
..."Hitam adalah gelap dan kita akan merasakannya jika kita menutup mata"....
...Emily Nelson...
Memaksakan tubuhnya untuk bisa keluar dari kamarnya, ternyata bukan ide yang bagus. Namun, mau bagaimana lagi? Keberadaan Fany selalu menyulut emosinya.
Andai saja Fany sedari dulu mau merawatnya meski tanpa Dawson, mungkin rasa sakit Lewis tidak akan sebesar ini padanya. Namun, cintanya pada Dawson ternyata telah membuat Fany lebih memilih menelantarkan anaknya agar tidak mengingat Dawson.
Kaki gemetar Lewis yang menuruni tangga meleset sebelum ia sampai ke bagian bawah anak tangga. Tangannya yang tidak bisa menjangkau pegangan tangga membuatnya harus berguling-guling sampai ke tangga paling bawah.
"Lewis." Teriak kenceng orang yang melihat semua kejadian ini karena ia yang baru datang di suguhkan Lewis jatuh dari tangga.
"Bangun, Lewis." Emily menggoyangkan tubuh Lewis yang hanya diam saja tergeletak di lantai.
"Emily, Lewis kenapa? ". Tanya Fany yang berjalan dengan hati-hati menuruni tangga meski dia dalam keadaan terkejut melihat anaknya.
"Dia jatuh dari tangga ma. " Balas Emily dengan wajah kecemasan karena Lewis tidak membuka matanya.
"Emily cepat bawalah Lewis ke rumah sakit. "
Atas perintah Fany dan dengan bantuan David, Emily membawa Lewis ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan.
"Bagaimana keadaannya dok? ". Tanya Emily pada dokter yang baru keluar dari ruangan Lewis setelah memeriksa keadaannya.
" Lukanya tidak begitu parah, hanya saja dia butuh istirahat yang cukup karena suhu badannya cukup tinggi. "
"Bolehkah aku melihatnya? ".
__ADS_1
" Tentu, tapi dia belum sadarkan diri. " Balas dokter sebelum berlalu meninggalkan Emily yang masuk ke kamar Lewis.
"Lihatlah, apa yang kamu dapatkan dari kemarahan mu. " Ucap Emily pada orang yang masih memejamkan matanya dengan sebuah infus menempel di tangan kirinya sedangkan tangan lainnya diperban karena ada luka akibat berguling-guling di tangga.
"Kamu itu sangat pemarah, berbeda sekali dengan saat pertama kali kita ketemu. " Emily mengingat waktu itu hatinya hancur karena melihat perselingkuhan Lee di depan matanya, dan Lewis seperti malaikat yang entah datang dari mana menolongnya hingga memberikan tempat tinggal padahal itu adalah pertemuan kali pertama bagi keduanya.
"Ada apa sih dengan dirimu? Apa yang membuatmu memilih berubah? ".
" Padahal aku sangat menyukai Lewis yang dulu. Dimana aku dalam masalah kamu selalu ada di depan ku agar musuhku tidak bisa menyentuhku. "
"Namun, kini kamu malah yang menyerang balik diriku. " Dalam keadaan apapun sekarang Lewis lebih mengutamakan emosinya meski tanpa ada alasan pasti.
"Aku merindukan Lewis yang dulu. " Ucap Emily dengan lemah karena matanya yang entah mengapa terasa berat untuk bisa berjaga sehingga ia memilih tertidur dengan duduk di samping sedangkan kepalanya ia tidurkan di ranjang Lewis yang tidak terisi dengan bantalan tangan.
Dengkuran yang keluar dari mulut Emily menandakan jika ia sudah jauh pergi ke alam mimpi tanpa perduli dimana dirinya sekarang. Emily memang gampang sekali memejamkan matanya jika ia sudah kantuk. Bahkan dalam hal ini ia pernah memiliki pengalaman yang memalukan karena harus ikut bus keliling sampai malam hari akibat tertidur saat mau pulang ke rumah. Jika bukan supir busnya membangunkan Emily, mungkin entah sampai kapan ia berada di dalam bus tersebut.
Hilang kesadarannya membuat Emily tidak sadarkan diri ada wanita baru masuk ke kamar Lewis dengan membawa buah-buahan di tangannya.
"Calista? ". Emily menatap dengan matanya yang masih sipit pada orang yang menjulang tinggi layaknya seorang model internasional.
" Kenapa kamu ada disini? ". Calista yang datang ke kantor Lewis mendapatkan kabar jika Lewis sedang sakit membuatnya pergi kesini agar bisa membuat kesan bagi Lewis. Namun, ia malah mendapatkan Emily tertidur di samping Lewis dengan nyenyak nya.
" A-aku, "
"Pergi! Bukankah kamu sudah menjadi istrinya Allen? Kenapa kamu masih ingin dekat dengan Lewis? ".
" Apa kamu ingin membuktikan jika kamu adalah seorang jala** ? ". Ucapan terakhir Calista sangat menusuk hati Emily. Mungkin yang dikatakan Calista semuanya benar, tapi ia tidak pernah berpikir mendapat julukan seperti itu dari Calista.
__ADS_1
" Jaga mulutmu ya. " Tamparan keras mendarat di pipi tirus Calista sampai ada cap merah di sana karena tamparannya yang keras dan pipi Calista yang putih menampilkan semuanya.
Pipinya yang masih terasa panas ia pegangin dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya ingin membalas apa yang telah ia dapatkan.
"Ada apa ini? ". Tanya serak dari orang yang baru bangun dari sadarnya .
" Lewis? ". Melihat Lewis sudah sadarkan diri membuat Calista mendekatkan diri untuk mengadu apa yang telah Emily lakukan padanya.
" Lewis, dia telah menamparku. " Ucap Calista dengan nada merengek seperti anak kecil
" Usir dia dari sini karena telah membuat kerusuhan. " Suruh Calista pada Lewis yang hanya menatap Emily
"Lewis, aku melakukan semua itu karena.. "
"Diam! ". Teriak Lewis menjadikan kata Emily menggantung
" Pergi dari sini! ". Perintah Lewis pada Emily
" Lewis, aku.. "
"Pergi! ". Mungkin jika bukan kamarnya yang VVIP, Lewis sudah mendapat teguran karena suaranya yang sangat keras menjadikan Emily takut dan memilih menuruti perintahnya. Berbeda halnya dengan Calista yang tersenyum bahagia melihat semua ini di depan matanya, lantaran Lewis selalu membela Emily dan kali ini berbeda.
" Makanya jangan main-main dengan Calista Graham. " Gumam Calista dengan tersenyum puas
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
__ADS_1
Terimakasih
Love you❤