Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Gedung Setengah Jadi


__ADS_3

..."Jika hari ini adalah hari terakhirku bisa menghirup udara, aku akan menjadi orang paling beruntung bisa hidup di dunia ini. "...


...Emily Nelson...


Kecanggihan teknologi yang Allen gunakan saat ini telah membawanya ke bangunan setengah jadi namun sudah tua.


"Calista membawa Emily kesini?. " Mobil yang sama saat membawa Emily pergi juga terparkir di halaman gedung yang terpenuhi rumput tak terawat.


"Kenapa Calista melakukan semua ini?. " Mobil mewahnya Allen diparkir tepat di samping mobil Calista dan ia turun untuk menjajaki jalanan yang masih beralaskan tanah.


Namun, dalam beberapa langkahnya yang mendekati bangunan tersebut, matanya menangkap dua sosok laki-laki duduk bermain kartu dengan satu senjata pistol di mejanya.


"Senjata? Bukankah ini bangunan tua? Memangnya ada yang berharga hingga harus ada penjaganya dan membawa senjata pistol?. " Allen tak berpikir bahwa Calista disini sedang melakukan siasat yang jahat. Karena di mata Allen, Calista adalah sosok wanita yang baik dan ia bahkan berniat untuk menikah dengannya jika saja ia tidak dijodohkan dengan Bella.


Dan pertanyaan di pikiran Allen akhirnya terjawab setelah sosok wanita yang telah membawa istrinya muncul dari dalam gedung untuk menemui dua penjaga tersebut.


"Kalian awasi situasi di luar. Pastikan tidak ada orang yang datang!. " Perintah Calista dengan tegas sebelum ia kembali lagi masuk ke dalam.


Perbincangan Calista dengan anak buahnya di dengarkan Allen secara sembunyi-sembunyi di balik tembok sisi kanan yang lebih dekat dengan mereka.


"Calista berencana jahat kepada Emily? Tapi apa alasannya?. " Pikir Allen


"Semua itu tidak penting, yang terpenting adalah keselamatan Emily sekarang. " Gumam Allen dengan berpikir bagaimana caranya ia bisa membawa Emily pergi.

__ADS_1


Setelah beberapa saat ia berpikir, Allen melemparkan batu disisi berlainan dari tempat ia berada sehingga menimbulkan suara yang membuat dua penjaga siap menangkap sesuatu tersebut.


"Siapa di sana?. " Salah satu penjaga yang bertubuh tegap bersuara dengan lantang bertanya pada sesuatu yang menghasilkan suara.


"Sumber suaranya dari sana. Lebih baik kita pastikan ke sana. " Penjaga tersebut memastikan ke tempat sumber suara agar semuanya aman. Namun, ternyata mereka salah. Karena yang sebenarnya penghasil suara tersebut sedang mengendap-endap masuk ke gedung yang harusnya mereka jaga.


Allen berhasil mengelabuhi dua penjaga yang tubuhnya lebih besar dari miliknya. Allen lebih memilih menggunakan otaknya daripada harus menghabiskan tenaga untuk meladeni orang yang belum tentu mampu ia kalahkan.


Kaki Allen dibuat melangkah sehati-hati mungin agar tidak menimbulkan suara kebisingan pada tempat yang sangat sunyi, bahkan suara desiran angin pun seperti terdengar jelas.


"Dimana Calista meletakkan Emily. " Mata Allen menelusuri setiap sudut bangunan yang masih banyak penyokong agar tidak runtuh, karena ia berdiri belum sepenuhnya.


Dengan menajamkan pendengarannya, Allen mendengar suara tawa lepas yang ia kenali sebagai milik Calista dan Allen pun mengikuti dimana suara tersebut semakin jelas hingga ia mampu menjangkau keberadaan istrinya.


"Emily?. " Mata elang Allen dilebarkan melihat keadaan istrinya yang sangat mengenaskan.


"Calista." Gertakan gigi Allen terdengar sangat jelas bahwa ia sedang dalam puncak emosinya. Akan tetapi jika ia bertindak gegabah maka ia akan kehilangan segalanya.


"Kamu pastinya tahu Emily, apa alasan aku melakukan semua ini. " Ucap wanita yang terus menodongkan senjata tajamnya ke arah orang yang sangat ketakutan bahkan getaran tubuhnya terlihat sangat jelas.


"Iya, karena kamu telah mengambil alih perhatian Allen dan Lewis. " Jawab Calista sendiri dengan nada sinis nya.


"Aku sudah mewanti-wanti kematian Bella yang sudah sekarat, karena aku yakin Allen akan meminta diriku bisa kembali dengannya. Namun, dengan mudahnya kamu mengikatnya dalam hubungan pernikahan. "

__ADS_1


"Dan alasan yang kedua adalah Lewis, jika tidak bisa bersama dengan Allen, aku bisa hidup bersama Lewis. Namun, dengan tanpa berdosa kamu merebut hatinya. Kamu membuatnya jatuh cinta kepada mu, Emily. " Lanjut Calista membuat dua orang yang mendengar penjelasan tersebut kaget.


"Lewis mencintai Emily?. " Gumam Allen tidak percaya.


"Iya, Lewis mencintaimu Emily Nelson. " Ucapan Calista ditekan dalam setiap katanya untuk meyakinkan pada orang yang tidak percaya dengan ucapannya.


"Karena tekanan dari ku ia menjauh darimu dan mengatakan bahwa ia tidak mencintai mu. Semuanya itu adalah kebohongan. "


"Namun kini aku sudah tidak punya suatu hal yang bisa membuatnya tertekan lagi. Dan semuanya adalah kamu penyebabnya. "


"Kamu telah menghancurkan hidupku Emily." Yang tadinya ia tertawa lepas kini raut wajahnya Calista berubah menjadi penuh emosi.


"Dan aku akan menghancurkan semua yang menghancurkan diriku saat ini. " Dengan pelan-pelan tangan Calista yang membawa senjata terarah ke leher jenjang Emily untuk bisa menghabisi orang yang hanya bisa memejamkan matanya.


Emily sendiri tidak tahu harus berbuat apa di dalam keadaannya seperti ini, bahkan untuk berteriak saja ia tidak mampu. Namun hati Emily sedikit senang ketika ia mengetahui bahwa Lewis memang benar-benar mencintainya. Setidaknya jika ia mati, ia telah mendapatkan cinta dari orang yang mencintainya.


"Jika hari ini adalah terakhir aku bisa bernafas, maka aku akan menjadi orang yang sangat bahagia setelah mendengar penjelasan Calista. " Gumam Emily dengan merasakan senjata Calista telah menyentuh kulit lehernya hingga ada beberapa tetes darah yang sudah keluar mengalir di sana.


Bruk..


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya

__ADS_1


Terimakasih


Love you❤


__ADS_2