
..."Waktu mungkin tidak akan bisa kembali. Namun, kita bisa meyakinkan diri bahwa detik ini sangatlah berharga untuk besok"...
...Lewis Lauren...
"Emily, mandilah! . " Lewis keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk membangunkan Emily yang masih terlentang di ranjang dengan matanya di pejamkan.
"Lewis, biarkan aku tidur sejenak. " Bukannya bangun, Emily malah menggulingkan tubuhnya tanpa ingin membuka matanya.
"Sejak kapan kamu sangat suka dengan tidur? . " Akhir-akhir ini Emily memang sangat menyukai tidur karena ia merasa dunianya tidak seindah mimpinya.
"Lewis, diam lah! . " Kupingnya yang mendengar perkataan Lewis tidak membuatnya meraih mimpinya yang akan ia bangun.
''Ayo, bangun. " Lewis menarik pergelangan tangan Emily menyeretnya bangun dari ranjang.
"Aduh, Lewis ini sakit. " Rintihan Emily terdengar karena mendapat tarikan dari Lewis. Ternyata efek dari borgol tersebut masih meninggalkan jejak yang menyakitkan jika tersentuh.
"Sakit?. " Pergelangan tangan Emily diputar-putar untuk melihat sepenuhnya luka yang masih ketara warnanya. Emily hanya menjawab pertanyaan Lewis dengan menganggukkan kepalanya.
"Duduklah!. " Lewis menuntun tubuh Emily untuk ia duduk kan di sofa dan dia membuka beberapa laci untuk mencari obat yang tersedia kan.
Dengan hati-hati Lewis mengolesi luka Emily dengan salep berharap orang yang pergelangan nya diobati tidak merasakan sakit atas tindakannya.
Sedari tadi mata Emily tidak luput dari sosok orang yang sedang mengobati luka nya.
Tulus
Itulah kata yang sedang Emily sematkan pada Lewis yang nampak begitu menyayangi nya. Emily mengenal Lewis adalah sosok yang baik namun kali ini ia menatapnya ada yang berbeda.
Dari semua perlakuan Lewis padanya, Emily baru menyadari bahwa Lewis adalah contoh spesies yang sangat lembut dan perhatian. Mungkin awal dari pertemuan mereka Lewis menunjukkan sifatnya namun, setelah hadirnya Calista telah merubah segalanya. Dan sekarang Emily melihat semua itu kembali hingga ia tidak ingin melepaskan pandangannya.
"Kau bisa jatuh cinta jika terus memandangiku. " Dengan meniup pergelangan tangan Emily, Lewis mengatakan hal tersebut untuk mengalihkan pandangan Emily yang terus menatapnya.
Gelagapan Emily mengalihkan pandangannya ke sembarang arah karena sudah tertangkap basah. Dan Emily menarik tangannya dari genggaman Lewis karena sudah selesai diobati dengan balutan perban.
"Pergilah mandi. " Titah Lewis.
Lewis mengangkat tubuhnya untuk mencari sesuatu di dalam laci.
__ADS_1
"Kenakan ini. " Bingkisan dari dalam laci diberikan ke Emily
"Kenapa kamu mengatur ku?. " Bukannya menerima bingkisan, Emily malah menunjukkan sifat angkuhnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
''Kamu telah berjanji untuk menuruti semua permintaan ku. Jadi cepat kenakan ini. " Rasa tidak sabaran Lewis membuat ia melemparkan tepat ke pangkuan Emily karena sudah tidak ingin berdebat lagi.
Dengan malas Emily membawa bingkisan dari Lewis ke dalam kamar mandi untuk ia kenakan seperti perintah yang telah diberikan padanya.
Sudah terlalu lama Lewis keluar dari hotel untuk merencanakan sesuatu, kini ia kembali ke kamarnya. Namun, betapa terkejutnya dirinya melihat sosok wanita duduk di depan meja rias sedang menata rambutnya.
"Sempurna." Batin Lewis melihat Emily dari pantulan kaca.
Mengenakan dress hitam selutut tanpa lengan menampilkan kulit putih wanita yang terlihat seperti makhluk paling sempurna di dunia.
"Lewis." Tanpa Lewis sadari ternyata Emily sudah berdiri tepat di depannya dengan melambaikan tangannya untuk membangunkan kesadaran orang yang menatapnya tanpa ingin mengedipkan matanya.
