
..."Kita tidak akan pernah bisa membuat orang yang kita sayangi terluka"...
...Lewis Lauren...
Dentuman musik yang begitu keras dan juga asap rokok yang memenuhi ruangan, menampakkan tempat tersebut bukan tempat yang tepat bagi siapapun.
"Satu." Lewis mengacungkan tangannya ke pelayan bar meminta satu gelas untuk diisi minuman yang tersedia di sana.
Sekali tegukan, Lewis menghabiskan minumannya yang baru disuguhkan untuknya seperti orang kehausan.
"Lagi." Gelasnya yang kosong ia sodorkan kembali ke pelayan untuk diisi.
Kedua kalinya Lewis menghabiskan minumannya dalam sekali tegukan. Kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk melampiaskan segala masalahnya menjadikan semua minuman itu tidak kerasa baginya.
Dengan memainkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja, Lewis mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang dipenuhi banyak orang dengan tujuan yang sama yaitu menghilangkan masalah.
Padahal semua itu adalah pemikiran yang salah besar karena apa yang mereka lakukan saat ini hanyalah sia-sia belaka. Mungkin detik ini mereka menikmatinya namun detik berikutnya mereka pasti akan kembali merasakan masalahnya.
"Allen? ". Sepasang mata Lewis menangkap sosok yang menjadi pesaingnya dalam berbagai bidang baik itu bisnis maupun perasaan.
Bruk
__ADS_1
Gelas kosongnya ia hentakkan di atas meja dengan sangat keras, namun tidak sampai pecah. Kekesalan Lewis memuncak melihat Allen sedang duduk di sofa ditemani seorang wanita berpakaian seksi bergelantungan di pundaknya.
" Kurang ajar sekali. " Tangan Lewis mengepal melihat apa yang dilakukan kakak tirinya tersebut mengingat jika ia sudah memiliki Emily sebagai istrinya.
Siapa yang akan suka jika melihat orang yang ia cintai dilukai orang lain meskipun suaminya sendiri. Lewis sadar jika Emily sudah menjadi istri Allen, namun ia tidak bisa mencegah hatinya untuk memilih Emily sebagai cinta pertamanya.
"Bagaimana ia bisa berpikir untuk berselingkuh di belakang Emily? ". Seharusnya Lewis bisa senang melihat apa yang Allen lakukan karena dengan semua itu ia bisa menghancurkan rumah tangga Allen. Akan tetapi ia memikirkan perasaan Emily sebagi seorang istrinya.
Kesadaran yang masih dimiliki Lewis memudahkannya menarik tubuh Allen yang sudah tidak berdaya karena pengaruh alkohol.
Berada di atas tubuh Allen, Lewis terus melayangkan pukulannya ke orang yang sudah berlumuran darah di bagian wajahnya. Semua orang yang berada di sana berusaha melerai pertunjukkan yang hampir mengorbankan satu nyawa.
Mata penuh emosi masih terlihat di wajah tegas Lewis dan tangan yang masih tersisa bercak darah Allen, Lewis membaringkan dirinya di ranjang luas miliknya.
Namun karena rasa sayangnya pada Emily yang begitu besar membuat dirinya melupakan semua itu hingga menjadikan Allen digotong untuk mendapatkan pertolongan.
"Bila tidak ada yang menghalangi diriku, pasti aku sudah membunuhnya. " Gumam Lewis
💜💜💜
Dawson duduk di samping putranya yang berbaring dengan balutan perban di kepalanya karena banyak pukulan menghantam di sana.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjadi? ". Setelah sekian lama berdiam diri, Dawson kembali mengeluarkan suaranya untuk bertanya mengenai kejadian yang menimpa orang yang masih berdiam diri dengan mata terbuka setelah beberapa saat lalu ia tidak sadarkan diri.
Tanpa memperdulikan pertanyaan papanya, Allen berusaha bangun dari ranjangnya karena ia masih tidak menerima kehadiran Dawson bersamanya. Kematian mamanya atas kesalahan Dawson tidak bisa ia lupakan hingga saat ini.
"Jika kamu tidak mau memberitahu penyebab semua ini, aku akan melaporkan ke polisi. " Gertak Dawson pada Allen yang ingin melenggang pergi.
"Peduli apa kamu padaku? ". Tanya Allen tanpa menoleh ke belakang yang memperlihatkan seseorang dengan kemarahan.
" Jangan pernah mencampuri apa yang aku lakukan. " Tegas Allen pada Dawson sebelum ia benar-benar pergi dari kamarnya.
Allen pun sebenarnya penasaran siapa yang telah berani memukulinya di tempat umum pada saat dirinya sedang mabuk. Bahkan Allen tidak menyadari wanita yang sedang menggodanya karena ia sebenarnya tidak suka jika ada wanita menyentuhnya. Namun, karena tidak sadar ia hanya mampu menerimanya.
Penasaran Allen membuat ia mengabari Alex untuk mencari tahu siapa orang tersebut karena bagaimanapun Allen merasa tidak pernah punya musuh. Namun, Alex tidak mendapatkan bukti apapun untuk menuduh seseorang seperti semua ini sudah terencana sebelumnya.
"Shit! ". Umpat Allen dengan membanting hpnya karena kemarahannya.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
__ADS_1
Love you❤