
..."hal paling membuat kita ingin hidup selamanya adalah jatuh cinta"...
...Lewis Lauren...
"Sial". Lewis mengumpat di ruang kerjanya dengan wajah marah mengingat kejadian di restoran yang melihat Emily dan Allen makan berdua menjadikannya tidak fokus pada kliennya dan berakhir penolakan proyek yang ia tawarkan.
" Kenapa lo? ". Tanya David membawa file dan menaruhnya tepat di meja kerja Lewis.
Lewis tidak menjawab pertanyaan David karena emosinya masih tinggi. Lewis hanya mengambil file yang diberikan David dan menatap David dengan satu alisnya terangkat menandakan ia sedang mempertanyakan itu.
" Mungkin emosimu akan semakin meledak setelah melihat itu. " Ujar David. Lewis langsung melihat apa yang ada dalam file tersebut dan membuatnya kembali tersulut emosinya.
Yang sebenarnya bukanlah Emily yang memberikan file proyek barunya melainkan Andreas bawahan Emily.
"Buat perhitungan kepadanya dan pastikan karirnya hancur. " perintah Lewis dan David pun paham maksud dari temannya tersebut.
__ADS_1
"shit! ". Lewis meninju kasar salah satu tembok ruang kerjanya membuat tangannya mengeluarkan darah di sana. Penyesalan dengan perlakuan yang telah ia lakukan pada orang yang ia cintai nya. ya, Lewis jatuh cinta pada Emily saat ini. Mungkin ketika ia mengetahui bahwa Emily menerima dirinya apa adanya atau ketika ia menghabiskan one fine day dengannya hingga ia harus mencium Emily Tapi Lewis tidak tahu pasti kapan ia jatuh hati pada orang yang sudah memiliki suami itu.
Akan tetapi mungkin karena gengsi ia tidak bisa mengakui itu semua pada Emily dan dirinya sendiri. Ini adalah kali pertama ia mengenal cinta dan untuk itu ia juga harus merelakan cintanya meski akan sulit karena ini adalah kali pertama baginya.
"Ini yang terbaik untuk kita. Dan kebencian lebih baik dari pada cinta untuk kita. " Ucap Lewis dengan meraup kasar wajahnya.
Emily yang sudah mengantar suaminya sampai kamar dan sekarang ia menatap pemandangan kota dibalik jendela kamarnya sedangkan Allen berbaring di ranjangnya.
"Kamu tidak kerja? ". Tanya Allen dengan menatap langit-langit kamarnya berwarna abu-abu. Pertanyaan yang sedari tadi ia ingin tanyakan karena melihat Emily seperti tidak akur dengan pemilik perusahaan kerjanya dan juga beberapa hari terakhir Emily selalu berada di sampingnya.
" Tidak. Aku difitnah menjual proyek pada paman. "Balas Emily yang masih setia melihat kepadatan kota dengan dipenuhi kendaraan berlalu lalang.
" Buktinya aku dikeluarkan. " Balas Emily yang sekarang membalikkan badannya dan mengambil obat di dalam tasnya kemudian mendekati Allen dengan tidak lupa membawa segelas air.
"waktunya minum obat. " ucap Emily langsung menyodorkan beberapa obat dan juga gelasnya ke Allen.
__ADS_1
Emily meraih tangan Allen yang sudah tidak terbalut dengan hati-hati karena ia yakin jika tangan Allen belum sepenuhnya sembuh. Dengan kelembutan Emily sedikit-sedikit menggerakkan tangan Allen yang sejak lama hanya dibiarkan menggantung dengan kain.
Allen sedikit meringis meski Emily melakukannya dengan kelembutan.
"aduh." Allen yang kesakitan langsung mencengkram tangan Emily dengan tangannya yang lain.
"sakit? ". Pertanyaan bodoh Emily yang tidak mendapat jawaban dari suaminya tersebut.
" Terus, kenapa kemarin bisa ngangkat tubuhku? ". Allen langsung salah tingkah mendengar ucapan istrinya dengan senyuman penuh arti.
" a-aku.. Bukan aku. " jawab asal Allen untuk menutupi kegugupan nya.
"lalu? ". Emily memajukan wajahnya pada Allen yang gugup
" perawat. " Jawaban Allen langsung dibarengi dengan dirinya merebahkan dirinya di ranjang dan menutup matanya agar menjauh dari Emily yang terlihat sedang mengganggu nya.
__ADS_1
"Mas Allen. " Emily sebenarnya juga tidak yakin betul jika Allen lah yang mengangkat tubuhnya tapi kemungkinan besar juga bisa terjadi karena waktu itu hari sudah larut tidak mungkin perawat akan datang ke kamar dan melihat tingkah Allen membuat keyakinannya semakin besar.
"selamat malam. " ucap Emily dengan menyelimuti tubuh suaminya