Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Pulanglah!


__ADS_3

..."Orang yang memiliki istri namun bermain dengan wanita lain di luar tidaklah pantas disebut suami"...


...Emily Nelson...


"Lewis, kau?. " Perasaannya yang tidak tenang juga sedang menggerogoti diri Emily.


Keinginan untuk memiliki cinta Lewis ternyata juga tumbuh di hati Emily. Tidak tahu pasti penyebabnya, Emily juga berharap Lewis bisa bersamanya selamanya.


"Apakah aku juga mencintai Lewis?. " Gumam Emily dengan menelan ludahnya yang terasa sulit untuk ia dorong ke dalam.


"Aku tahu bahwa aku jatuh cinta dengan orang yang salah. Akan tetapi, aku tidak akan memaksa untuk bisa memiliki cinta pertama ku. " Sorot mata yang tulus terarah kan ke pemilik manik hitam yang berkaca-kaca.


Mulut Emily tak bisa memberi jawaban apapun kepada Lewis karena ia memikirkan sosok suaminya meskipun sebenarnya ia juga ingin bersama Lewis.


"Lupakanlah perkataan ku Emily. Namun, aku memintamu memberikan sedikit waktu untuk bisa merasakan apa itu cinta yang sesungguhnya. " Kedua tangan Lewis diletakkan di kedua bahu wanita di depannya.


Mana mungkin ia bisa menolak permintaan Lewis, sedangkan hatinya saja terus meronta menginginkan dirinya terikat dengan Lewis.


Emily sendiri bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta dan itu terbukti dari dirinya yang tidak mencintai suaminya meski ia selalu memberi perhatian lebih pada Allen.


"Ayolah!. " Lewis membawa Emily keluar dari gedung yang telah membuatnya tidur kedinginan dengan tanpa pencahayaan.


"Kemana?. "


"Kamu akan mengetahuinya nanti. "


"Lewis, aku tidak kuat jalan. " Sepatu yang Emily kenakan terlalu tinggi hingga ia tidak bisa menjangkau langkah Lewis.


"Baiklah, ayo naik. " Lewis berjongkok meminta Emily menaikinya


"Ayolah!. " Emily naik ke punggung Lewis dan tanpa menggunakan kakinya Emily bisa menghirup udara pagi yang bercampur sisa hujan tadi malam.


"Aku mau es krim. " Dengan senang hati Lewis yang menggendong Emily mengantri untuk bisa mendapatkan yang diinginkan.


"Emily, mana punyaku?. " Tangannya yang digunakan untuk menopang tubuh orang di belakangnya tak mampu membawa es krim miliknya sendiri.


"Iya, ini. " Tanpa melihat kemana arah yang seharusnya ia tujukan, Emily meraup wajah Lewis dengan es krim nya.


"Emily." Teriak Lewis dengan melepaskan tangannya dari tubuh Emily hingga pemilik tubuh tersebut jatuh di jalanan.

__ADS_1


"Lewis, aduh. " Pinggang Emily terasa sakit karena tanpa aba-aba ia di lepaskan dari ketinggian Lewis.


"Emily, kamu tidak apa-apa?. " Merasa takut ada yang terluka pada Emily, Lewis dengan cemas memeriksa badan Emily.


Kecemasan ia tunjukkan malah mendapat gelak tawa lepas dari orang yang tadinya merintih kesakitan.


"Kamu kenapa?. " Tanya Lewis dengan mengangkat dagu dan satu alisnya karena bukannya menghentikan tawanya, Emily malah semakin melepaskan semuanya hingga air mata dan perutnya terasa keram.


"Cukup Lewis, cukup!. " Jemarinya di bentangkan ke depan wajah Lewis dengan mengatur nafasnya untuk menetralkan keadaan.


"Sedari tadi aku hanya diam. Namun, kamu terus saja tertawa. " Kesal Lewis yang tidak mendapatkan jawaban ketika ia terus bertanya pada Emily.


"Baiklah-baiklah. Akan tetapi, kamu lihat dulu wajahmu. "


"Kenapa?. "


"Bercermin lah! . " Lewis menghadapkan dirinya ke sebuah mobil hanya terparkir menuruti permainan Emily. Dan betapa kagetnya ketika melihat wajahnya yang di penuhi es krim.


