
..."Butuh kesiapan untuk mengatakan kejujuran. "...
...Lewis Lauren...
Alunan musik yang diputar menuntun dua orang untuk menari dengan sangat romantis. Jika hanya memandang mereka dari segi penampilan luarnya, pastinya semua akan melihat kebaikan Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini. " Dengan pencahayaan dari rembulan malam, terpantul kan kecantikan yang sangat sempurna hingga mampu menaklukan semua mata memandang.
"Berarti sebelumnya aku tak pernah cantik?." Ketus Emily pada orang yang meletakkan satu tangannya di pinggangnya dan yang lainnya ia genggam.
" Jika aku memuji mu malam ini bukan berarti kamu tidak selalu tampil cantik. "
"Kamu selalu terlihat cantik di mata ku. " Bisik Lewis tepat di telinga Emily hingga pendengar merasa ada getaran di dirinya.
Entah bagaimana ia berdekatan dengan Lewis merasa ada sesuatu yang sulit untuk diartikan. Emily sendiri tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki lain termasuk mantannya Lee dan suaminya Allen.
Sebagai wanita yang baik, Emily menjaga diri dari berbagai jenis laki-laki karena ia sadar bahwa ia bukan wanita biasa melainkan wanita berparas jelita yang mengundang semua laki-laki agar memilikinya dan untuk menjauhi hal yang tidak diinginkan Emily menutup diri tentang laki-laki.
Pipinya yang merona karena ucapan Lewis, Emily membuang pandangannya dari sosok yang sedang menggodanya.
Meski lagunya belum berhenti mengalun, Lewis menghentikan tariannya dan menegakkan badan Emily dengan tangannya.
"Tatap mataku Emily. " Dagu Emily di tarik Lewis untuk memfokuskan pandangannya ke arah dirinya.
"Kabar apa yang ingin kamu dengar dan akan membuatmu bahagia?. " Tanya Lewis serius dengan menekan bahu telanjang Emily.
Ada sesuatu yang Lewis ingin katakan sebelum ia memberitahukan hal besar di dalam hatinya.
" Apa ya? Aku tidak sedang menginginkan sesuatu. " Berada di kota impian dengan berbagai impian yang ia wujudkan bersama Lewis, Emily belum berpikir lagi untuk merencanakan sesuatu selain cita-citanya menjadi seorang desainer besar.
" Jika begitu cobalah tebak kabar bahagia itu. "
"Kebahagiaan apa yang melebihi pemberianmu semua ini? . " Ditemani jutaan bintang bertaburan di langit cerah dengan hiasan di berbagai tempat pada ruangan terbuka hingga mampu menjangkau menara Eiffel yang menjulang tinggi pastinya suatu kebahagiaan yang luar biasa untuk diungkapkan.
__ADS_1
"Jatuh cinta. " Balas Lewis dengan penuh penekanan menjadikan orang yang sedari tadi memandangi ke indahan pemandangan teralihkan menatapnya tidak percaya.
"Sekali lagi Lewis. " Ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah Emily meminta Lewis mengulangi ucapannya.
"Iya Emily, aku jatuh cinta. " Lewis mengatakan perasaannya dengan lantang. Dirinya tidak mampu menahan perasaannya yang terus bergejolak agar bisa mengucapkan kebenarannya.
Di bawah rembulan malam ini Lewis ingin mengucapkan semuanya meski ia tahu bahwa cintanya tidak akan pernah terbalaskan. Akan tetapi ia setidaknya mengutarakan isi hatinya untuk yang pertama kalinya supaya ia tidak akan menyesal di kemudian hari.
Ketidakpercayaan Emily dengan ucapan Lewis tidak memudarkan rasa bahagianya meskipun sekali itu sebuah kebohongan yang ia dengar. Namun, setidaknya Lewis mau membicarakan tentang cinta.
"Aku sangat bahagia Lewis, mendengar semua ini. " Emily memeluk erat hingga tubuh kekar Lewis terhentak ke belakang karena terlalu kerasnya dorongan dari Emily.
"Akan tetapi, kepada siapa kamu jatuh cinta?." Mendengar kabar yang sangat sulit ia dengar, ternyata Emily juga merasakan ada sesuatu yang aneh pada perasaannya.
