
..."Aku rasa saat ini musim sedang berganti. "...
...Allen Dawson...
Membuka ruangan yang pintunya saja berdebu, Emily menyalakan lampu untuk memberi pencahayaan ruangan yang sangat luas namun gelap karena sangat tertutup.
"Luas sekali. " Gumam Emily menjelajahi berbagai elemen yang menghiasi tempat di desain elegan. Hanya saja sudah tidak terawat, jadi banyak debu yang menghiasi.
Mata Emily tertarik dengan bingkai gambar tiga orang berpose bahagia. Dari ketiga orang tersebut Emily lebih tertarik dengan gambar sosok wanita sendiri dari dua diantaranya.
" Mama mertua?. " Ini adalah kali pertama Emily melihat orang yang telah melahirkan suaminya. Dari penglihatan yang Emily tangkap, sosok Allen lebih mirip Mama nya daripada Dawson.
Sorot kebahagiaan dari kedua orang di foto terlihat jelas, namun berbeda dengan laki-laki yang tegap berdiri menampilkan senyuman dipaksakan.
Setelah mengembalikan kembali bingkai foto, mata Emily kembali tertarik dengan buku catatan warna hitam berjejeran bersama buku lainnya.
"Ini buku diary Mama?. " Meniup debu yang menandakan jika buku tersebut sudah lama tidak pernah disentuh, Emily membuka awal buku dengan hati-hati.
Dear diary
Kebahagiaan, iya.
Aku menggenggamnya detik ini.
Dilengkapi dengan dua sosok pemilik cinta
Tertawa selalu terngiang di setiap detak jarum jam
Hingga aku terbuai di dalamnya.
Dunia memang benar
Tidak ada yang sempurna
Lalu mengapa aku berharap seperti itu?
Dalam detik berikutnya
Semuanya berputar
Genggamanku lari dari tangan
Menuju ke tempat yang lebih menyamankan
__ADS_1
Dan di detik itu pula
Aku menyerah kalah
Lebih memilih pergi tanpa menggenggam apapun.
Angelina
"Apakah ini cerita tentang hubungan mereka?. " Belum sepenuhnya Emily percaya bahwa Lewis benar-benar memanfaatkan dirinya untuk balas dendam. Hatinya tidak bisa menerima jika cintanya kembali mengkhianatinya.
Di bagian selanjutnya Angelina juga menuliskan sebuah kata-kata ungkapan perasaannya.
Fany Lauren. Bukan hanya sebuah nama yang biasa, namun secantik wajahnya saat pertama kali kita bertemu di sebuah forum kecantikan.
Apakah kamu masih ingat saat itu kita dipertemukan Tuhan dengan cara yang tidak biasa? Hingga kita menjadi teman dekat.
Dengan terencana aku memperkenalkan suamiku dan disitu aku terlihat seperti orang bodoh di dunia. Kamu lebih mengenal jauh tentang suamiku daripada aku istrinya.
Kamu adalah orang yang namanya masih terukir indah di hati orang yang statusnya milikku. Dengan alasan perjodohan kalian dipisahkan dan dengan melalui ku kalian kembali dekat.
Sungguh menyedihkan bukan? Dunia sedang menertawakan ku Fany. Salah atau benar aku sudah tidak bisa melihatnya. Yang aku lihat hanyalah kebahagiaan suamiku ketika baru pulang menemui mu.
Kau tahu Fany? Aku tak kuat menahan semua itu. Meski aku sudah berusaha menutup mata dan telingaku agar bisa menerima kenyataan bahwa suamiku sedang berselingkuh dibelakang ku. Hingga aku mengijinkan suamiku membawamu pulang bersama anak yang baru lahir hasil buah cinta kalian.
Jika saja kamu membaca buku ini, tolong jagalah semua yang ada di rumah ini termasuk anakku Allen Dawson. Rawatlah dia seperti kamu merawat putramu. Berikan kasih sayang sepenuhnya.
Salam sayang
Angelina
''Mama menulis surat untuk Mama Fany sebelum ia mengakhiri hidupnya?. " Batin Emily setelah selesai membaca isi buku tersebut.
