
..."Ancaman perlu dilontarkan ketika kita sudah tersudut kan"...
...Fany Lauren...
" Lewis. " Teriakan Calista menggaung di kamar yang sangatlah luas jika hanya ditempati untuk satu orang saja.
Bangun dari tidur lamanya, Calista membuka hp nya. Namun ia menemukan jejak gambar Lewis membuka hpnya, jadi ia dengan setengah sadarnya membuka galeri fotonya. Betapa terkejutnya dirinya bahwa hpnya ke restart sehingga tidak membuat berkas apapun.
Dalam ingatannya, ia juga menyimpan foto-fotonya di laptopnya dan dengan bergegas, Calista membuka laptopnya. Dalam hitungan detik ketika foto-fotonya juga tidak ada, Calista membanting semua benda yang berdampingan dengan benda elektronik yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan berkas-berkasnya.
"Lewis, kurang ajar kamu. " Rambut panjangnya yang terurai diacak-acak dengan kasar karena mendapat penghianatan dari orang yang ia sayangi.
Pesta yang berjalan setengah jalan, matanya yang tidak mampu bertahan lagi membuat dirinya mengajak Lewis pulang. Dan benar saja, baru mendudukkan dirinya di bangku penumpang ia sudah menutup matanya yang terasa berat.
"Jika ini mau mu, maka aku akan mengikutinya. Akan tetapi, jangan salahkan aku jika terjadi hal yang tidak diinginkan. " Geram Calista dengan tangan kembali membuang barang yang nampaknya sedang menertawakannya.
💜💜💜
__ADS_1
"Lewis, dari mana saja kamu?. " Tanya wanita yang duduk di ruang tengah dengan memegang pengendali televisi.
Tak menggubris pertanyaan tersebut, Lewis kembali ingin menuju ke kamarnya yang beberapa hari ia tinggalkan.
"Jauhi Emily!. " Suara itu kembali ke luar hingga kaki Lewis menggantung di anak tangga.
"Kamu yang menginginkanku dekat dengan nya. " Balas sinis Lewis dengan tangannya menggenggam pegangan tangga.
"Karena aku tidak tahu bahwa Emily adalah menantunya Dawson. " Fany baru mengetahui bahwa Emily adalah menantu dari Dawson orang yang pernah singgah di hatinya ketika mendengar pertengkaran antara Lewis dan Emily.
" Lalu salah siapa?. " Kini suara Lewis ditinggikan karena sebenarnya ia sedang menahan emosinya.
"Salahku apa disini? Salahkan dia yang telah menghadirkan diriku hingga memiliki niat seperti itu. " Dalam pikiran Lewis, jika saja Dawson tidak mencintai Fany mungkin ia tidak akan ada di dunia ini. Dan ia tidak akan menjalani hidup yang penuh rasa dendam.
Mungkin niatan Lewis mendekati Emily benar untuk menyakiti Dawson dengan merebut menantunya yang disayangi. Namun keadaan berbalik kearahnya, yang tadinya ia tidak mengenal tentang cinta malah Emily mengajarkan semua itu kepadanya hingga ia benar-benar jatuh cinta bahkan kepada orang yang seharusnya ia sakiti.
"Sekarang lupakan Emily dan biarkan dia hidup bahagia. " Pertengkaran juga terjadi di gambar layar televisi hanya saja di sana membawa senjata yang mematikan dan tentunya menambah suasana tegang pada dua orang yang beradu tatap mata.
__ADS_1
"Segampang itu?. " Gak mungkin Lewis mudah melupakan cinta pertamanya meski ia sadar tidak bisa memilikinya.
"Jangan libatkan orang lain dalam masalah ini. "
"Ini semua masalah kalian dan kalian melibatkan ku dalam hal ini. "
"Biarkan Mama menjadi pengganti Emily, namun jangan biarkan dia hancur karena ulah mu. '' Fany tahu betul dari sorot mata Emily yang terpancar terdapat cinta tulus yang ia berikan ke Lewis dan tentunya itu adalah suatu bencana bagi Fany sendiri.
Ucapan Fany tidak mendapatkan bantahan dari anaknya karena ia sedang mengancam dengan taruhan nyawanya jika Lewis angkat tangan.
" Sekali lagi aku peringatkan jangan pernah ganggu Emily. " Teriak Fany pada anaknya yang sudah sampai di ujung tangga menuju kamarnya.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
__ADS_1
Love you❤