Cemburu? Entahlah, namun yang pasti rasanya ada bahagia dan tidak sukanya. Padahal Emily orang yang selalu ingin Lewis mengenal cinta dan sekarang ia malah tidak terlalu senang mendengar kabar ini setelah beberapa saat.
"Aku jatuh cinta dengan.... " Ucapan Lewis sengaja digantung untuk memberikan rasa ingin tahu pada Emily
"Terserah aku lah. " Jemari Lewis digunakan untuk mengelus pipi halus orang yang memandangnya kesal.
"Jangan butuhkan aku lagi. '' Bentuk kekesalan Emily di gunakan untuk memutarkan tubuhnya membelakangi Lewis.
" Kenapa aku melakukan semua ini. " Batin Emily karena merasakan keanehan pada dirinya
Biarpun tak ingin mengucapkan siapa orang yang telah membuatnya jatuh cinta, Lewis tetap menginginkan Emily tak menjauhinya karena sebenarnya ia sendiri belum siap mengucapkan semuanya.
''Lihatlah mataku dan rasakan siapa pemilik hati ini sekarang. " Mata mereka saling menatap menembus ke dalam menggunakan hati mereka masing-masing.
"Aku jatuh cinta kepada mu Emily Nelson. " Gumam Lewis dengan semakin memperdalam tatapannya untuk bisa merasakan setiap detik yang ia nikmat malam ini.
Terbuai suasana yang ada, Lewis memajukan wajahnya menghilangkan jarak yang ada. Bukan hanya Lewis saja, Emily yang melihat tindakan Lewis malah memejamkan matanya sebagai bentuk setuju.
Menyatunya dua bibir keduanya untuk menikmati hembusan angin malam dengan saling membalas setiap ******* menghilangkan rasa dindingnya malam menjadi panas.
__ADS_1
Habisnya persediaan nafas melepaskan tautan bibir yang kini terasa bergetar. Dengan masih jarak dekat, keduanya masih saling menatap dengan pikiran masing-masing.
Emily menerima pungutan dan membalas perlakuan Lewis bukanlah sesuatu tanpa alasan yang pasti. Apa lagi ini adalah kali pertamanya melakukan ciuman dengan sadar dan tanpa paksakan tidak seperti yang dilakukan Lewis sebelumnya.
"Aku akan mengatakan siapa orang yang telah membuat ku jatuh cinta besok siang. " Udara yang keluar dari mulut Lewis menerpa wajah Emily karena sangat dekatnya mereka saat ini.
Dibalik semua tindakan Lewis dan Emily tidak pernah luput dari pandangan sosok wanita mengunakan hpnya diarahkan ke dua orang yang sangat dekat seperti sedang merekam sesuatu hal yang menarik.
"Kalian semuanya akan hancur. " Ujar wanita dengan tersenyum sinis karena sekarang ia sedang merencanakan sesuatu yang akan menghancurkan semua hati.
"Jangan pernah main-main dengan Calista Graham. ''
Ya, Calista Graham.
Mengikuti Paris fashion week dengan menjadi salah satu model adalah salah satu impian Calista dan semua itu terwujud beberapa waktu lalu.
Bukannya merasa senang atas kesempatannya, Calista malah dibuat emosi karena melihat dua sosok penonton duduk bersebelahan nampak begitu mesra saat dirinya catwalk.
Terbakarnya semua emosi pada Calista membuat model berprestasi ini memilih untuk tetap tinggal di Paris. Mengumpulkan semua bukti tentang Emily dan Lewis adalah rencana besar yang ia susun.
Salah satu caranya dengan mengikuti semua aktifitas dua orang yang sedang menyimpan perasaan tersebut hingga puncaknya kini ia mendapatkan segalanya di tempat terbuka ini.
Menahan rasa sakit hati dengan merekam kemesraan orang yang ingin ia miliki bukanlah hal yang mudah terlebih Calista adalah sosok yang sulit mengendalikan emosinya. Namun, demi rencananya berhasil maka ia rela melakukan apapun termasuk menahan gejolak emosinya.
" Bersiaplah, kalian akan memohon kepadaku. " Gumam Calista dengan menyudahi rekamannya untuk pergi secepat mungkin sebelum ketahuan bahwa ia sedang membuntuti mereka.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
Love you❤
__ADS_1