Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Anak Haram


__ADS_3

..."Bisakah kamu mengendalikan hati dan pikiran? "...


...Lewis Laurence...


Dalam pertemuan dengan klien, Lewis dan Emily memilih sebuah restoran dengan konsep terbuka yang terlihat nyaman dan sangat lega untuk digunakan mempromosikan proyek baru nya.


Sebagai teman untuk menurunkan tensi selama presentasi, Lewis dan Emily memesan salah satu dari 80 jenis teh yang ditawarkan disini.


"Silakan duduk. " Lewis menarik bangku untuk Emily duduki.


"Terimakasih pak. " Lewis dan Emily memilih datang terlebih dahulu sebelum kliennya datang untuk meyakinkan klien tentang proyek yang akan digarap.


"Panggil aku Lewis saja jika sedang tidak bekerja. " Ucap Lewis yang duduk di depan Emily


"Tapi.. "


"Ayolah Emily". Lewis sangat seperti anak kecil yang sedang merajuk ke Emily


" Lewis kamu adalah bos disini jadi jangan membuat ulah disini. " Emily tersenyum melihat tingkah Emily


"Sepertinya itu pak Abraham. " Ucap Lewis dengan mengangkat dirinya dari duduk untuk menyambut kedatangan klien nya. Abraham dipilih Lewis karena orang yang sangat tepat untuk proyeknya saat ini.


" Selamat pagi pak. " Emily dan Lewis menjabat tangan Abraham bergantian dengan menampilkan senyuman. meski menjadi pebisnis sukses tidak membuat Lewis menganggap remeh kliennya karena bagaimana pun Lewis membutuhkan mereka.


"Maaf telat. " Ucap Abraham dan langsung mendudukkan dirinya di kursi bersama Emily dan Lewis


Emily menerangkan proyek baru yang akan mereka jalankan ke Abraham tapi Abraham sepertinya tidak niat dengan proyek tersebut. Bisa dilihat dari gerak-geriknya yang menyepelekan semua penjelasan Emily.


Bruk...


Sebuah meja restoran di gebrak oleh Lewis dengan mata menyorot tajam ke Abraham yang masih kaget karena ulah Lewis.

__ADS_1


"Maksudnya apa ini? " Tanya Abraham dengan berdiri dari duduknya.


"Kami tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain". Ucap Lewis menarik tangan Emily meninggalkan Abraham. Lewis melihat semua kelakuan Abraham yang tidak memperhatikan penjelasan Emily dan hal tersebut memancing kemarahan Lewis saat ini.


" Dengan seperti ini kamu memperlihatkan status mu sebagai anak haram. " Teriak Abraham. Lewis yang mendengar ucapan Abraham menghentikan langkahnya dengan tangannya berubah mengeras dibalik genggaman tangan Emily.


"Aku bahkan tidak berminat untuk menjalankan proyek ini dengan anak haram seperti mu. " Ucapan Abraham menarik Lewis untuk menghajar dirinya. Abraham pun sesekali membalas pukulan Lewis yang membuat hidungnya mengeluarkan darah.


"Lewis cukup. " Emily menarik Lewis yang saat ini menindih tubuh Abraham. Beberapa pegawai restoran membantu Abraham untuk terbangun sedangkan tubuh Lewis yang masih menegang didekap oleh tubuh Emily untuk menghalau perkelahian lagi.


"Apa kamu tidak takut mati dengan apa yang barusan kamu lakukan?". Tanya Emily yang melihat pelipis Lewis penuh dengan darah segar.


"Aduh... " Emily melihat Lewis menyungging bibirnya karena tekanan dari tangannya untuk mengobati luka yang tercipta oleh Abraham.


"Tidak sama sekali. " Jawab Lewis dengan nafas masih memburu


"Apakah aku terlihat menyedihkan? ". Tanya Lewis dengan mengusap keringat Emily yang menetes karena merasa tegang melihat kejadian antara dia dan Abraham.


" Aku terlahir tanpa papa bahkan mamaku sempat membuang ku karena itu. " Ucap Lewis dengan senyuman kecut. Beberapa orang mengetahui status Lewis yang lahir dari kalangan masyarakat bisa dan juga tanpa papa itu sebabnya Lewis tidak gampang membangun perusahaan ia geluti saat ini tanpa penunjang dari manapun.


