Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Menjemputnya Pulang


__ADS_3

..."kebenaran yang tidak pernah di bayangkan tiba-tiba hadir di tengah-tengah kehidupan adalah rasa sakit yang sulit untuk diterima"...


...Emily Nelson...


Emily mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk menghilangkan stress yang menjalar di pikirannya.


Pernyataan Fany tentang masa lalunya telah meruntuhkan segala pertahanan yang telah ia buat dengan kokohnya. Membalas ungkapan cinta Lewis bukanlah sebuah kesalahannya, karena Emily sendiri tidak pernah meminta kepada siapa cintanya berlabuh. Jika memungkinkan, Emily sudah memilih Allen suaminya yang pastinya berhak atas cinta kasih sayangnya.


"Ambil nyawaku saja Tuhan. " Lirih Emily dengan menahan air masuk ke dalam mulutnya saat berbicara.


"Ketika aku melihat ketulusan di matanya, kenapa Engkau merubahnya dalam sekejap saja? . "


Tok.. Tok..


Suara ketukan di balik pintu kamar mandi Emily terdengar sangat keras hingga membuyarkan lamunan orang yang terus diguyur air hingga kulitnya memucat.


"Emily." Teriak Robert dengan terus mengetuk pintu nya.


Keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju handuk, Emily menemui Robert yang masih berdiri di depan pintu dengan akan mengetuk kembali namun ia urungkan karena pintu sudah dibuka.


"Apa yang telah kamu lakukan, Emily?. " Dagu Emily diangkat Robert untuk meneliti wajah pucat putrinya.


"Tidak apa-apa Pa. " Menghindar dari tatapan Papanya, Emily membelakangi Robert dengan duduk di meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya.


"Aku harap kamu tidak memikirkan apa yang telah kamu lakukan. "


"Maksud Papa?. "


"Lupakan yang telah terjadi dan bersiaplah, Allen sudah menunggu untuk membawamu kembali pulang. " Titah Robert pada orang yang sedang menatapnya di bayangan kaca di depannya.


Derap langkah menuruni tangga terdengar jelas di telinga orang yang akan meminum minuman di tangannya. Menampilkan sosok yang ia kangenin kehadirannya karena ternyata ketidakhadiran nya telah membuat efek yang luar biasa.


"Emily, kemari lah. " Tangan Robert menepuk sofa kosong untuk diisi oleh anaknya yang sudah rapi mengenakan hoodie ukuran besar berwarna hitam dan terlihat sangat kontras dengan kulit putih Emily.


" Allen, bagaimana kabar Dawson?. " Tanya Robert pada orang yang baru menghabiskan minumannya setelah beberapa waktu lalu tertunda dengan kehadiran Emily.


"Baik." Balas singkat Allen. Bisa dilihat dari ekspresi Allen, bahwa mereka belum berhubungan baik kembali dengan orang yang dulunya sangat ia hormati.

__ADS_1


" Dawson selalu menanyakan kabar Emily, dia sangat menyayangi putriku ini. " Setiap hari, Dawson menelpon Robert hanya untuk menanyakan kabar Emily. Karena bagi Dawson, ia sangat mempercayai besannya tersebut untuk bisa menjaga menantunya saat keluar dari rumah.


Dan Allen sendiri datang ke rumah mertuanya untuk menjemput Emily bukan kemauannya sendiri melainkan desak kan dari Dawson.


Flashback On


"Allen." Teriak Dawson pada orang yang telah memecahkan vas bungan karena tanpa sengaja ia mencoba menjadikan vas sebagai pegangannya saat dirinya tidak bisa menopang diri untuk tegak berdiri.


"Sudah berapa banyak vas yang telah kamu pecahkan?. " Hampir setiap Allen pulang dengan tidak sadarkan diri, ia selalu menghancurkan barang-barang yang terpajang di berbagai penjuru baik itu untuk pegangannya atau sebagai bahan pelampiasannya.


Selalu mengabaikan ucapan Dawson, Allen kembali melangkahkan kakinya yang oleng untuk menaiki tangga.


