Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Ke Rumah Robert


__ADS_3

..."Meminta maaf tidak akan membuat kita lemah"...


...Emily Nelson...


Memakaikan dasi di leher orang yang sudah berpakaian rapi, Emily sedikit berjinjit karena postur tubuh orang di depannya lebih tinggi daripada dirinya.


Kebiasaan menjadi seorang istri kini dijalankan Emily seperti sedia kala, meski ia tidak bisa menampik bahwa hatinya terisi oleh orang lain.


"Apa kamu tidak ingin bekerja kembali?. " Pertanyaan Allen mendongakkan kepala wanita yang sedang mengotak-atik tali leher untuk dirinya.


" Aku belum berpikir untuk melakukannya, Mas. " Hatinya yang masih tidak karuan membuat Emily tidak bisa berpikir jauh bahkan beberapa hari ini ia tidak sempat menjadi menuangkan imajinasinya.


" Apakah kamu tidak membuat butik sendiri daripada harus bekerja pada orang lain?. " Allen tidak kekurangan apapun untuk menuruti semua permintaan istrinya. Namun ia sadar bahwa Emily berbeda dari wanita kebanyakan. Ia akan melakukan apapun hanya dengan usahanya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain.


" Tentu Mas, itu semua sudah ada di dalam pikiranku. ''Emily berniat membeli butik yang pernah Amanda dirikan namun harus ditutup karena Robert bangkrut.


" Semangat lah dalam mewujudkan cita-cita mu. " Setelah dirasa dasinya sudah terikat dengan benar, Allen memberi kecupan kecil di kening istrinya sebagai tanda terimakasih dan ucapan selamat tinggal.


"Mas tunggu. " Gagang pintu yang sudah diputar untuk membuka pintunya, Allen mengembalikan semua seperti semula ketika istrinya memanggilnya agar berhenti.


"Iya, ada apa?. " Badan Allen diputar kembali menatap wanita di belakangnya.

__ADS_1


"Bolehkah aku meminta ijin untuk ke rumah Papa?. " Pertanyaan ragu-ragu keluar dari mulut Emily. Dalam pikiran Emily bahwa ia pernah melakukan kesalahan jadi ia tidak akan mudah mendapatkan kepercayaan dari suaminya. Oleh karena itu, ia meminta ijin terlebih dahulu agar tidak membuat Allen merasa tak dihargai sebagai seorang suami.


"Papa?. "


"Iya, aku rasa membutuhkan waktu untuk bersama Papa dalam hari-hari ini. " Setelah menikah dengan Allen, Emily jarang sekali bersama Robert meskipun hanya sekedar untuk berkunjung.


Dan Emily sendiri ingin meminta maaf kepada Papa nya atas kesalahan-kesalahan yang dirinya perbuat.


"Tentu, aku juga merasa jika kamu membutuhkan kegiatan di luar rumah. " Meski menjadi istri orang yang berpengaruh di kota ini, Emily tidak merasa jika dirinya perlu membuang waktu hanya untuk jalan-jalan yang tidak menentu.


"Apakah aku perlu mengantarmu?. " Badannya yang akan diputar ia urungkan kembali untuk bertanya kepada istrinya. Allen tahu bahwa Emily tidak akan membawa mobil sendiri untuk berpergian, karena ia lebih senang menghabiskan waktunya untuk berdesakan bersama orang lainnya.


"Tidak perlu Mas, aku rasa Mas Allen sudah telat untuk pergi ke kantor. " Pemilik perusahaan ternama ternyata tidak membuat Allen bersenang-senang dan hanya menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak penting. Oleh karena itu, ia terus menjadi contoh yang baik bagi karyawannya.


Tanpa banyak membuang waktu untuk merias diri, Emily sudah siap berangkat ke rumah Robert dengan mengenakan baju kaos warna putih dan celana jeans warna biru menampilkan kesan remaja bagi wanita yang sudah bersuami tersebut.


"Sesak sekali hari ini. " Mengenakan kereta cepat, ternyata bukan pilihan yang tepat di pagi ini. Karena banyak sekali orang yang memilih jasa tersebut untuk mencapai tujuan mereka.


Berdiri di sepanjang perjalanan, kaki Emily terasa keram untuk ia gunakan melangkah menuju rumah Robert yang jaraknya tidak terlalu jauh untuk dijangkau dengan jalan kaki.


"Harusnya aku menerima tawaran Papa untuk membawa mobil sendiri. " Dawson menawarkan Emily untuk menggunakan mobil ketika ia berpamitan kepadanya. Namun, ia tidak menerima tawaran tersebut karena Emily merasa jika ia merasa senang jika bersama-sama orang lainnya. Dan kini ia malah menyesali penolakannya karena sesaknya penumpang hingga ia perlu duduk sebentar sebelum melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Panas sekali. " Keringat yang menetes juga menemani lelahnya Emily dengan duduk di kursi yang tersedia untuk orang-orang yang merasa lelah. Dengan terus mengibaskan tangannya, Emily ingin menetralkan panasnya matahari hari ini yang sudah gagah berani tampil.


"Bolehkah aku ikut duduk disini?. " Seorang wanita paruh baya bertanya kepada Emily yang terus mengibaskan tangannya.


"Tentu, duduklah. " Badan Emily digeser ke kanan untuk memberi tempat kepada orang yang meminta ijin agar bisa ikut duduk bersamanya.


Mata Emily melirik pada orang yang memiliki penampilan kontras dari wajah yang ditunjukkan, wanita tersebut meminum sebotol minuman air karena ia merasa kehausan di bawah panasnya matahari siang. Dan tanpa disadari Emily menelan ludahnya sendiri karena ia juga merasa kehausan.


"Kamu mau?. " Wanita tersebut bertanya kepada Emily dengan menyodorkan botolnya yang isinya tinggal setengah lagi. Karena dirasa ia membutuhkan minuman, Emily mengambil sodoran minuman tersebut dan meminumnya sampai habis.


"Terimakasih." Mengusap sisa air yang tumpah dengan baju lengannya, Emily merasa jika istirahatnya cukup. Maka ia memilih melangkah pergi kembali untuk cepat sampai ke rumah Robert.


Bukannya semangat setelah istirahat dan minum minuman, Emily malah merasa malas sekali untuk melangkah. Bahkan ia seperti ingin tidur di saat seperti ini.


"Aku kenapa, mataku terasa berat sekali untuk digunakan berjalan. " Mata Emily semakin tidak bisa dibuka dan akhirnya ia memilih untuk menumbangkan tubuhnya ke sembarang tempat.


Bruk..


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya

__ADS_1


Terimakasih


Love you❤


__ADS_2