
..."Mengapa kita harus bertahan jika yang diperjuangkan tidak ingin kita memperjuangkannya"...
...Emily Nelson...
Di bawah dinginnya tetesan air shower menusuk tulang Emily yang sedang hancur lebur mengingat kesuciannya hampir direnggut Lewis. Emily melihat lehernya di kaca yang memperlihatkan jejak Lewis begitu ketara dan kemudian ia mengolesi salep untuk menutupinya.
Mengeringkan rambutnya yang masih basah di depan cermin rias Emily melihat jelas di pantulan ada seorang laki-laki yang baru datang dengan stelan kerja lengkap.
"Malam sekali mas pulangnya. " Emily sempat takut jika pulang sudah ada Allen karena tidak enak harus pulang malam sebagai seorang istri. Namun, dugaannya salah. Allen malah pulang lebih larut dibandingkan dirinya.
Pertanyaan yang diajukan oleh Emily tidak dijawab oleh suaminya yang langsung melengos ke kamar mandi setelah menaruh tas kerjanya di sofa.
Dengan mengenakkan pakaian yang telah Emily siapkan, Allen kembali akan pergi keluar setelah menyambar kunci mobilnya di atas meja.
"Mau kemana mas larut malam begini? ". Emily mencekal lengan kekar Allen yang akan membuka kenop pintu kamar.
" Bukan urusan mu. " Tangan Emily di tepis kasar oleh suaminya
"Aku istrimu mas. Aku berhak tahu atas apa yang kamu lakukan. " Teriak Emily penuh penekanan menghentikan kembali langkah Allen
"Oh ya? Jika begitu mulai hari ini aku tegaskan bahwa aku tidak punya istri lagi. Jadi, kamu tidak perlu tahu dengan apa yang aku lakukan. " Ujar Allen sebelum ia benar-benar pergi dari rumahnya meninggalkan istrinya yang duduk lemas di tepi ranjang dengan air mata menghujani nya.
Bagai disambar petir di malam hari dengan apa yang telah Allen ucapkan kepadanya. Ketakutan? Tentu. Petir adalah hal yang sangat menyeramkan baginya dan sekarang malah sedang menghujani dirinya.
"Mas Allen tidak menginginkan aku lagi? ". Ucap lirih Emily.
__ADS_1
Tidak dianggap layaknya seorang istrinya tidak membuat Emily melepaskan semua tanggung jawabnya setelah sah menikah dengan putra Dawson. Dalam setiap apa yang ia lakukan tentunya ada niatan untuk semakin dekat dengan suami. Akan tetapi, usaha yang ia lakukan saat ini sepertinya akan sia-sia.
Membawa koper berisi segala yang ia miliki, Emily akan keluar rumah besar yang hampir satu tahun ia tinggali.
" Mau kemana? ". Tanya Dawson yang berniat mengambil minuman untuk menghilangkan rasa hausnya malah ia melihat menantunya menyeret koper besar akan keluar rumah.
" Papa. " Emily membalikkan badannya melihat orang yang sedang memandangi dirinya dengan penuh tanda tanya.
"Mau kemana di jam segini? ". Dawson mendekati menantunya yang tampak lesu.
" Dan apa yang kamu bawa? Koper? Kamu akan pergi dari rumah ini? ". Bukankah tidak wajar di tengah malam Emily menyeret koper keluar rumah.
" Jika sudah tidak diinginkan, apa lagi yang Emily harapkan? ". Pelupuk mata Emily kembali menggenang kan air yang siap terjun kapanpun.
" Keterlaluan sekali Allen. " Tangan Dawson menggenggam tidak menyangka anaknya akan melakukan hal ini pada Emily karena mengingat jika hubungan keduanya sudah semakin membaik meski sudah tidak ada kehadiran Bella.
💜💜💜
"Papa." Pelukan hangat mendarat pada orang yang baru membuka pintu rumahnya.
"Emily? Dawson? Ada apa di tengah malam kalian datang kesini? ". Tanya Robert dengan wajah bantalnya karena ia juga baru saja memejamkan matanya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun ia terbangun mendengar suara bel terus berbunyi.
" Papa, Emily kangen papa. " Emily tidak melepaskan pelukannya pada papanya yang beberapa terakhir ini ia tidak temui.
"Dan apa itu Emily? Koper? ". Mata Robert tertuju pada koper besar milik putrinya.
__ADS_1
" Maaf Robert, sebenarnya aku ingin Emily tinggal dulu disini sampai keadaannya membaik kembali. " Timpal Dawson menjelaskan alasannya datang kesini.
"Memangnya ada masalah apa? ". Tanya Robert.
" Pa, nanti aku jelaskan semuanya. Lebih baik kita masuk dulu. " Ujar Emily bingung mau cerita bagaimana ke papanya.
"Ayo, masuk dulu. " Robert membuka pintunya lebar-lebar
"Tapi aku harus kembali pulang sekarang. " Ujar Dawson
"Papa tidak menginap disini? ". Rumah Robert dan Dawson tidak terlalu jauh. Namun, mengingat waktu yang sudah larut tentu tidak baik bagi Dawson harus pulang sendiri.
" Tidak, aku harus pulang. "
"Hati-hati dijalan pa. " Emily memeluk mertuanya sebagai salam perpisahan.
"Jaga dirimu baik-baik. " Ujar Dawson dengan mencium puncak kepala Emily sebagai rasa sayang sebagi mertua.
"Aku pulang dulu. " Dawson melambaikan tangan ke semuanya dan melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah.
💙💙💙
...Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap ceritanya ya supaya author semangat update ceritanya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...Love you❤...