"Sedangkan apa kamu disini?. " Suara berat mengagetkan Emily yang sedang melamun.
"Mas Allen?. " Emily dengan cepat memutar tubuhnya dan menyembunyikan buku yang ia genggam ke belakang punggungnya agar tidak bisa dijangkau suaminya.
"Apa yang kamu lakukan disini?. " Ulang pertanyaan Allen dengan penuh selidik.
Allen sendiri tidak pernah masuk ke kamar Mama nya karena ia akan merasa sedih jika harus berada di sini. Namun, ketika ia berjalan keluar kamar melihat pintu kamar Mama nya yang tidak pernah terbuka membuka sedikit. Jadi, Allen mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Dan benar saja, istrinya sedang ada di dalam ruangan yang bertahun-tahun tidak berpenghuni.
"A-aku mau membersihkan ruangan iki Mas, ini sudah sangat kotor. " Bohong Emily.
Niatan awal Emily datang ke kamar mertuanya adalah mencari kebenaran yang Fany ucapkan karena ia tidak mungkin bertanya kepada Dawson dan suaminya pastinya tidak akan tahu semuanya. Oleh karena itu, ia mencoba mendapatkan keberuntungannya dengan masuk ke kamar ini meski ia harus berbohong kepada kepala pelayan yang memegang kunci.
__ADS_1
Dari sudut pandang Allen kamar Mama nya tidak ada yang berubah, hanya saja debu-debu memenuhi segala tempat hingga ia merasa sesak di dalamnya.
"Bolehkan Mas aku membersihkannya?. " Ulang Emily lagi pada orang yang masih menelusuri ruangan dengan matanya.
"Baiklah, aku akan membantu mu. " Ujar Allen menyetujui permintaan Emily. Karena seharusnya ia menjaga tempat terakhir Mamanya berada sebagai kenang-kenangan.
"Aku ambil peralatannya dulu Mas. " Dengan alasan tersebut, Emily menyimpan buku Angelina di dalam lemarinya yang ia rasa aman untuk tidak dijangkau suaminya.
"Ini Mas. " Emily menyodorkan beberapa alat kebersihan ke suaminya setelah ia mengambilnya dari tempat penyimpanan.
"Kita mulai dari mana Mas?. "
"Lebih baik kita bersihkan dulu debu-debu nya. "
Emily dan Allen membersihan seluruh kamar besar Angelina berdua saja. Karena Allen tidak mau ambil resiko jika harus menanggung kerusakan barang-barang orang yang ia sayangi.
Menaiki kursi untuk mengambil yang tidak bisa ia jangkau, Emily mengayuh bingkai gambar pemilik kamar ini. Namun, naas saat tingginya tidak terjangkau dirinya, Emily meloncat dan akhirnya kakinya terpeleset .
"Emily." Secepat mungkin Allen berlari kearah istrinya yang sudah diambang kursi.
Emily yang pasrah hanya memejamkan matanya. Namun ternyata suaminya mampu menangkap tubuhnya hingga ia jatuh di atas tubuh suaminya tanpa harus merasakan sakitnya lantai.
"Mas Allen gak sakit?. " Emily mengambil tubuhnya yang menumpu tubuh suaminya .
"Enggak." Allen membersihkan bajunya yang kotor karena debu di lantai.
Namun, tangannya yang kotor telah salah memegang di matanya hingga membuat matanya sulit untuk ia buka karena ada kotoran yang masuk.
"Mas, tanganmu kotor. Jangan pegang lagi! " Titah Emily menghalangi tangan Allen mengucek matanya.
"Biarkan aku meniupnya. " Emily yang tubuhnya lebih pendek dari suaminya harus sedikit berjinjit untuk sampai ke mata yang terpejam.
Kedua tangan Emily membuka mata Allen dan dengan perlahan ia meniupkan udara ke sana agar kotorannya bisa hilang.
Berdekatan seperti ini ternyata tidak membuat Allen merasa tenang, dengan diam-diam ia memperhatikan istrinya dalam kedekatan yang maksimal.
"Aku rasa saat ini musim sedang berganti. " Gumam Allen dengan menikmati hembusan udara dari istrinya.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
__ADS_1
Love you❤