
..."Hitam itu gelap lalu kenapa kamu masih ingin memilikinya"...
...Lewis Laurens...
Teriakan orang mengelilingi ring boxing menambah suasana semakin memanaskan dua orang yang sedang telanjang dada dengan dua tangannya terbungkus sarung tangan.
Emily yang tadinya duduk jauh dari pertandingan kini ia lebih memilih menyingkirkan beberapa orang untuk bisa melihat semua dengan jelas pertandingan yang kan berlangsung.
"Keras kepala banget sih dia. " Geram Emily pada orang yang sedang mengambil ancang-ancang untuk memukul.
Setelah wasit memulai pertandingan membuat dua orang yang menjadi tontonan adu pukul. Baru beberapa ronde berlangsung sudah dapat dipastikan jika Lewis lebih mendominasi pertandingan, terlihat dari pukulannya beberapa kali tidak bisa ditangkis lawannya.
"Lewis... Lewis... " Teriakan riuh penonton senang terdengar menggema pada ruangan karena melihat jagoannya telah menumbangkan lawan dengan sangat mudah dan tanpa mendapat luka sedikitpun seperti lawannya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kamu benar-benar gila. " Emily yang baru masuk ke ruangan ganti langsung mendorong tubuh Lewis dengan kasar meski tidak menjadikan orang yang menerimanya bergeming dari tempat.
Tanpa memperdulikan apa yang Emily lakukan, Lewis melepaskan sarung tangannya dan dilemparkan ke sembarang tempat sebelum ia mengambil kaos untuk menutupi badannya yang tadi diekspos.
"Lewis, ini uangnya. " Seseorang yang menyusul Lewis menyodorkan uang hasil pertandingan yang telah disepakati sebelumnya jika ia menang. Mata Emily menyipit menatap tebalnya amplop coklat yang sedang lihat isinya.
"Uang itu untuk apa? ". Gumam Emily.
Menjadi pebisnis sukses ke dua di negeri bisnis tentu tidak sebanding dengan amplop coklat tersebut dan Emily berpikir apa tujuan Lewis melakukan semua ini.
Selesai mengganti pakaiannya, Lewis kembali menarik lengan Emily untuk keluar dari gedung dan mendorongnya masuk ke mobilnya.
"Apa sih tujuanmu melakukan semua ini? ". Kesal Emily yang dicueki Lewis tanpa membalas pertanyaannya.
Mobil Lewis terus melaju kencang dengan suasana sepi menuju sebuah perumahan susun nampak tidak terawat namun dipenuhi oleh banyak anak-anak kecil bermain di halamannya.
" Kak Lewis.. " Melihat mobil mewah Lewis baru terparkir, anak-anak langsung berlari mengerubunginya dengan terus menyebut nama pemilik mobil.
__ADS_1
Dari penglihatan Emily, anak-anak tersebut nampak akrab sekali dengan melihat mobilnya saja ia sudah mengenali pemiliknya.
"Halo semua. " Sapa Lewis pada anak-anak yang nampak bahagia dengan kedatangannya.
"Halo."
"Apa kabar? ".
" Kabar baik kak. " Jawab serempak anak-anak yang jumlahnya ratusan dengan umur sepadan.
"Hari ini aku datang sendiri, melainkan dengan seseorang. Namanya Emily. " Lewis memperkenalkan orang di sampingnya yang terlihat memahami situasinya saat ini.
"Halo kak Emily. "
"Halo." Balas Emily dengan melambaikan tangannya membalas sapaan anak-anak.
"Kak Lewis, ini pacar kakak? ". Lewis dan Emily hanya bisa beradu tatap mendapat pertanyaan dari gadis kecil dengan satu tangan membopong boneka Barbie sedangkan tangan lainnya digunakan untuk menunjuk ke arah Emily.
" Iya, ini pacar kakak. " Balas Lewis dengan lirih sambil melirik Emily yang menatapnya dengan melotot.
"Oke, siapa disini yang mau mainan? ". Tanya Lewis mengalihkan suasana canggung antara dirinya dan Emily yang terus menatapnya tajam.
" Aku. " Semua anak-anak mengacungkan telunjuknya penuh semangat mendengar pertanyaan Lewis.
"Ayo, bantu aku. " Emily mengikuti Lewis yang membuka bagasi belakang penuh dengan mainan.
Dengan bergantian, semua anak kebahagiaan mainan yang memang sudah Lewis persiapkan untuk mereka.
"Terimakasih kak. " Ucap mereka setelah menerima mainan.
Masih dengan berbagai pikiran di kepalanya, Emily kembali mengikuti langkah Lewis masuk ke perumahan untuk menemui sepasang suami istri sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Selamat siang. " Ucap Lewis dengan tangan mengetuk pintu.
"Selamat siang. " Jawab serempak pasangan tersebut dengan langsung memutar kepalanya ke sumber suara.
"Lewis." Panggil perempuan paruh baya yang rambutnya hampir putih keseluruhan.
"Kemari lah." Mendapat ijin masuk membuat Emily dan Lewis mendudukkan dirinya di sofa yang kosong.
"Sudah lama sekali kamu tidak datang kemari. Dan itu siapa? ". Wanita yang biasa dipanggil Mommy Jess ini melihat Emily penuh teliti karena terlihat asing baginya.
" Dia adalah Emily. " Emily yang merasa dirinya dikenalkan oleh Lewis menundukkan kepalanya sebagai salam hormat.
"Pacar? ". Tanya laki-laki sebelah Mommy Jess yang bisa disebut Puppy Darwin.
"Tidak." Jawab Emily cepat takut jika Lewis berbohong lagi mengenai hubungannya.
"Aku kira kamu sudah menemukan cintamu. " Lanjut Darwin yang menunjukkan senyumannya pada wajah keriputnya.
"Dia memang sudah menemukan cintanya. " Ujar Jessi membuat Emily menautkan aslinya. Tidak percaya jika Lewis telah menemukan cintanya padahal Emily tahu bahwa Lewis sangat sulit melakukan hal tersebut.
"Apakah tertulis di wajahku? ". Tanya Lewis yang menunjuk penuh wajahnya.
" Iya, aku melihatnya. " Jessi mencubit lengan kekar Lewis
"Berarti aku tidak pandai berakting di depan mu Mommy. "
Ucapan Lewis membuat semuanya tertawa lepas kecuali Emily yang hanya sedikit menarik bibirnya karena tidak tahu maksud dari pembicaraan ini.
💙💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
__ADS_1
Terimakasih
Love you❤