Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Penjahat


__ADS_3

..."Kakiku memang memilih langkah menjauh namun hatiku tidak melakukan hal demikian"...


...Lewis Lauren...


"Dasar Lewis, kenapa ia tidak menghentikan langkahku? Padahal aku kan cuma pura-pura. " Dituduh sebagai penyebab semua kesalahan yang terjadi, Emily tentunya tidak terima semua itu. Namun, sekarang ia merasa jika tindakan yang ia ambil kali ini salah.


"Kemana sekarang aku harus melangkah. " Gumam Emily dengan terus berjalan tak tahu arah


Kaki Emily menyelusuri jalanan tanpa arah pasti ia hanya mengikuti kemana kakinya berjalan. Bersamaan hatinya yang sedang murung, langit juga menampakkan diri dengan wajah murung nya ingin menumpahkan sesuatu.


"Yah, kenapa harus hujan segala? ". Emily berlari ke sebuah tempat untuk berlindung dari air yang sudah menetes ke bumi.


Emily termenung duduk sendiri hingga tetesan air sudah dirasa mereda. Emily memilih melangkah kembali untuk bisa sampai ke hotel.


Jejak air yang belum sepenuhnya meresap masih menggenang di jalanan dan membuat Emily basah kuyup karena ia terguyur genangan akibat kecepatan mobil melewatinya tanpa ampun.


" Sial. Benar-benar sial hari ini. " Tangan Emily mengibaskan bajunya yang basah kuyup dengan jijik karena airnya kotor.


Tidak ada pilihan lain selain tetap menggunakan bajunya karena berteriak pun Emily tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun, dalam setiap derap langkah Emily, ia merasakan ada orang yang sedang membuntuti nya sedari tadi.


Dengan hati-hati Emily menolehkan kepalanya kebelakang melihat keadaan setempat dan dugaannya benar bahwasanya ada tiga orang laki-laki berjalan di belakangnya mengenakan pakaian serba hitam.


Langkah Emily diatur cepat agar bisa menjauhi ketiga orang tersebut. Namun, rencananya gagal dirinya malah terpojok kan di sebuah tempat sepi tanpa ada orang yang lewat di sana.


"Apa yang kalian inginkan? ". Ujar Emily dengan nada bergetar menahan rasa takut yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hanya saja ia berusaha mengendalikan rasa tersebut agar tidak terlihat pada para lelaki yang sedang menyeringai kearahnya.


" Dirimu. " Jawab salah satu lelaki dengan bahasa Inggris


"Stop jangan mendekat. " Emily memundurkan langkahnya terus namun semua apa yang lakukan sia-sia karena di belakangnya terdapat tembok tinggi sebagai penghambat ia kembali melangkah.


"Tenanglah aku tidak akan menyakitimu. " Ketiga laki-laki tersebut semakin mendekati Emily yang sudah diam di tempat.


"Jika kalian ingin uang, maka ini semua ambillah. " Emily menyodorkan tasnya dengan tangan gemetar karena ia sudah bingung harus melakukan apa lagi.

__ADS_1


"Jika kurang aku akan mentransfer lagi. Berapa nomer rekening mu? ". Tas yang sudah tergeletak di jalan mengeluarkan hpnya yang ternyata sedang berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Secepat kilat Emily mengambil hpnya dan menerima panggilan tersebut.


" Lewis, tolong aku. Ada penjahat yang sedang mengepung ku. Tolong.. " HP yang Emily genggam di rampas begitu saja sebelum ia menyelesaikan pembicaraannya dan berakhir menjadi kepingan pecahan.


"Jangan coba-coba lari dari kami. " Kecam laki-laki yang mengenakan baju serba hitam dengan menodongkan pisau tepat ke arah leher Emily.


"Tolong, tolong. " Teriak Emily berharap ada bantuan dari orang yang mendengar teriakannya. Namun, pastinya sia-sia karena tempat tersebut sangatlah sepi dari keramaian.


" Diam! ". Perintah dari laki-laki lainnya ternyata membuat efek yang luar biasa bagi Emily karena lengan bajunya ikut ditarik paksa hingga robek besar.