"Apakah karena itu kamu tidak mau mengenal cinta? " Gumam Emily dalam hati


"Tapi bukan karena itu kamu harus tidak memiliki cinta. " Ujar Emily memegang tangan Lewis dengan lesu.


"Aku hanya punya dendam Emily. " Balas Lewis membalas genggaman Emily


"Katakan padaku apa yang diberikan cinta kepadamu? Pengkhianatan? Kebahagiaan? Hah? " Tanya Lewis.


"Aku harap kamu cepat untuk jatuh cinta agar kamu bisa merasakan sendiri. bahkan kamu akan takut untuk mengenal kematian saat itu."


"Tidak akan dan tidak akan pernah. " balas Lewis dengan nada yang penuh penekanan.

__ADS_1


***


Terangnya malam ini membuat bintang percaya diri menampilkan dirinya kepada orang yang sedang menikmati teh di balkon rumah klasik yang menggunakan railing besi dengan detail ulir yang klasik serta penggunaan plang sebagai material lantai kayu. Balkon juga dilengkapi dengan perabot dan dekorasi bernuansa klasik lainnya mulai dari lampu taman, kursi besi, kursi goyang, dan aksesoris interior lainnya sehingga membuat orang merasa nyaman jika tinggal sebentar untuk menenangkan hati.


" kamu bisa melihat bahwa saat ini bulan sangat iri dengan bintang?" ucapan Allen yang tiba-tiba mengurungkan langkah Emily untuk pergi dari balkon karena keberadaan dirinya. Emily kembali melangkahkan kakinya menuju Allen yang masih menatap kegelapan langit.


"Bulan yang gagah ternyata kalah dengan bintang saat ini. " ucap Allen lagi dengan tersenyum kecut kearah Emily yang sudah mengunakan baju kimono nya.


"mungkin hanya perasaan mu saja. Aku tidak merasakan hal demikian. " balas Emily menatap wajah suaminya yang sangat tampan sehingga bisa membuat perempuan manapun jatuh cinta kepadanya.


"kamu terlalu fokus dengan keindahan yang ada di sana tapi tidak melihat pertengkaran batin diantara mereka". Allen sesekali menyeruput teh yang sengaja ia bawa agar sedikit memberikan kehangatan di tengah malam.


"apa kamu pernah jatuh cinta? " tanya Allen ke Emily


"pertanyaan bodoh macam apa ini? " Gumam Emily dalam hati


"iya" balas Emily


"apakah cintamu juga yang memaksa mu untuk melakukan pernikahan ini? " tanya Allen lagi


"iya." Memang salah satu alasan Emily melakukan pernikahan ini adalah adanya penghianatan terhadap cintanya. Jika saja Lee tidak mengkhianati Emily mungkin untuk melakukan pernikahan ini Emily akan berpikir ulang agar dapat memecahkan masalahnya tapi kenyataannya Emily memilih menikah dengan Allen karena Lee. selain itu alasan menikah dengan Allen adalah cintanya kepada sang mamanya yang memberikan amanah kepada dirinya.


"cinta memang sangat menyulitkan bukan? untuk itu aku ingin kita saling menghormati bukan saling mencintai". Allen melihat wajah Emily yang tertutup oleh rambutnya karena angin menerjang di sana. Tangan Allen tergerak untuk menyingkirkan rambut Emily ke belakang telinganya. Allen memandang lekat wajah istrinya yang sangat cantik meski hanya dapat sinar dari rembulan malam. Allen mendekatkan wajahnya ke Emily dan berniat untuk mencium Emily tapi ia urungkan niatnya karena hatinya masih belum mengijinkan untuk melakukan itu.


" Lebih baik kita masuk sebelum kita kedinginan. " ucap Allen meninggalkan Emily yang masih memejamkan matanya karena ia berpikir Allen akan menciumnya.


"apa yang aku pikirkan? " Emily salah tingkah karena berpikir Allen berniat untuk menciumnya sehingga ia memejamkan matanya tapi Allen malah meninggalkannya.


****


Assalamu'alaikum semuanya

__ADS_1


Bantu author dong dengan meninggalkan jejak kalian 👣👣 setelah membaca novel ini caranya berikan LIKE VOTE KOMENTAR AND SHARE


Terimakasih 🥰


__ADS_2