"Eh, ada apa?. " Gelagapan Lewis berpura-pura membenarkan bajunya yang sudah rapi.
"Kamu kenapa?. " Tanya Emily dengan mengangkat satu alisnya.
"Gak apa-apa. Ayo!. " Lewis melangkah terlebih dahulu meninggalkan Emily yang membenarkan haknya.
Tanpa menjawab pertanyaan Emily, Lewis menembus jalanan sore menuju sebuah tempat yang sudah ia persiapkan.
"Ayo!. " Setelah keluar terlebih dahulu dari mobil, Lewis membukakan pintu Emily dan mengulurkan tangannya untuk memapah pemilik kesempurnaan keluar. Dan tanpa berpikir panjang Emily menerima uluran tangan Lewis.
Emily melingkarkan tangannya ke lengan kekar Lewis dan menuju ke ujung dari gedung yang menjulang tinggi.
Hembusan angin yang menerpa tubuh kedua orang baru menempatkan diri layaknya sepasang kekasih.
"Lewis, ini?. " Mata Emily menjelajah tempat yang dihiasi banyak lampu kelap-kelip dan bunga bermekaran.
Merencanakan kejutan romantis direncanakan Lewis agar bisa menghabiskan waktu dengan Emily tanpa sia-sia. Lewis tidak bisa meyakinkan dirinya bahwa waktunya akan kembali lagi dengan perasaan yang sama.
Dengan alasan janji, Lewis bisa memanfaatkan segalanya yang pastinya sangat menguntungkan bagi dirinya.
"Kemari lah." Lewis menuntun tangan Emily dan mendudukkannya di kursi yang disediakan untuk pelengkap suasana. Lewis mempersiapkan makanan yang juga sudah tersedia di sana.
__ADS_1
Keduanya menikmati makanan ditemani gelapnya malam dan bintang-bintang bertaburan menambah kesan romantis bagi dua orang yang begitu merasa canggung untuk situasi ini.
Sendok yang seharusnya digunakan untuk mengambil makanan yang tersedia di piring jatuh dari tangan Emily karena matanya terkena debu.
" Kamu kenapa?. " Tanya Lewis memastikan.
"Mataku kemasukan debu. " Emily mengucek matanya yang terasa ada ganjalan.
Lewis memajukan tubuhnya untuk meniup mata Emily yang sedikit memerah karena terlalu lama di kucek.
Mata yang sudah terasa membaik menatap tajam orang yang begitu dekat dengannya. Kesekian detik mereka saling menatap tanpa mengedipkan mata.
Hampir terbawa suasana yang ada dengan menatap bidadari cantik membuat Lewis menjauhkan diri dan kembali duduk ke tempatnya.
"Kenakan sendok ku. " Sendok yang sudah tidak bisa Emily kenakan lagi karena sudah kotor menarik perhatian Lewis untuk memberikan sendoknya pada orang yang ia sayangi.
"Tidak usah. Kamu makanlah. "
"Bagaimana aku bisa makan jika kamu tidak makan. " Emily menerima sendok dari Lewis untuk menghabiskan makanan yang sangat ia sukai.
Bukannya menujukan sendoknya ke arahnya malah ke arah orang di depannya dan memintanya agar menerima suapannya.
"Makanlah denganku. " Suapan demi suapan Emily berikan ke Lewis dan tentunya untuk dirinya sendiri hingga semua yang tersedia dihabiskan layaknya orang tidak makan beberapa hari.
Malam ini dengan bersaksikan jutaan bintang di langit, Lewis tidak ingin malam ini berlalu begitu cepat.
"Menarilah dengan ku. " Berlutut layaknya orang memohon di depan Emily, Lewis menginginkan untuk bisa menari bersama menghabiskan malam ini dengan tanpa jarak.
Dengan alunan musik yang mengiringi tarian dua orang yang nampak sempurna sebagai pasangan, Emily dan Lewis memancarkan aura yang berbeda.
"Wahai pemilik waktu, bisakah Engkau menghentikan detik ini juga?. " Gumam Lewis dengan terus memandangi wajah orang yang nampak malu-malu di dalam genggamannya.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
__ADS_1
Love you❤