" Tolong, biarkan aku pergi. " Pertahanan Emily untuk tetap kuat runtuh sehingga ia duduk berpangku lutut memohon agar tidak melakukan hal yang ia tidak inginkan.


"Sayang, kenapa kamu harus pergi? Kita akan bersenang-senang disini. " Tangan dari salah satu laki-laki tersebut ingin menyentuh lengan Emily yang sudah terekspos namun gagal karena ada tangan menghalangi nya.


Emily yang sudah mewanti-wanti dirinya dengan hanya bisa menangis sambil menutup matanya merasa ada yang aneh. Sudah kesekian detik ia tidak merasakan apapun atau tindakan apapun dari para penjahat sehingga ia mencoba membuka matanya.


Apa yang ia duga teryata benar. Seorang pahlawan datang menyelamatkannya dengan berusaha melawan ketiga laki-laki yang membawa senjata tajam.


Akibat dari fokus Lewis yang jelek membuat dadanya harus terkena sayatan belati dan kini ia tengkurap merasakan rasa sakitnya.


"Lewis, kamu tidak apa-apa kan? ". Emily merangkak mendekati Lewis yang terus meringis karena darah banyak keluar dari dadanya.


Emily mengangkat kepala Lewis ke atas pahanya dengan terus menangis.


"Kemari lah." Lengan Emily ditarik paksa oleh salah satu penjahat meninggalkan Lewis dari pangkuannya.


"Lepaskan, lepaskan aku. " Teriak Emily dengan terus memukul orang yang menariknya.


Tubuh Emily dihempaskan menatap tembok dengan keras membuat Emily meringis kesakitan.


Rasa sakit Emily berubah menjadi ketakutan ketika tubuhnya dihimpit dua tangan yang membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana.


"Kamu terlihat sangat cantik, sayang. " Jemari tangan penjahat menyentuh wajah Emily dengan lembut meski pemiliknya selalu menghindar dengan memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Tak sabar lagi mengahadapi Emily yang terus menolak perlakuannya membuat penjahat tersebut ingin mencium bibir Emily. Namun, semua itu digagalkan dengan tertariknya kaos yang ia kenakan ke belakang.


"Jangan pernah berani menyentuhnya. " Pukulan bertubi-tubi Lewis layangkan ke semua penjahat dengan menahan rasa sakit yang ia rasakan sekarang.


Meski dalam keadaan tidak normal, Lewis mampu membalas setiap pukulan dan mampu menghindari dari beberapa senjata yang terarah kepadanya sehingga para penjahat yang merasa terkalahkan langsung pergi meninggalkan Lewis dan Emily.


"Lewis." Emily menangkap tubuh Lewis yang akan jatuh karena tidak kuat menahan lukanya.


"Kamu tidak apa-apa? ". Tanya Emily memastikan


" Tidak. " Balas singkat Lewis


Emily langsung membawa Lewis ke rumah sakit terdekat untuk segara mendapat pertolongan karena lukanya cukup parah.


"Bagaimana dok kondisinya? ". Tanya Emily pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Lewis untuk memeriksanya.


" Dia baik-baik saja. Dan dia bisa langsung untuk pulang. Namun, butuh perawatan agar lukanya cepat sembuh. " Ucap dokter sebelum berlalu pergi.


"Lewis." Panggil lirih Emily pada orang yang bersiap untuk pergi meski ia sesekali meringis kesakitan


"Biar aku bantu kamu. " Emily mengajukan dirinya untuk bisa menopang kembali tubuh Lewis sama halnya yang tadi ia lakukan. Namun, kini tangan Lewis mengisyaratkan agar Emily tidak mendekati dirinya.


Lewis lebih memilih melangkah dengan hati-hati tanpa bantuan dari siapapun untuk bisa pergi. Sedangkan Emily terus saja membuntuti Lewis meski sesekali ia berusaha membantu Lewis namun selalu di tolak.


"Kau sedang marah padaku Lewis. " Gumam Emily dengan melangkah di belakang orang yang sesekali memegangi dadanya


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih


Love you❤

__ADS_1


__ADS_2