"Emily." Teriak Lewis siap untuk memangsa musuhnya yang bersiap untuk lari.


"Awas kau Emily. " Lewis mengejar wanita yang berlari tanpa alas kaki karena jika ia menggenakan sepatunya pasti ia akan langsung ditangkap Lewis.


"Ampun Lewis. " Emily memohon dengan berjalan mundur karena ia sudah tidak sanggup lagi untuk berlari dari Lewis.


"Tidak ada kata ampun. " Yang tadinya Emily bersiap untuk berlari kembali ditarik lengannya yang tertinggal okeh Lewis hingga tubuhnya menatap tubuh Lewis dengan keras dan berakhir jatuh ke tempat yang di penuhi rumput.


Berada di atas tubuh Lewis, Emily tidaklah nyaman dan membuat ia akan bangun dari sana. Namun, pinggang rampungnya ditahan oleh Lewis dan tentunya membuat ia kembali jatuh di atas tubuh Lewis yang masih terlentang.


Degup jantung keduanya saling menyatu dan seirama. Mata yang saling bertatap memuja apa yang sedang mereka lihat tanpa ingin melepaskan satu sama lainnya.


Lewis kembali mengambil kesempatan dengan meraih bibir yang menarik perhatiannya dan tanpa adanya penolakan, Lewis memperdalam ciumannya.


Emily yang menikmati perlakuan Lewis malah terbuai suasana hingga ia membalas dan memberi jalan bagi Lewis untuk melakukan lebih.


Dalam pikiran Emily saat ini adalah cinta. Jika cintanya sebuah kesalahan maka Emily sendiri siap menanggungnya nanti. Ciuman panas keduanya diakhiri dengan habisnya persediaan nafas mereka.


"Aku pergi dulu. " Jika Lewis tak bisa menahan dirinya sendiri, maka ia akan menuntut lebih dari Emily. Oleh karena itu, Lewis lebih memilih menenangkan dirinya sejenak di toilet.


Drrrt..

__ADS_1


Ponsel milik Emily bergetar menampilkan nama seseorang yang menelponnya.


"Halo Pa. "


"Kapan kamu pulang?. " Emily memberitahu Robert bahwa ia membutuhkan waktu untuk berlibur dengan alasan dirinya merasa sedih tanpa memberitahu sebenarnya.


"A-aku.. "


"Terlalu lama kamu jalan-jalan, maka pulanglah." Tidak mengetahui dengan siapa Emily berlibur, Robert cukup mencemaskan putrinya.


"Apakah ada yang menanyakan keberadaan ku? . "


"Iya, Dawson. " Dari pertanyaan Emily, Robert sudah tahu siapa yang anaknya maksud.


Emily sudah bisa menebak bahwa suaminya tidak akan mencarinya atau mempertanyakan keberadaannya karena ia sudah bahagia dengan wanita malamnya.


"Pa, berikan aku alasan untuk pulang ke rumah."


Bersama Lewis adalah hal yang sangat ia impikan. Berbagai macam mimpi yang selama ini ia harapkan dikabulkan oleh Lewis. Lalu kembali pulang adalah suatu yang akan memutuskan mimpi-mimpinya.


"Dawson menginginkan kamu kembali pulang. "


"Anaknya?. " Disini bukanlah Emily dan Allen yang sedang menjalani kehidupan rumah tangganya melainkan para orang tuanya.


"Emily, kamu sudah bersuami. Maka tidak baik jika kamu pergi dari rumah terlalu lama. " Ujar orang dibalik telepon yang Emily letakkan di telinganya.


"Suami? Andai Papa tahu arti kata suami bagi Allen. Orang yang memiliki istri namun bermain dengan wanita lain di luar tidaklah pantas disebut suami. " Batin Emily dengan meremas teleponnya karena ia tidak sanggup mengatakan semua itu pada Papanya.


"Pulang lah! Atau kau akan menyesalinya kelak." Robert memutus sambungannya secara sepihak sebelum Emily membantah perintahnya.


"Jika aku pulang, maka aku akan lebih menyesalinya Pa. " Ucap Emily dengan ketus.


Berada di sini bersama orang yang ia cintai adalah impiannya dan sekarang ia mewujudkan semua impian tersebut. Lalu untuk apa ia akan kembali pulang?


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih

__ADS_1


Love you❤


__ADS_2