" Besok jemput lah Emily kembali!. " Perkataan Dawson telah membuat tubuh Allen diam di tempat dengan tangan berpegangan erat pegangan tangga .


Meski ia tidak bisa menopang diri sendiri, namun otak Allen masih bekerja dan memahami apa yang telah ia dengar.


"Untuk apa?. " Balas Allen asal .


Jika boleh di katakan jujur, Allen sangat merindukan kehadiran Emily. Karena biasanya Emily selalu mempersiapkan segala macam keperluannya dan ketidakhadiran Emily telah membuat banyak perubahan bagi Allen.


"Dia masih istrimu jadi jangan buat ia berlama-lama di luar. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di luar sana. "


Lontaran kata yang Allen berikan ke Papa nya adalah bentuk sindiran keras karena telah memiliki simpanan di luar rumah saat Mamanya masih hidup.


Hati Allen masih belum bisa menerima bahwa kematian Mamanya adalah ulah dari Papa nya sendiri. Dan tentunya itu membuat luka dalam bagi Allen yang sudah menganggap Dawson sebagai sosok panutannya.


Flashback Off


"Apa kalian akan pergi sekarang?. " Tanya Robert penuh semangat menatap dua orang yang irit bicara saat menjawab pertanyaan.


"Pergilah, lebih cepat lebih baik. " Tidak mendapat jawaban dari keduanya, Robert menarik tubuh Emily dan mendorongnya untuk keluar dari rumahnya karena ia tidak ingin anaknya berlama-lama tinggal di rumahnya.


Emily dan Allen masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada Robert yang memaksanya cepat-cepat pergi.


Dalam keheningan mobil mahal Allen, suasana juga tercipta demikian bagi kedua orang yang hanya menatap ke depan karena tidak ada yang menarik bagi mereka sekarang.


Ternyata tidak semua keheningan membuahkan rasa fokus di pikiran, buktinya Allen tidak mampu melihat seekor anak anjing lari melintasi jalan yang akan ia lalui. Tidak ada pilihan lain selain membanting stir nya, mobilnya menabrak pohon besar yang ditanam untuk menyerap karbondioksida dari kendaraan.

__ADS_1


Sreet


"Aduh." Pelipis Emily membiru karena tatapan yang kuat di bagian depan mobil telah membuat dirinya merintih kesakitan.


"Kamu tidak apa-apa?. " Allen memutar wajah Emily menghadap dirinya dan menyentuh luka baru terbentuk tersebut.


"Aduh."


Meniup luka Emily, tubuh Allen mendekat agar bisa menjangkau orang yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Saling beradu tatap dengan jarak yang cukup dekat, Allen meneliti wajah Emily yang sangat cantik dalam pandangannya.


"Maafkan aku. " Ucapan Allen begitu lirih namun masih bisa didengar oleh telinga Emily.


"Untuk apa?. " Emily menautkan kedua aslinya yang nampak rapi meski tanpa dipulas


"Tidak seharusnya aku mengusir mu dari rumah saat sedang emosi. "


"Jika itu mampu membuatmu tenang, aku tidak mempermasalahkannya. " Balas Emily dengan tenang


Emily memahami situasi suaminya saat dia mengusir dirinya, karena kebenaran yang tidak pernah di bayangkan tiba-tiba hadir di tengah-tengah kehidupan adalah rasa sakit yang sulit untuk diterima.


Begitu menghormati Dawson bahkan menjadikan Papa nya adalah sosok idola tentu membuat dirinya terbunuh saat mengetahui idolanya sebenarnya musuhnya sendiri.


"Aku tidak bisa mengendalikan amarahku saat mengetahui kebenaran. "


"Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika dalam posisi mu. "


"Tetap saja aku harus meminta maaf untuk semua itu. "


"Aku sudah memaafkan sebelum kamu meminta maaf Mas. " Balas Emily dengan tersenyum tulus ke orang yang membelai rambut panjangnya.


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih

__ADS_1


Love you guys ❤


__ADS_2