkan hatinya bukanlah persoalan yang begitu saja. Dari pertama pertemuan pertama kali di Jepang yang sudah menarik perhatiannya hingga semua persoalan yang dihadapi, Emily adalah orang yang sangat berbeda dari kebanyakan wanita lainnya.


Sempat ada niatan balas dendam melalui Emily kepada Dawson ternyata malah membuat dirinya sendiri terjebak dalam cinta orang yang terlalu polos untuk ia manfaatkan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Emily Nelson. " Lewis mengecup pipi Emily yang masih terasa dingin.


Sayang Emily tidak mendengar semua perkataan Lewis tentang perasaannya karena ia sudah lelap dalam tidurnya. Namun itu semua adalah perasaan Lewis saja karena kenyataannya Emily belum jauh masuk ke alam mimpi. Emily mendengarkan semuanya meski samar-samar.


"Lewis, aku tidak salah dengarkan?. " Batin Emily tanpa berniat membuka matanya karena sangat berat untuk tetap berjaga. Keduanya merajut mimpi dalam kegelapan hingga semuanya sudah kembali normal.


Pegal-pegal di sekujur tubuh Lewis telah membangunkan mimpi Emily karena gerakan sang pemilik bahu menjatuhkan kepalanya dari sandaran.


"Aduh." Benturan ke dinding terlalu kuat bagi Emily yang tidak sadarkan diri.


"Maaf, bahuku terasa keram. " Ujar Lewis melihat Emily menggesek kepalanya yang terbentur.


"Terimakasih."


"Untuk apa?. "


"Semua hal yang telah kamu berikan padaku adalah hadiah terbaik dari semua yang pernah aku dapatkan. " Emily mengambil tangan Lewis dan menciumnya lama sebagai bentuk terimakasihnya.


"A-aku masih punya satu hal lagi yang belum aku ucapkan kepadamu. "


"Apa? Apakah soal perasaan mu?. "


"Iya."


"Katakanlah!. " Emily mempersiapkan diri untuk mendengar ucapan Lewis yang ia dengar semalam.


"A-aku, a-aku.. "


"Iya, aku kenapa?. "


"Aku jatuh cinta kepada mu. " Keraguan Lewis terucapkan.


Seharusnya Emily biasa saja mendengar kata yang sama semalam ia dengar. Namun kini ia malah merespon berlebihan seperti baru pertama kali mendengarkan pernyataan tersebut.


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya

__ADS_1


Terimakasih


Love you❤


__ADS_2